AES 1173 Progress

Kemarin saya mulai dengan urusan kartu identitas. Sudah sejak lama saya agak alergi jika berurusan dengan kantor pemerintah yang berkaitan dengan administrasi. Ada keengganan yang selalu meliputi perasaan jika harus berurusan dalam hal-hal seperti ini. Selama hidup saya harus menghadapi berbagai tingkah laku arogansi, power abused dan lain-lain. Masuk ke kantor saja saya sudah merasa terintimidasi. Pendek kata, sebelum mulai saja saya sudah merasa defeated dan diliputi dengan perasaan tidak suka.
Contoh sederhana, dulu ketika berurusan dengan RT, RW kelurahan, kecamatan hingga kota madya, saya selalu dilempar kesana kemari, harus melalui berbagai prosedur yang menyebalkan. Saya bahkan pernah merasa "terhina" ketika wawancara untuk memperoleh paspor puluhan tahun yang lalu ketika petugas mewawancarai saya tanpa memandang saya dan dengan sambil lalu melakukan pekerjaan lain. Sudah diperlakukan demikian saya tetap harus "menyuap" dia. Sungguh sangat tidak profesional dan mengecilkan orang lain. Dalam hati, bukankah mereka itu seharusya melayani masyarakat karena mereka dibayar oleh para pembayar pajak?
Dari pengalaman-pengalaman demikian saya hingga kini sangat enggan berhubungan dengan mereka. Yang saya ungkapkan di atas baru contoh sederhana, belum yang "kotor". Nah beberapa hari terakhir ini saya mengalami pengalaman yang sangat menarik.
Beberapa hari lalu saya harus berurusan dengan kantor bea cukai karena ada urusan bea cukai yang belum selesai ketika di bandara dan harus dilanjutkan di kantor bea cukai Bandung. Saya sangat enggan untuk pergi ke sana. Default nya sejak dulu sudah begitu. Karena memang tidak punya pilihan, akhirnya saya memaksakan diri untuk tetap pergi.
Tiba di kantor itu, saya disambut oleh seorang ibu yang sangat ramah. Semua berkas kami di terima dan saya mulai merasa terhibur ketika menyaksikan cara mereka memindai berkas-berkas dokumen yang saya bawa, yaitu dengan bantuan telepon. Ini sesuatu yang baru bagi saya. Apalagi ketika melihat hasil pindaian dokumen itu memiliki bayangan karena cahaya terhalang perangkat telepon genggam hahaha.. Saya tidak mempermasalahkan itu walau jika seandainya mereka memiliki perangkat pemindai sederhana, semua dokumen itu akan dengan mudah dipindai secara cepat dan rapih. Ya sudah, itu memang cara mereka.
Gendungnya sangat rapih, bahkan cenderung mewah jika dibandingkan dengan gedung-gedung pemerintahan di Fort Collins. Keren sekali pokoknya. Ada tempat menunggu yang nyaman dan ber-AC dan kami dipersilakan menikmati kopi, teh bahkan coklat panas. Saya mulai merasa nyaman dan rasa terintimidasi sedikit demi sedikit mulai lenyap. Memang masih lamban. Jika melihat petugas di beberapa cubical yang saya saksikan, sepertinya mereka tidak memiliki banyak pekerjaan dan asyik mengobrol sementara saya merasa terabaikan menunggu. Sekitar 30 menit petugas yang amat sangat ramah dan penuh hormat melayani kami. Petugas itu sangat knowledgeable, dan bersedia membantu. Memang kami masih harus kembali karena terpotong saat istirahat siang. Ketika kembali semua urusan beres, walau sebetulnya agak rumit karena harus menghubungi kantor lain di bandara. Saya merasa senang, puas dan kagum.
Kemarin saya mengurus kartu identitas. Nina tidak menemukan miliknya karena sudah terbengkalai selama 8 tahun. Kami harus ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan. Lagi-lagi kami dilayani dengan baik. Tidak ada biaya dan mendapat pelayanan yang ramah tanpa rasa intimidasi walau jika saya dapat memberikan saran, mereka bisa melayani jauh lebih cepat jika memiliki template yang baik. Saya tidak tahu apa yang mereka hadapi, tapi untuk selembar surat semacam itu seharusnya dapat diselesaikan dengan singkat. Eniwei, lagi-lagi saya merasa puas.
Berikutnya kami berdua ke kantor kecamatan yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tiba di sana, para petugas sedang ada perayaan tujuhbelasan. Kami ragu-ragu untuk masuk karena kemungkinan kantor tutup hingga ada salah seorang personel yang menanyakan keberadaan kami. Dengan ramah beliau mengatakan bahwa kantor pelayanan tetap buka dan kami dipersilakan masuk.
Di dalam kami disambut petugas yang sangat ramah, lalu dibantu mengunduh aplikasi di telepon genggam kami. Yang membuat saya terus tersenyum-senyum. Sejak saya kembali ke tanah air, entah sudah berapa aplikasi yang harus kami unduh. Transportasi menggunakan aplikasi, membeli barang elektronik menggunaan aplikasi, provider telepon meggunakan aplikasi, nah sekarang mengurus kartu identitas, kembali saya harus mengunduh aplikasi. Luar biasa. Biasa urusan kartu identitas yang pernah saya alami adalah duduk dalam antrian, kemudian menghadapi petugas menyerahkan berkas-berkas dolkumen dan lain-lain. Kali ini hanya 2 lembar dokumen, mengunduh aplikasi, lalu selfie huahahahaha... kemudian diantar ke ruang lain untuk memperoleh QR. Tidak lebih dari 10 menit kami diantar keluar gedung karena kartu identitas digital kami sudah selesai. Wow! Ini jauh lebih cepat dari mengurus kartu identitas di Amerika!!!! Luar biasa!
8 tahun yang lalu saya pernah menulis di blog pribadi yang kemudian dibagikan di lingkaran blogger Smipa. Saat itu saya membandingkan pelayanan antara 2 negara dan saat itu menurut saya negara lain jauh lebih baik. Kali ini saya merasa tanah air saya jauh lebih membanggakan. Ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa.
Foto credit: sepang-buleleng.desa.id
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31