AES 1219 Bogus

Beberapa waktu terakhir ini banyak pembicaraan mengenai raihan prestasi akademik oleh beberapa orang yang dipertanyakan substansinya. Pertama kali saya membaca sebuah berita, saya merasa terhibur karena saya anggap sebagai bahan gurauan, kemudian diskusi semakin ramai, saya mulai merasa terganggu, dan 2 hari terakhir ini muncul yang lebih seru. Yang terakhir ini membuat saya tidak hanya terganggu tapi bahkan tersinggung dan malu.
Entah mengapa di tanah air ini titel akademik menjadi semacam status sosial. Di awal memang saya mengerti, ketika lulus sarjana ada sebuah kebanggaan ketika nama saya mendapat embel-embel capaian akademik, lama-lama saya tinggalkan karena terus terang, saya merasa terbebani. Gelar sarjana itu mengindikasi sebuah level mastery tertentu, dan karena saya merasa tidak memenuhi kriteria yang menurut saya sepadan, maka saya merasa malu menggunakannya. Lagian apa sih itu? Hanya beberapa huruf yang tidak berarti apa-apa jika isi kepala saya nol besar. Itu hanya membuang-buang waktu sekian detik menuliskan huruf di depan nama saya. Itu menjadi tidak penting lagi.
Menuliskan sejumlah titel akademik yang sudah dicapai memang sah-sah saja. Praktik menuliskan titel akademik di tanah air sudah sejak lama dilakukan dan tidak tanggung-tanggung jika ada sejumlah titel, maka semua dicantumkan. Itu hak yang bersangkutan walau sebetulnya menurut saya sih tidak perlu. Juga penggunaan gelar profesor itu hanya jika berkecimpung dalam dunia akademik, jika tidak sebetulnya tidak perlu digunakan. Tapi lagi-lagi semua itu tergantung pada kebiasaan setempat. Di Amerika, penggunaan titel hanya pencapaian akademik yang tertinggi. Itu pun terserah pada setiap individu ingin menggunakannya atau tidak, tapi dalam konteks resmi maka biasa hanya satu titel pencapaian tertinggi, dan profesor hanyalah jabatan bukan titel. Jika orang tersebut adalah pejabat dalam dunia akademik, maka dipanggil profesor, tapi namanya dia hanya menggunakan satu titel akademik tertinggi.
Eniwei, bukan masalah keabsahan yang saya perbincangkan di sini, itu uruan universitas yang bersangkutan dan aturan pendidikan di sini, saya lebih tertarik pada masalah hati nurani dan rasa malu. Sekali lagi setiap orang mempunyai pertimbangan dan keputusan masing-masing, itu sah dan bukan masalah saya. Yang saya pertanyakan adalah buat apa kita sibuk mencantumkan sekian banyak atribut jika pada dasarnya isinya kosong serta jika memang kita tidak berhak atas atribut itu, mengapa kita ngotot untuk menggunakannya?. Nah itu merambah ke masalah moral, kode etik serta hati nurani yang kita miliki.
Ada seseorang yang tidak pernah menyelesaikan kuliah lalu tiba-tiba mendapat gelar doktor kehormatan. Ada salah kaprah di sana, doktor kehormatan adalah award, penghormatan, bukan pencapaian akademis, jadi seharusnya tidak perlu digunakan dengan nama yang bersangkutan. Itu aturan akademis yang resmi, tapi ya itu juga tergantung tempat dan kebiasaan lokal.
Yang kemudian saya merasa tertampar adalah seorang yang memperoleh gelar doktor hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun walau tidak pernah kuliah (konon) dan juga risetnya ditulis oleh seorang sarjana S1 yang baru lulus 4 tahun. Lebih hebat lagi gelar itu dikeluarkan oleh salah satu universitas paling terkenal di Indonesia. Beberapa menit yang lalu saya menerima sebuah surat edaran yang dikeluarkan oleh dewan guru besar, mengundang para pelaku akademik di universitas itu dan mereka akan membahas masalah kode etik dan moral berkaitan dengan kasus itu. Luar biasa!
Kenapa saya merasa tertampar? Karena saya menjadi saksi hidup dari seseorang yang berjuang dalam usaha meraih pencapaian akademik terteinggi itu. Harus mengambil 72 kredit, melalui beberapa qualify exams dan melakukan penelitian yang memakan waktu sekian tahun karena harus menciptakan sebuah model, mencari dan mengolah data, dan sebagainya. Ini bukan pekerjaan yang mudah karena penuh keringat dan air mata. Lalu kemudian saya melihat kasus beberapa hari yang lalu dimana seolah-olah pencapaian akademik tertinggi itu seperti sebuah lelucon. Saya kenal beberapa alumni dari universitas itu dan mereka merasa malu.
Semuanya memang kembali ke nurani masing-masing. Bagi saya pribadi, untuk pa mengaggung-agungkan sesuatu yang kosong, apalagi kalau itu bogus atau hanya kebohongan belaka? Jadi seperti kita membanggakan kaleng biskuit Khong Guan, padahal isinya rengginang! Tapi ya beda juga sih, karena rengginang itu sangat enak dan layak memiliki kaleng sendiri, jangan nebeng Khong Guan! Beda kasus ini sih Hahahahaha.
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31