AES 054 PERSIB: Panem et Circenses (Obat Bius Penguasa)? atau Kultur Perlawanan dan Persatuan Rakyat?

Panem et circenses atau bread and circuses dalam bahasa Inggris sering mengacu kepada istilah politik di mana penguasa menggunakan makanan dan tontonan untuk membius dan menjinakan rakyat agar tidak melawan. Banyak yang menunjuk hiburan modern sebagai salah satunya, di mana rakyat sengaja dibiarkan berhura-hura melupakan segala masalah yang terjadi di lingkungannya.
Namun, sepak bola sering menjadi pengecualian. Tidak sedikit pendukung sepak bola menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di suatu negara dengan tifo, spanduk, atau chants ketika pertandingan sedang berlangsung. Ketika federasi internasional mengatakan politik harus dipisahkan dari olahraga, para fans tidak peduli karena federasinya pun sering tebang pilih ketika memberikan sanksi berbau politik terhadap suatu klub atau negara.
Yang paling dekat terjadi di Bandung. Seorang penguasa yang populis dan punya banyak pendukung garis keras mencoba menarik simpati penggemar Persib, atau biasa disebut Bobotoh, untuk menjustifikasi keputusannya merombak cagar budaya ikonik di Bandung. Ia mengatakan salah satu alasannya adalah untuk mengakomodasi perayaan ketika Persib menjadi juara nanti.
Penguasa ini sering sekali kebal terhadap kritik, seorang akademisi bergelar guru besar pun bisa habis dihujat oleh pendukung penguasa ini ketika memberikan kritik. Namun, apa yang terjadi dengan Bobotoh? Mereka tidak ragu untuk membentangkan spanduk bertuliskan “Shut Up” karena mereka tahu si penguasa ini hanya menjadikan Bobotoh sebagai alat politik untuk memuluskan keinginannya.
Mungkin si penguasa ini lupa, Persib sudah menjadi bukan hanya sekadar hiburan di Bandung. Ia menjelma menjadi kultur yang mengakar kuat dari akar rumput gang-gang kecil sampai ke apartemen bertingkat. Seorang pekerja kantoran yang sedang mengendarai motor tidak ragu untuk berhenti sejenak melihat skor sementara pertandingan Persib di pangkalan ojek pinggir jalan. Ekonomi berputar ketika Maung Bandung sedang beraksi, cafe-cafe dan warung kopi ramai dengan nobar, UMKM merchandise Persib dan pedagang kaki lima laris manis oleh pembeli yang datang dan keluar dari stadion. Tidak ada siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih pintar, dan siapa yang lebih berkuasa ketika menyaksikan Pangeran Biru menari di lapangan. Semua menjadi setara: Bobotoh Persib.
Bobotoh seakan sedang mengajarkan kepada warga Indonesia bagaimana cara mencintai sesuatu dengan tulus namun tidak terbutakan cinta. Mereka tidak akan berhenti mencintai Persib (Indonesia) bahkan ketika timnya (negaranya) terdegradasi (terpuruk) sekalipun. Namun, mereka tidak akan ragu menjaga sesama Bobotoh (rakyat) untuk tertib tidak melanggar aturan, juga menekan dan mengkritik keras manajemen (pemerintah) untuk mengevaluasi tim kebanggaan (tanah air) mereka agar selalu menjadi juara (adil dan beradab).
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 053 Pungli
Judul tulisan ini merupakan kata yang sebetulnya sangat negatif, namun menjadi lumrah di negara kita, khususnya di kalangan yang bekerja di pemerintahan. Bahkan ada sebutan bahwa pungli ini adalah budaya Timur. Saya pun belum menindaklanjuti sebutan ini dengan riset yang lebih dalam. Apakah betul p…
maulrest10
AES 052 God Works in a Mysterious Way: MGMP Guru Bahasa Inggris
Hari Rabu tanggal 29 Oktober, seharusnya saya dan satu rekan guru bahasa Inggris di sekolah mengikuti kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Cileunyi. Namun Kepala Sekolah memutuskan cukup satu guru saja yang mewakili dan akhirnya guru yang lebih senior lah yang diputuskan berangkat. Wal…
maulrest22
AES 051 Helping Myself Before Everyone (A Reflection on Bo Burnham's Works)
Recently, I watched Bo Burnham’s magnificent works. “Eighth Grade”, a movie that tells the story of a girl who wants to be a cool girl and be accepted by her peers. “Inside” is a stand-up comedy special, which, to me, is really special and different compared to other stand-up comedy acts. In the “E…
maulrest12