AES 1157 João Gilberto do Prado Pereira de Oliveira

Saya sedang duduk menghadapi 3 monitor yang berederet rapih di meja kerja di Kantor. Rekan kerja saya yang duduk di belakang memutar lagu-lagu jazz lama. Dia memang jauh lebih muda dari saya tapi selera musiknya sangat unik karena dia sangat menyukai musik-musik jadul seperti Frank Sinatra, Nat king Cole dan lain-lain. Saya sama sekali tidak keberatan dengan pilihan lagu-lagunya dan ikut menikmati sambil bekerja.
Ketika sedang asyik bekerja menyusun menu dan resep untuk semester depan, tiba-tiba di belakang saya terdengar lagu yang sangat saya sukai, bunyi saxophone, gitar dan suara merdu seorang pria dalam bahasa Portugis. Joao Gilberto atau nama lengkapnya João Gilberto do Prado Pereira de Oliveira, yang bisa disebut sebagai bapak musik bossa Nova. Seorang pria kelahiran Brazil yang musiknya sangat terkenal dan saya sukai tidak kalah dengan Antônio Carlos Brasileiro de Almeida Jobim.
Sekilas saya kembali mengingat suatu malam duduk di sebuah kedai minuman dengan sekelompok pemusik yang memainkan musik serupa. Saat itu adalah musim gugur yang lumayan dingin. Kedai itu tidak ramai, hanya ada beberapa orang yang duduk seperti saya, menikmati minuman dan alunan musik yang lembut dan menyayat nyayat.
Olha que coisa mais linda mais cheia de graça
É ela menina que vem e que passa
Num doce balanço a caminho do mar
Moça do corpo dourado do sol de Ipanema
O seu balançado é mais que um poema
É a coisa mais linda que eu já vi passar
But I watch her so sadly
How can I tell her I love her
Yes, I would give my heart gladly
But each day, when she walks to the sea
She looks straight ahead, not at me
Itu 20 tahun lalu. Samar-samar saya mengingat suasana remang-remang di kedai itu. Lampu pijar yang hangat hanya cukup menerangi ruangan itu seadanya. Mungkin sangat cocok dengan suasana malam itu, sementara di luar orang berjalan kaki bergegas menembus malam yang dingin, bermantel dan berjaket hitam menutupi tiga perempat tubuh mereka. Khas berpakaian di musim gugur di kota besar.
"I'm going to miss the feeling like this." Kata saya bergumam sendirian
"The feeling of what?" Tiba-tiba rekan saya itu bertanya. sepertinya dia mendengar apa yang saya barusan gumamkan.
"This song reminds me of a place one time in the Fall in Chicago. I was in the bar one evening enjoying a glass of scotch and listening to the very same song you are playing right now." Kata saya
"Oh!" jawabnya pendek.
Saya kemudian sadar bahwa hidup ini telah membawa saya mengalami banyak hal-hal yang tidak pernah sya bayangkan sebelumnya. Memang sangat wajar jika beberapa waktu yang akan datang saya akan banyak merasakan kehilangan kesempatan-kesempatan semacam itu, tapi jika benar-benar dipikirkan, sebetulnya saya harus merasa beruntung bahwa semua itu pernah saya alami. memang akan merasa kehilangan, tapi setidak-tidaknya sayaharus merasa beruntung karena pernah mengalaminya.
foto credit: redbubble.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31