117 waktu

Pagi tadi menjumpai sebaris kalimat yang menggelitik, “People want more time, then ‘kill time’”. Iya ya, aku sering mengeluh tentang waktu. Ketika merasa kekurangan atau kehabisan waktu, ketika merasa membuang-buang waktu, ataupun sebaliknya ketika musti menunggu atau menghabiskan waktu. Namun dalam menjalaninya, jarang memanfaatkan dan memaknainya.
Kadang terlalu banyak memikirkan kejadian yang telah lalu. Jadi ingat cerita tentang dua orang biksu. Mereka sedang berjalan menyusuri sungai dan melihat seorang wanita tua yang ingin menyeberang sungai, tapi kesulitan. Wanita tua itu meminta bantuan mereka untuk membantu menyeberang. Salah seorang biksu segera menggendong wanita tua di punggungnya dan berjalan menyeberangi sungai. Ketika tiba di seberang sungai, wanita tua itu turun lalu mengomel panjang pendek. Karena bajunya basah, karena si biksu jalannya terlalu lama, karena sempat merasa hampir jatuh, dan sebagainya. Ia tidak berterima kasih pada biksu yang sudah menolongnya menyeberang, sesuai permintaannya, lantas pergi begitu saja. Kedua biksu melanjutkan perjalanan mereka. Setelah cukup lama berjalan kembali, biksu yang menolong wanita itu tiba-tiba mengatakan bahwa ia tidak mengerti mengapa wanita tua yang telah ia tolong begitu marah dan tidak berterimakasih. Biksu yang lain kemudian mengatakan, “Kamu menggotong wanita tua itu beberapa jam yang lalu. Mengapa kamu masih menggotong dia?”
ini sering sekali aku lakukan. Tanpa sadar membawa situasi di kepala, meski kejadiannya sudah lewat. Banyak pemikiran ‘gimana kalau..’, banyak adegan terulang, atau rasa yang muncul. Padahal sudah tidak relevan dengan situasi saat ini.
Kadang lainnya terkait hari esok. Banyak waktu dihabiskan untuk memikirkan hal yang akan terjadi di depan, karena khawatir dan merasa perlu punya pegangan, punya kontrol. Padahal tidak ada yang dapat memastikan waktu yang akan datang itu seperti apa.
Kadang yang selanjutnya adalah terhenti di saat ini, mati gaya kalo istilah sekarang sih. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga waktu berjalan begitu saja.
Mungkin kuncinya pada pemanfaatan atau pemaknaan itu. Menyadari waktu, bukan secara harafiah, tapi dengan melakukan segala sesuatu dengan sungguh dan utuh, sehingga yang terasa adalah penuh dan puas. Dan waktu, yang dimiliki saat ini menjadi lebih berharga..
Photo by Eugene Shelestov: https://www.pexels.com/photo/person-holding-burning-paper-in-dark-room-33930/
Komentar (3)
Keren kak Ine tulisannya... Bener banget ini
setuju dengan Kak andy! Saya suka sekali dengan tulisan ini. Terimakasih kak Ine sudah berbagi.
Sama-sama, terima kasih @kak-andy , @joefelus :)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES269 Bergegas Mengikuti Perubahan
Pandemi menghadirkan disrupsi, padahal roda perubahan sudah berdekade lamanya bergulir sangat cepat. Demikian cepatnya sehingga sulit bagi manusia untuk memahami dan memaknai perubahan yang ada. Karenanya apa yang dihasilkan perubahan ini adalah kekacauan demi kekacauan, karena manusia gagal memaha…

AES071 Pecahan Detik
Aku percaya ini bukan ilusiku semata, bahwa pemandu dalam diri itu benar adanya. Suara dari dalam yang terdengar, selalu lebih dulu daripada hasil cerna pikiranku. Meski tak seruoa suara yang kedengaran, tapi bergema di tempat sumber suara dan gaungnya bermula pada pusat dada di mana hati berada. K…

AES178 Tentang Waktu
Sore ini aku ikut dengan beberapa kakak menulis bareng. Seperti biasa, mulai dengan bingung bersama, lalu digagas untuk membuka ririungan dan membaca postingan terkini. Tak pelak, bahwa pak Jo saat ini berada di posisi minus 3 menuju 1000 membuat semua terkejut. “Waah berarti sudah menulis selama 3…



