AtomicEssay

AES 1208 Nyaman

joefeluspenulis arsip2

Saya duduk bersama Nina di sebuah meja cafe yang cukup lengang. Dihadapan saya ada dua piring kecil berisi ketan. Yang satu penuh abon diatasnya dan yang lain ditaburi bubuk yang terbuat dari kedelai, gula dan bumbu lain serta parutan kelapa yang masih segar. Ini sarapan kami dua hari berturut-turut. Setelah sekian tahun saya terbiasa sarapan dengan telur, pancake atau waffle serta sosis, yang biasanya merupakan menu di dining hall setiap hari, keinginan saya untuk menikmati sarapan tradisional begitu tinggi. Saya sama sekali tidak tertarik dengan yang di sini dianggap mewah! Justru yang menarik perhatian saya dan sudah saya nikmati selama liburan ini adalah soto, sate, gudeg, nasi pecel, nasi goreng, mie goreng kampung, berbagai jenis sup dan sayur asam, lodeh hingga goreng tempe dan tahu isi. Ini semua buat saya jauh lebih menarik dan menggugah selera. Teman-teman saya mengerti itu, sehingga selama ini makanan yang kami nikmati selalu makanan khas Indonesia.

"Pagi Pak Jo, hari ini kegiatannya apa?" Sapa seorang chef yang bekerja pada cafe hotel dan sudah beberapa kali berpapasan serta ngobrol dengan saya.

"Pagi Chef. Hari ini saya akan pulang." Jawab saya, lalu kami asyik ngobrol ke sana-ke mari. 

Saya bahkan sempat menggoda dia karena kemarin pagi saya berjumpa dia, siang hari, dan juga tadi malam, lalu pagi ini dia sudah berada di tempat kerja lagi. Seorang muda yang sangat ramah dan tampak sangat mencintai pekerjaannya.

"Jangan lupa keluarga, Chef!" Kata saya.

"Hahaha... terimakasih sudah diingatkan, pak Jo" Jawabnya ramah sambil tertawa.

Ada sebuah highlite yang sangat penting yang saya jumpai dalam perjalanan kali ini, yaitu kertamah-tamahan, hospitality. Pada awalnya saya sangat risih dan sungkan karena sealu merasa diperlakukan secara berlebihan. Katakan saja sejak di kereta api dari Bandung menuju Jakarta, saya agak sungkan ketika disambut oleh para petugas dengan tangan di dada sambil membungkuk disertai senyuman ramah. Kenapa begitu? Lalu saya berjumpa dengan Simon Petrus, sopir teman saya di Jakarta yang (maaf, saya memang jahil) beberapa waktu lalu saya jadikan bahan gurauan dalam tulisan saya. Kemudian perlakuan teman-teman selama perjalanan ini yang selalu harus berantem ketika tiba saatnya membayar makanan atau minuman. Mengapa? Saya begitu sungkan karena merasa diperlakukan agak istimewa sementara saya merasa sebagai orang yang biasa-biasa saja. Itu terjadi ketika di Jakarta, di Solo, di Tawangmangu, di Solo lagi hingga Surabaya. 

Saya kemudian berpikir ke belakang, sejak saya menginjakkan kaki kembali di tanah air sebulan yang lalu. Saya merasakan keramah-tamahan yang sangat luar biasa. Saudara, keluarga, para sahabat dan teman-tean yang lain, tidak kecuali orang-orang yang tidak saya kenal yang begitu ramah dan hormat dalam menyambut. Sekali lagi saya bertanya, mengapa? Sepertinya sesudah sekian lama saya tinggal di dunia "mimpi" dfi belahan bumi yang berbeda, saya melupakan bahwa ada sebuah karakter yang luar biasa yang jarang saya jumpai di sana. Sebuah karakter yang mulia yang masyarakat di tanah air lakukan, tidak hanya sebatas kata-kata. Keramah-tamahan merupakan tindakan, merupakan gesture yang dilakukan sebagai bentuk pengungkapan, ekspresi rasa kasih, rasa sayang, dan rasa hormat. Masyarakat di tanah air tidak mengumbar bentuk-bentuk perhatian itu dengan kata-kata tapi dalam bentuk tindakan! Sangat berbeda dengan di belahan dunia lain yang dengan mudah menyatakan rasa sayang dengan kata-kata. "I love you", "I care about you", "I miss you" dan sebagainya itu dengan mudah diucapkan tapi tidak selalu terlihat dalam tindakan. 

Saya tidak berusaha mengeneralisir dua hal yang berbeda di atas. Tidak semua orang di belahan dunia lain hanya mengumbar kata-kata tanpa tindakan nyata. Tentu saja tidak semua begitu. Teman-teman saya, host family, para sahabat yang inggal di sana tidak begitu. Mereka tidak hanya mengumbar kata-kata tapi juga saya dapat merasakan ketulusan mereka. Di sini juga tidak semua tindakan yang mereka lakukan menunjukkan benar-benar ungkapan afeksi, dan rasa hormat. Ada yang hanya sebagai keharusan karena tuntutan pekerjaan. Seperti misalnya di stasiun kereta api barusan, saya melihat beberapa orang porter, petugas security dan pelayanan lain berdiri tegak ketika kereta api mulai bergerak lalu memberi gestur hormat. Ini adalah sebuah "keharusan" baru, seingat saya sejak jaman bapak menteri Jonan, sebelumnya tidak begitu. Ini hal yang positif tentunya, tapi apakah ini betul-betul gestur hormat? Saya tidak tahu, yang bersangkutan yang bisa menjawab.

Eniwei, saya merasa telah belajar sesuatu. Masyarakat di tanah air memiliki sebuah karakter mulia yang sempat membuat saya risih dan sungkan karena merasa agak berlebihan. Tapi lama-kelamaan saya menyadari  bahwa itu adalah karakter yang sesugguhnya. Saya yang pada awalnya merasa sungkan, lama-kelamaan mengerti bahwa masyarakat di tanah air tidak menyampaikan ungkapan afeksi mereka dengan kata-kata melainkan dalam bentuk tindakan, sementara di belahan dunia yang lain sebaliknya, kata-kata yang mereka gunakan dan seringkali tindakan mereka tidak begitu tampak. Lagi, saya ingin katakan tidak semuanya demikian. Tidak bisa saya mengeneralisir berdasarkan hanya segelintir pengalaman dan pengamatan. Tidak semua begitu. Tapi sekarang saya mengerti dan bahkan saya mulai menyesuaikan diri dan melakukan hak yang sama, saya sekarang merasa nyaman dan bersyukur telah mengalami semua itu dan bisa memetik sesuatu daripadanya. Saya nyaman, tidak lagi risih.

Foto credit: bali.tribunnews.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31