AES 1131 Thank You, Dad!

Menjelang pukul 11 malam. Tubuh saya sudah kembali segar sesudah mandi air hangat. Saya memutuskan untuk beristirahat dan mulai lagi besok pagi. Besok dan hari Minggu akan menjadi hari yang paling sibuk bagi saya karena Minggu malam semua sudah harus selesai, semua barang harus sudah keluar dan saya akan berusaha membersihkan apartemen sebisa mungkin sebelum menyerahkan kembali kunci ke kantor bagian housing. Sebetulnya kalau tidak terlalu lelah saya masih bisa berusaha meneruskan semua pekerjaan setidak-tidaknya selama beberapa saat sebelum istirahat. Tapi tubuh ini sudah tidak mampu lagi.
"Thank you, Dad." Kata Kano ketika kami berdua masih di dalam kendaraan Jeep yang saya pinjam dari Mas Aris. Kano menggenggam tangan saya.
Entah sudah berapa kali Kano mengucapkan terima kasih kepada saya. Hari ini memang saya menghabiskan waktu hampir sepanjang hari sejak dia pulang dari pekerjaannya. Kami sempat makan siang dulu bersama mas Aris, Cory dan Garret rekan sekantor saya dan Kano. Kami menikmati burger dari Bad Daddy. Saya baru sekali ke sana, dulu sekali. Sesudah makan siang Kano dan saya mengambil Jeep dari mas Aris lalu mulai bekerja sepanjang hari memindahkan barang-barang, termasuk menukar AC yang saya pergunakan dengan milik Kano yang sudah sangat tua. Kano akan mempergunakan AC saya yang masih sangat baru.
Kami berdua memindahkan seperangkat komputer dia, semua peralatan dapur dan banyak lagi termasuk tissue gulung dan sabun cuci pakaian yang saya miliki. Mungkin Kano termasuknya salah satu anak kost yang mempunyai peralatan rumah terlengkap, karena mewarisi semua yang saya miliki. Dapur dia lengkap dari blender, air fryer, instapot, panini press, waffle maker, sandwich maker, takoyaki maker, hingga eletric grill hahaha.. Entah dia akan mempergunakannya atau tidak, tapi yang jelas jika dia mau dia bisa membuat apa saja! Peralatan untuk mencetak sushi dia punya hingga 1 set pisau dapur lengkap.
Jujur saja saya lebih mudah menyerahkan semua itu ke pada Kano dari pada orang lain atau paling parah, saya buang. Mungkin terdengar sangat konyol ketika membuang sesuatu saya merasa bagian dari diri saya hilang. Begitulah ciri-ciri orang yang terikat dengan materi. saya dulu pernah menulis tentang itu. Kebahagiaan tidak semata-mata tergantung pada kepemilikan, dan ketika kita sudah terikat pada benda, maka ketika melepaskannya akan sangat sulit karena merasa sedikit kebahagiaan kita hilang. Ya saya beberapa kali menulis tentang itu tapi sepertinya tidak mempraktikannya hahaha..
"We have to let them go. We have been enjoying our lives here, it doesn't mean that our happiness will be gone when we let go tuff we have. All our happiness is here." kata saya kepada Nina sambil menepuk-nepuk dada saya. Saya mengucapkan itu dengan suara sedikit tercekat.
Semua itu yang meghambat proses kepindahan kami. Terlalu banyak barang, terlalu banyak kenangan yang melekat, sehingga sangat sulit melepaskan banyak hal. Menimbang-nimbang terlalu lama, sampai akhirnya saya sejak beberapa hari terakhir menutup mata. Banyak hal yang saya buang tanpa mengatakan apa-apa pada Nina. Itu yang termudah. sebab jika dia tidak tahu, maka dia tidak akan ingat memiliki benda itu. Mudah buat dia, juga mudah buat saya dalam mengurangi sebagal barang yang tidak kami butuhkan.
"What are we going to eat, Dad?" Tiba-tiba Kano membangunkan saya dari segala bentuk pikiran yang berkecamuk sambil mengemudi.
"Anything you want. But you said we will go to Trift store just in case they have a little table for the AC. The exhaust hose is too short and cannot reach the window." Kata saya.
Kano begitu gembira ketika menemukan sebuah meja kecil yang cukup kuat untuk dibebani AC yang nanti akan digunakan di kamar tidur dia.
"Look at the brand! It's IKEA!" Kata Kano dengan sangat gembira. Meja kecil itu memang kuat dan warnanya persis dengan coffee table yng beberapa waktu lalu dia beli di IKEA. Kami lalu pergi makan malam. Kano memilih chicken fingers di Raising Cane's.
"Thank you, Dad." Kata Kano sambil memeluk saya ketika saya akan pulang sesudah mengantar Kano ke apartemennya.
Saya mengemudi perlahan-lahan. "It's happening!" Gumam saya sendirian. Musik hingar bingar di dalam Jeep saya matikan. Suasana hati saya sedang sendu dan ingin menikmati saat ini. Saat ketika melepas bagian dari hidup saya satu demi satu, dan yang terpenting dalam hidup saya mulai menjauh, dia sudah punya tempat tinggal sendiri. "He is ready! He doesn;t need me anymore, but I will be there whenever he needs me." Dengan mengatakan itu saya mulai bisa tersenyum, jika dia tidak membutuhkan saya lagi, artinya saya sudah cukup baik mempersiapkan dirinya untuk menjadi dewasa.
Kendaraan terus meluncur menembus malam. Cahaya lampu yang tidak terlalu terang hanya mampu menerangi sebagian kecil jalan yang lengang dan sepi. Saya tidak memerlukan musik saat ini, yang saya perlukan adalah air hangat yang dapat menyegarkan tubuh. Besok masih banyak yang harus saya kerjakan...
Foto credit: istockphoto.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11