AES 1196 Smart Isn't Always Enough

Hari ini saya belajar sesuatu yang baru. Sebuah pelajaran yang mahal tapi juga menarik karena semuanya itu menyangkut sesuatu yang saya sama sekali belum mengerti.
Sebelum saya kembali ke Indonesia saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan berusaha untuk selalu cerdas dan sabar. Sejauh ini selalu berhasil. Saya bisa memaklumi keunikan orang lain terutama anggota masyarakat yang sangat majemuk ini. Maksud saya unik adalah sebetulnya kata halus yang saya pergunakan untuk mereka-mereka yang mempunyai karakter "luar biasa" seperti yang serabutan, sembrono dan sebagainya terutama di jalan raya.
Saya dapat tersenyum dan tertawa walau kadang dengan masam menyaksikan semua keruwetan dan kegilaan di jalan raya. Saya selalu berusaha mengemudi dengan cerdas, tidak perlu mempertahankan diri bahwa saya sudah benar karena memang saya selalu mentaati aturan. Benar belum tentu aman, jadi saya sangat banyak mengalah dan membiarkan orang lain yang terburu-buru melalui saya terlebih dahulu. Semuanya berjalan lancar dan aman.
Tadi pagi ceritanya lain. Kami menemudi di jalur yang lurus dan benar lalu ada sebuah truk besar memotong jalan dan saya biarkan karena di depan ada sebuah gereja dan sebagian jalan digunakan untuk parkir. Saya memperlahankan kendaraan dan membiarkan truk tadi lewat lalu terdengar bunyi klakson dan sebuah kijang tua memaksakan diri dan menyerempet kendaraan saya tanpa menginjak em sama sekali.
"Saya sudah klakson!" katanya ngotot.
Saya bengong. Klakson bukan berarti dia mempunyai hak atas jalur yang saya miliki! Apalagi dia berada di belakang saya dan meluncur dari samping. Saya yakin benar dan dia salah. Tapi kebenaran dan kecerdasan yang sudah saya lakukan tidak cukup untuk berhadapan dengan orang yang mempunyai pengetahuan yang terbatas kalau saya tidak dapat mengatakan bahwa dia itu bodoh. Berdebat kusir dengan orang yang bodoh memang tidak akan ada akhirnya. Saya perhatikan kendaraan tua yang butut dan saya yakin dia tidak akan memiliki asuransi untuk menutup biaya perbaikan kendaraan saya. Mau ke polisi? Hmm.. kalau dia tidak mampu lalu apa bedanya? Saya tidak akan memperoleh apa-apa selain kehilangan waktu, semakin kecewa dengan kondisi yang ada dan tetap harus menghubungi asurasi yang saya miliki untuk memperbaiki kendaraan saya yang hingga sekarang masih menggunakan STNK sementara dan masih pelat putih.
Mungkin saya sangat naif. Saya akhirnya berlalu dan membiarkan dia pergi. Saya harap apa yang saya lakukan ini merupakan "bantuan" yang saya berikan pada dia, sehingga dia tidak akan mengalami kesulitan karena kemampuan dia yang terbatas entah cara dia berpikir atau kemampuan yang lain. Mudah-mudahan saja dia belajar dari situ. Jika tidak, ya itu urusan dia. Bagi saya kendaraan hanyalah benda. Memang mengecewakan mengalami hal semacam ini, dan lebih mengecewakan lagi harus berurusan dengan orang yang kemampuan berpikir dan tingkah lakunya secara menakjubkan sangat terbatas. Mungkin saja dia sedang memiliki masalah dan karena tahu dia salah dia hanya menggunakan alasan yang tidak masuk akal dan yang satu-satunya dia miliki. What can I do?
Hidup memang unik dan aneh. Yang saya yakin tindakan cerdas itu baik ternyata pada kenyataannya tidak selalu cukup.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11