AES 1034 Being Me

Semalam menjelang tidur sambil menunggu kantuk, saya berbaring sambil menyaksikan berbagai unggahan di telepon pintar saya. Salah satu unggahan yang saya lihat adalah sebuah kompetisi bakat dan salah satu kontestan yang hadir memiliki keterbatasan berbicara. Dia gagap jika berbicara tapi ketika memperkenalkan diri, dia mengatakan gagapnya hilang jika menyanyi. Lalu dia menyanyikan sebuah lagu yang dia ciptakan sendiri yang isinya pada dasarnya jika dia diberi pilihan untuk mengubah masa lalu, dia memilih untuk tetap mempertahankannya, sebab katanya jika dia mengubah masa lalu, maka saat ini dia akan menjadi bukan dia lagi, melainkan menjadi orang lain.
Nah sesudah saya menonton, perkataan yang disampaikan oleh gadis kontestan itu melekat pada pikiran saya terus menerus. Kontestan tadi menurut pendapat saya sudah dapat menerima diri apa adanya, dia menerima kondisi dirinya. Ini bukan merupakan perjalanan hidup yang biasa apalagi melihat bahwa dia masih sangat belia. Bukan main!
Coba kita tanyakan pada orang-orang di sekitar kita, kebanyakan yang ditanya akan menyebutkan perubahan apa saja yang mereka akan pilih jika diberi kesempatan untuk mengubah masa lalu. Kebanyakan akan memilih untuk menjadi lebih baik, mengoreksi tindakan-tindakan salah atau kurang tepat di masa lalu dan sebagainya. Mereka semua tentunya tidak memikirkan jika masa lalu diubah, maka masa kini akan berbeda. Begitu bukan?
Seperti di film-film fiksi ilmiah yang bertemakan perjalanan waktu, topiknya tidak jauh dari masalah sebab dan akibat bila kita mengubah masa waktu. Jangankan mengubah, jika kita mengetahui informasi yang akurat akan masa depan saja akan mengubah pilihan serta akan berakibat berubahnya masa dean. Tema semacam itu banyak diangkat oleh film-film fiksi ilmiah.
Pertanyaan yang sama saya hadapkan pada diri sendiri dan saya memikirkannya sepanjang malam sampai akhirnya tertidur. Apa yang saya pikirkan saat itu? Saya banyak melakukan kesalahan, banyak hal yang saya akhirnya sesali bahwa telah melakukan banyak hal yang jika dengan seksama saya pikirkan ulang sebetulnya bukan keputusan yang tepat. Tapi kemudian saya simpulkan bahwa keputusan-keputusan itu memang seharusnya terjadi karena tanpa itu saya tidak akan pernah belajar dan membentuk diri hingga menjadi saya sekarang ini. Nah jadi jika saya diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, kemungkinan besar saya akan memilih melakukan hal yang sama karena segala sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu adalah bagian dari diri saya.
foto credit: growthengineering.co.uk
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31