AtomicEssay

AES 06 Melintasi Zona Nyaman

Arief Djatipenulis arsip2
Dalam hitungan waktu, rasanya sudah lebih dari 12 tahun saya tinggal sebagai warga Bandung (dan kemudian Cimahi). Walaupun sudah cukup lama, sayangnya sampai hari ini ruang jelajah di kota ini tidak terlalu luas. Palingan hanya di sekitar tengah kota, paling jauh daerah Cikadut, Kopo, Batu Nunggal,  Sersan Bajuri atau Lembang. Banyak tempat lain, seperti Pagarsih, Cigondewa atau daerah Cicalengka, konon tempat Bung Karno bertemu dengan petani Marhaen --  yang kemudian dijadikan nama ideologi Partai Nasional Indonesia (PNI), Marhaenisme.  Daerah-daerah yang jarang atau tidak pernah saya kunjungi itu menjadi "daerah asing" bagi saya. Kalau diminta ke sana, rasanya ogah-ogahan. Kalaupun terpaksa, maka saya pasti menggunakan bantuan Google Maps atau aplikasi perpetaan yang lain. Dulu, waktu awal-awal di Bandung, ketika Android belum ada, saya membeli peta Bandung yang lumayan lengkap. Dengan peta ini, saya bisa tahu arah dari, misalkan, jalan Soka menuju jalan Mars atau Sukahaji.   Daerah yang lebih saya kenal hanya sekitaran jalan Riau. Saya cukup kenal dengan lika liku jalannya, terutama shortcut maupun tembusan-tembusannya. Daerah-daerah ini seperti zona nyaman buat saya. Nyaman karena saya tinggal di sekitaran situ, cukup kenal dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, cukup kenal dengan bangunan, pepohonan maupun situasi di sekelilingnya.  Zona nyaman ini juga berubah seturut dengan kepindahan kami di daerah Cimahi. Di sini zona nyamannya berada di daerah Sarijadi, Perintis, Sukamanis, daerah Sarimadu dan Cibogo. Banyak tempat, rumah makan atau toko yang sering dikunjungi sehingga cukup akrab dengan suasana di sekitarnya. Beberapa hari yang lalu, lantaran kegiatan anak, mau tak mau saya harus meninggalkan zona nyaman itu. Beberapa hari yang lalu, setelah sekian bulan latihan, dengan semangat yang naik turun, godaan dan halangan yang datang bertubi-tubi, akhirnya anak-anak itu hendak mementaskan dramanya di daerah yang jauh dalam bayangan saya. Memang masih di Bandung, tetapi sampai sekian tahun ini, saya belum pernah ke tempat itu. Secara jarak, memang hanya sekitar 12 Km. Tapi karena belum pernah ke sana dan belum tahu situasi di sana, maka lokasi itu masih "asing". Bukan zona nyaman saya.  Mungkin karena bukan zona nyaman itu, saya sempat menggerutui pilihan anak saya dan teman-temannya. Sempat mempertanyakan mengapa mereka tidak memilih gedung yang dekat dengan tempat kita, mengapa tidak begini dan begitu. Pendeknya berusaha menganulir keputusan mereka semua. Namun, dengan penjelasan yang masuk akal, dia menjelaskan berbagai alasan pemilihan tempat tersebut. Alasan yang tepat. Mau tidak mau saya menyerah.  Dengan bantuan Google dan panduan anak saya, sesudah melintasi jalan sempit dan "benteng Berlin" bikinan pengembang yang berlika-liku, kami memasuki jalanan menuju gedung tempat latihan pamungkas anak saya. Dengan dibumbui kemacetan dan kepadatan sepanjang jalan, kami sampai ke tempat itu. Pulangnya, dengan Google Maps, dan volume yang lebih dikencangkan, saya coba kembali ke rumah. Dengan jalan terbata-bata, tengok kanan kiri, mengamati dan mendengarkan arahan pembaca peta,  saya berusaha menembus kemacetan dan kepadatan lalulintas kota Bandung. Syukur sampai dengan selamat walaupun sering diklakson kanan kiri karena berjalan dengan pelan. Dan begitulah, sampai acara tuntas di malam berikutnya,  saya tetap mengandalkan bantuan teknologi untuk menuju "daerah asing" itu . Dan, sesudah beberapa kali, daerah asing itu menjadi zona nyaman yang baru bagi saya. 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 005- One Piece

Pernah dengar One Piece? Topi Jerami? Luffy? Kalau pernah dengar, maka anda-anda sepertinya para pembaca manga -- komik Jepang -- yang (rajin). Lalu apa menariknya cerita One Piece itu sendiri? Manga buatan Eiichiro Oda itu bercerita tentang ambisi dan cita-cita anak kecil yang bernama Monkey D. Lu…

Arief Djati00
AtomicEssay

AES 04 - Bu Soem

Saya sebetulnya tidak mengenalnya dengan dekat. Tidak kenal dalam arti tidak tahu persis namanya, tidak tahu persis rumahnya dan bagaimana keluarganya. Yang pasti kami sama² tahu, dia tahu kenapa saya kesitu, apa urusannya dan seterusnya. Kalau berpapasan, biasanya kami lempar senyum dan bertegur s…

Arief Djati101
AtomicEssay

AES 03 - Si Celepuk

Dalam kabut yang memendung pagi tadi, sewaktu berjalan-jalan dengan si Fluffy, anjing kecil kami, campuran Shih Tzu dan Pudel, tiba² saya memperhatikan sesuatu, entah binatang apa, yang lagi berdiri di pinggiran jalan. Dia diam. Tidak bergerak melihat kami. Anjing kecilku juga tidak memberikan reak…

Arief Djati00