AES 1037 Otentik

"Hey Dad, do you use flour when you make Nasi Goreng?" Tanya Kano ketika saya tiba di tempat kerjanya.
"No, why?" Kata saya keheranan
"Hahahaha... I knew it." Kata Kano lagi
Pada saat yang sama salah satu chef di situ mengambil sebuah map bersisi berkas-berkas lalu mengambil selembar dan menunjukkannya pada saya. Di lembar kertas itu ada daftar bahan untuk membuat nasi goreng dan di paling bawah tertulis 1 pound tepung terigu.
"Whaaaat?" Teriak saya terkejut.
"I don't know, Man! That's the recipe I got." Kata chef itu sambil bercerita bahwa besok executive chef bersama beberapa chef lain akan menguji coba resep itu.
Dalam perjalanan pulang saya dan Kano banyak berdiskusi. Kano mengusulkan agar saya memberitahu chef soal resep yang aneh itu. Tapi saya katakan, itu bukan tempat saya untuk ikut campur. Dalam pekerjaan ada garis yang jelas dimana saya harus berada dan tidak bisa seenaknya saja menyeberang. Kalau saya dimintai pendapat, maka saya akan menyampaikan pandangan saya, tapi jika tidak, itu bukan domain saya yang bisa seenaknya urun rembuk. Hidup itu tidak beda dengan bermain peran. Dalam setiap peran memiliki keunikan masing-masing dan interaksi antar peran juga ada aturannya.
"I don't want to step on somebody else's toe!" Kata saya akhirnya.
Sesungguhnya jika kita ingin memperkenalkan budaya dan kebiasaan masyarakat tertentu, menurut saya, memang sebaiknya harus seotentik mungkin. Kita tidak bisa sesuka hati kita sendiri untuk mereka-reka dan memperkenalkan hal yang kurang tepat. Itu menurut saya, tapi sekali lagi, saya tidak dimintai pendapat maka saya harus dapat dengan bijak bersikap. Beberapa waktu yang lalu memang saya diminta untuk menyampaikan beberapa masukan, dan itu sudah saya lakukan. Jika memang masukan saya terlalu sulit untuk diterapkan, ya itu kebijakan mereka yang bertanggung jawab. Tapi alangkah lebih baiknya jika yang diperkenalkan adalah sesuatu yang tepat dan otentik.
Contoh lain misalnya kita memperkenalkan makanan Vietnam. Ada roti lapis yang dikenal dengan Bahn Mi. Itu adalah roti ala Perancis (French bread) yang bagian luarnya begitu crusty tapi dibagian dalamnya lembut. Lalu roti itu dibelah sedikit dan di beri isian seperti Pate, yaitu daging yang dihaluskan sehingga bisa dijadikan spread, lalu ada daging yang diiris tipis, bisa berbagai jenis daging atau juga jika tidak makan daging maka bisa juga menggunkan tahu. Lalu ada acar sayuran yang biasanya merupakan irisan wortel dan daikon, lalu daun selada dan daun ketumbar. Nah itu yang otentik. Nah, french bread itu memang di daerah tertentu sulit diperoleh, maka ada yang menggunakan roti biasa seperti misalnya roti hoagie. Ya beda teksturnya dan bagi yang tidak pernah mengeal Banh Mi, ya mereka tidak akan tahu, tapi jika sudah mengenal Banh Mi, tentu saja akan lebih menyukai yang otentik, yang aslinya.
Saya orangnya selalu menginginkan hal-hal yang asli, yang otentik karena jika tidak, maka pengalaman yang saya hadapi tidak terlalu memuaskan. Jika saya ingin gumbo atau jambalaya, maka saya akan berusaha merasakan yang asli, oleh sebab itu ketika pergi ke New Orleans, saya tidak melewatkan kesempatan itu. Ketika saya ingin merasakan barbeque yang asli, saya makan di restoran yang sesungguhnya, bukan yang abal-abal. Seingat saya pernah satu kali saya bercerita ketika berusaha mencoba Bbq yang asli. Namanya Arthur Bryan. Ini katanya salah satu bbq terkenal di Kansas City. Saya pergi ke sana. Berada di daerah terpencil diantara pabrik-pabrik. Restoran itu ramai sekali, tapi begitu saya masuk, tiba-tiba semua berhenti berbicara dan sepi. Begitu saya lirik ke kiri dan ke kanan, semuanya adalah orang berkulit hitam yang sedang makan. Saya satu-satunya yang berkulit kuning. Seram bukan? Ya itu salah satu pengalaman saya yang seru hahahaha...
"Maybe he will use the flour for the meat." Kata saya kepada Kano ketika kami tiba di rumah. Seringkali daging yang akan kita masak dilumuri dulu dengan tepung. Chinese food biasanya begitu, sehingga daging yang dimasak kemudian memberikan efek dan penampilan yang bagus karena menjadi agak berkilat warnanya. Tujuannya agar meng-carmelize daging itu sehingga memberikan warna dan rasa yang baik. Nah mungkin tepung terigu itu digunakan untuk daging.
"Kita lihat saja besok, No." Kata saya lagi.
"Yea.. will see." Kata Kano sambil beranjak ke atas untuk mandi. Saya juga akan beristirahat karena hari ini lumayan melelahkan.
Foto credit: sweeneysblog.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11