AES #1 Emak-Emak Ngegas

Belakangan ini hadir tontonan yang tidak bermutu di tengah kita: emak-emak ngegas. Perilaku tersebut bukan saja ‘tak biasa’. Tetapi juga tak pantas. Emak-emak ngegas memperlihatkan kekasaran verbal maupun non verbal, disertai tindak-tanduk atau gesture yang emosional. Kekasaran tidak saja mewujud dalam intonasi keras, namun sampai bawa-bawa nama hewan sebagai bahan makian. Yang mengherankan, insiden ini tampaknya jadi tren di kalangan emak-emak. Tinggal soal waktu saja pelakunya tertangkap kamera, lantas viral, dan akhirnya menyisakan jejak digital yang tak bakal terhapus lewat video pengakuan dosa dan permintaan maaf.
KAREN, EMAK-EMAK MASA KINI
Situasi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di media digital, video emak-emak ngegas juga bertebaran dalam berbagai situasi di luar negeri. Ada yang marah-marah karena merasa tidak dilayani. Atau, bikin perkara karena menolak antri di depan kasir. Ada yang parkir sembarangan menutupi jalur orang lain. Atau, menolak bermasker di ruang publik. Hal yang sebenarnya sederhana saja, seperti antri, memperbaiki posisi parkir, atau pakai masker sesuai prokes, tidak mau dilaksanakan. Alasannya macam-macam, mulai dari daruratlah, hak konsumen-lah, sampai bawa-bawa hak asasi manusia untuk membenarkan perilakunya. Ngeselin, kan?
‘Keukeuh’nya emak-emak ngegas menuai konsekuensi besar. Yang menjajah lokasi parkir, akhirnya ‘dikerjai’ mobilnya, seperti ditempeli stiker seluruh body-nya, atau ganti dihalangi lajur parkirnya. Yang tidak mau antri, dikeluarkan karena bikin rusuh di tengah pelanggan yang berdisiplin. Bagaimana dengan yang menolak bermasker? Tidak dilayani, disuruh keluar toko, dipanggilkan sekuriti. Yang bikin ulah semacam ini di pesawat, diturunkan dengan semua bagasinya karena beresiko bagi keselamatan seluruh penumpang. Sekuriti bandara bahkan bergeming ketika akhirnya emak-emak ngegas itu mau bermasker. Apes, rugi bandar.
Perempuan-perempuan ini dilabeli ‘Karen’. Ini bukan nama orang, melainkan sekelompok perempuan tengah baya, dengan ciri psikologis maupun demografis serupa. Yaitu, berasal dari kelas menengah ke atas, terhubung dengan alat komunikasi, dan bermedia sosial secara aktif. Umumnya berkeluarga, talkative alias doyan ngomong dan suka berdebat. Mereka mengikuti berita, update dengan tren terkini, tegas dan mandiri. Kualitas terakhir ini sebenarnya kepribadian yang bagus. Tapi, ketika kadarnya berlebihan, begitulah jadinya. Ciri khas Karen lainnya, ‘kalau merasa nggak sesuai dengan maunya, langsung minta ketemu sama manager toko’.
Menurut pakar, Karen-Karen ini cenderung punya mindset individualistik, tidak suka diberitahu apa yang selayaknya dilakukan, serta ‘entitlement’. Entitlement itu merasa punya hak dan bisa menuntut ini-itu, tentu saja dari perspektifnya sendiri tanpa menimbang kepentingan orang lain.
Karen adalah emak-emak ngegas kita. Tipikalnya sama. Tingkat ekonominya lumayan, terkoneksi dengan media digital secara intens. Tahu cara kerja media daring, karena kerap sengaja menantang untuk diviralkan, bahkan setelah diingatkan baik-baik. Secara psikologis merasa punya power, apakah karena kedudukannya di tengah keluarga, mengisi posisi tertentu di ruang publik (aktivis RT juga posisi yang signifikan!), atau karena eksis di media sosial. Busana yang dipakai memperlihatkan bahwa Karen domestik ini memahami batas-batas ruang privat dan ruang publik. Selain itu, ‘tidak kuper’ alias ‘gaul’.
