AES 12 - Keabadian Jiwa

Saya dibesarkan dalam lingkungan dimana reinkarnasi, atau kedatangan jiwa kembali ke dimensi fisik adalah obrolan santai yang kadang kami bahas dimeja makan. Ayah yang seorang penganut Marifat Islam, dan almarhum kakek yang seorang penganut Ajar Pikukuh Sunda (secara umum disebut Sunda Wiwitan) memandang kematian sebagai hal yang alami, tidak perlu ditakuti, dan justru menjadi pengalaman rasa luar biasa bagi jiwa jiwa yang telah sadar.
Jadi dari kecil, saya terbiasa mendengar ayah atau Abah tertawa riang ketika membicarakan kematian. Bagi mereka, kematian tak ubahnya seorang anak kecil yang pulang ke rumah orang tuanya, melepas rindu, menikmati makanan ibu yang lama dirindukannya, mendapat beberapa nasehat dari keluarga yang lama tidak dilihatnya, lalu mandi dan ganti baju untuk bermain ditaman main berikutnya.
Dalam ajaran Marifat Islam (tasawuf), Agame Tirtha di Bali, Sunda Wiwitan, Zen di Jepang, Tao di China, Teosofi di Amerika dan Eropa, spiritual Kristen, dan banyak ajaran spiritual lain di Nusantara dari Kaharingan, Kejawen, Kapitayan, reinkarnasi sebetulnya dibahas secara mendalam.
Dalam tradisi esoterik awal Kristen, reinkarnasi bukanlah hal asing, banyak teks yang tidak masuk dalam kanon Alkitab, membahas pemahaman bahwa jiwa mengalami banyak kehidupan sebelum bisa mencapai kesempurnaan.
Di Marifat Islam, ada satu metode olah nafas dimana jiwa bisa secara sadar mengakses data data kehidupan yang telah dialaminya dengan menarik data kesadaran dari tulang ekor, lalu dibawa sepanjang tulang belakang dan ditampilkan kedalam kelenjar pineal gland di otak. Laku tasawuf ini diajarkan secara rahasia oleh para Sufi kepada muridnya2 dulu, termasuk oleh Jalaludin Rumi, Al Hallaj, Syeh Siti Jenar dll. Teknik dan caranya kita bahas nanti. Saya kira sudah tidak perlu lagi dirahasiakan karena kita sudah memasuki era kebangkitan spiritual.
Secara pribadi, persinggungan saya dengan keabadian jiwa baru terjadi di usia sekitar 25 tahun, saat saya ditugaskan oleh kantor ke Frankfurt (German) Tirol (Austria) dan Bozen (Itali). Di tiga kota ini, saya mengalami pristiwa spiritual yang cukup mengguncang batin saya ketika itu. Puncaknya tejadi di usia sekitar 30an awal, saat saya secara tidak sengaja berkunjung ke Gunung Padang di Cianjur. Peristiwa spiritual yang saya alami secara radikal mengubah persepsi saya terhadap kehidupan dan kematian, serta meruntuhkan keyakinan saya terhadap doktrin doktrin keyakinan yang selama ini saya yakini.
Jiwa, sebagaimana unsur kehidupan lain dialam semesta, adalah energi kesadaran yang abadi sifatnya. Hukum fisika memahami ini lewat prinsip keabadian energi, dimana energi tidak bisa dimusnahkan atau diciptakan, hanya bisa berubah bentuk dari satu energi ke energi yang lain (Hukum Kekekalan Energi).
Secara spiritual jiwa datang berkali kali ke panggung dimensi fisik, bukan hanya dibumi, tapi juga di banyak panggung lain di alam semesta yang tak terhingga jumlahnya, dalam bentuk dan pengalaman rasa yang berbeda beda.
Kedatangan berulang ini sejatinya adalah pelajaran bagi jiwa untuk mengalami berbagai macam pengalaman rasa dalam proses evolusinya kembali melebur kedalam kesadaran semesta. Serupa setitik air yang berproses untuk kembali melebur kedalam samudera, yang mengalami perjalanan menjadi air comberan, rinai hujan, setitik embun, awan dilangit, dll.
Jiwa perlu mengalami semua sisi dualitas : baik buruk, susah senang, terang gelap, maskulin feminim, penghancur dan pemelihara dll. Karena dengan menjadi semua polaritaslah, maka dalam proses evolusinya kelak, jiwa akan memahami bahwa dibalik semua polaritas yang nampak, ada kesadaran tunggal yang menjadi segalanya.
Mugia Rahayu Sagung Dumadi.
Komentar (2)
Asik bgt keluarganya... Kalau aku dtg dr keluarga yg cukup agamis konvensional, jd byk benturan2. Tapi itu juga yg membawa aku ke titik ini. Tentu saja ga semua aku buka di keluarga, krn bisa panjang urusan
Paragraf terakhirnya keren sekali!!! Terima kasih.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 35 - Usada Sunda Part 3 / Ilmu Pengobatan Berbasis Alam
Dari lebih 900 tanaman obat yang disebut dalam Usada Sunda, hanya sekitar 40-50 jenis yang saya gunakan, dan sejauh ini sangat terasa manfaatnya bagi kesehatan saya dan keluarga. Ijinkan kiranya saya berbagi sedikit tentang beberapa bahan alam yang paling umum digunakan dalam Usada Sunda. Tulisan i…

AES 34 - Perang Dalam Kacamata Spiritual Part 2
Ketika kesadaran memecah mengalami diriNYA menjadi segala sesuatu (Big Bang), salah satu pengalaman yang dialami NYA adalah dualitas maskulin dan feminim. Kedua jenis dualitas itu, terpolarisasi (memecah lagi) menjadi segala sesuatu yang berpasangan (bukan bertentangan), diantaranya adalah kedamaia…

AES33 - Perang Dalam Kacamata Spiritual - Part1
Di banyak ajaran spiritual di dunia, 3 kekuatan alam : penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran sama sama diagungkan dan dimuliakan. Ketiganya, yang disimbolkan dengan berbagai istilah : Tri Purusa, Tri Tunggal, dll dipahami sebagai manifestasi kesadaran semesta yang dibutuhkan agar kehidupan ter…