MENGEMBALIKAN NORMA SOSIAL
Kelakuan emak-emak ngegas ini awalnya viral karena mengejutkan. Selanjutnya, jadi bahan cemoohan dan bully-an netijen. Eh, belakangan malah dikemas jadi aksi lucu-lucuan seperti meme, video, stiker, GIF, dan entah apa lagi. Tentu saja, semua ini tidak ada positifnya sama sekali. Minta maaf lewat video? Bukannya jadi ajang memaafkan, malah jadi ruang penghakiman dan perisakan lanjutan. Demikianlah nasib emak-emak ngegas, yang jejak digitalnya tersimpan selamanya. Reputasi pribadi, bahkan keluarga, ternoda seumur-umur.
Mengatasi hal ini tidak cukup dengan video permintaan maaf, atau materai 6 ribu. Literasi digital kepada emak-emak menjadi sangat urgen, dan perlu diwujudkan dalam tips praktis sehari-hari. Apa yang bisa dilakukan oleh publik? Warga di lingkar terdekat sepatutnya menjadi pendamping, pendidik, penjaga ‘moralitas digital’ dan pemelihara norma-norma sosial. Warga jangan cuma bisa nge-share sambil menertawakan, lantas rame-rame menghakimi. Yang terpenting adalah saling mengingatkan, agar kejadian seperti ini tidak muncul di lingkungan terdekat.
Viralnya video emak-emak ngegas bukan hanya tren negatif. Lebih dari itu, terlihat gejala naturalisasi atau mengalamiahkan perilaku tersebut menjadi sesuatu yang sehari-hari, wajar-wajar saja, dan tanpa sadar akhirnya diterima menjadi norma baru. Ini mencemaskan, dan harus kita lawan bersama-sama!
So, kurangi peredaran video semacam ini. Hentikan konsumsi materi emak-emak ngegas di berbagai platform digital. Tontonan seperti ini bukan saja tidak lucu, tapi juga tidak bermutu. Yuk, mari sama-sama bantu tertibkan emak-emak ngegas!
Sumber gambar: https://www.amazon.com/KAREN-Created-Funny-Pullover-Hoodie/dp/B081KGFT3B
Komentar (3)
Waah selamat buat posting pertamanya. Dan nuhun sdh meramaikan ruang penulisan kolektif ini... ditunggu postingam berikutnya...
Asik ada bu Santi.. :) duh kenapa ya ini.. dulu mah emak-emak nyupir ya bu yang pasang sein kiri, beloknya kanan.. bikin orang gampang nuduh "pasti emak2 tuh yang nyupir" kalo ada mobil yang jalannya ngawur.. =D
Wah selamat Bu Santi! Tidak sabar menunggu essay ke-2 :)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES#07 Daddy 1
Daddy... yaitulah panggilan kepada Alm ayahku, yang sudah meninggalkan kami sekeluarga sejak 2009 lalu.... Sejak saya berumur 10 tahun, beliau bertugas diluar kota, hanya kembali untuk berkumpul bersama keluarga di akhir pekan saja,rata-rata kembali sampai rumah Jumat sore, dan Senin subuh sudah be…

AES#3 Rumah Belajar SemiPalar sekolah yang tepat.....
Diawal anakku yang besar sudah waktunya masuk sekolah, di tahun 2007, saya ketemu ka Andy, yang menceritakan bahwa saat itu bergerak di bidang pendidikan yang ternyata merupakan sebuah Rumah Belajar SemiPalar, saat itu SemiPalar baru berusia 3 tahun…. Saat itu lokasinya berada di Jl. Terusan Karang…

AES#2 Tidak pernah terlambat…
Tidak pernah terlambat… Pada suatu waktu, ditengah kondisi pandemik seperti ini, semua semakin tidak jelas keadaan kedepannya… Pada saat sedang berpikir & merenung, apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bagaimana mendapatkan uang ?? Bukan untuk foya-foya / berlibur, han…




