AtomicEssay

AES 123 Mencari Sekolah

joefeluspenulis arsip2

Ini mungkin sebuah kegiatan yang paling membuat stress semua orang tua. Dan saya juga mengalami hal ini. Kenapa membuat stress? Namanya sekolah, pendidikan itu erat kaitannya dengan masa depan. Walau seringkali sebetulnya kita lupa bahwa sebaik apapun sekolahnya, belum tentu pendidikan seorang anak akan berhasil dengan baik, terlalu banyak faktor yang ikut ambil bagian.

Saya berkecimpung dalam pendidikan belasan tahun, dan kebetulan lumayan lama saya bekerja di sebuah sekolah yang terhitung sebagai sekolah baik di Bandung, itu kata orang walau menurut saya sih ya biasa saja. Mungkin kalau dilihat dari faktor fasilitas, sekolah itu memang cukup mumpuni, tapi terus terang, menurut saya itu kebanyakan sekolah-sekolah adalah tempat untuk anak "belajar"! Kalau membicarakan soal pendidikan, itu masalah lain.

Saya sempat beberapa kali mencari sekolah untuk Kano. Mulainya ketika dia baru 18 bulan. Ini lebih tepat sebagai rumah"bermain" walau kebanyakan anak-anak seusia itu masih bermain sendiri-sendiri dan orang tua ikut duduk bersama. Seru! Itu dulu, sebelum di Bandung.

Kedua, saya berusaha mencari sekolah untuk kelompok bermain, saat itu kano berusia 3.5 tahun, sebelum TK. Nah ini yang paling seru sebab sulit sekali mencari sekolah yang cocok. Saya mencoba ke Montessori, Kano tidak suka karena ketika duduk di dalam kelas anaknya malah mau kabur karena ada kambing di halaman sekolah. Apalagi walaupun disebut montessori, kok saya merasa agak janggal ketika gurunya begitu otoriter, banyak ngatur! Loh katanya Montessori? Batal! Lalu kami mencoba mencari informasi di banyak sekolah, terus terang saya lupa di mana saja. Pokoknya sampe gundul sebab anak satu ini memang banyak maunya!

Seorang sahabat kami yang dulu pernah sama-sama di Amerika akhirnya mengenalkan pada sebuah rumah belajar namanya Semi Palar. Dari namanya saja saya langsung berpikir bahwa ini pasti sekolah yang beda sendiri! Sekolah-sekolah lain sering menggunakan bahasa yang aduhai seperti menggunakan kata mutiara atau bunda atau nusantara, kok kayanya agak bombastis apalagi begitu masuk ke sekolahnya saya lihat semuanya mirip seperti sekolah tradisional, sementara anak saya ini sangat sulit mengikuti instruksi. Dia tidak suka kegiatan yang terlalu terstruktur, wong waktu 18 bulan saja guru dan teman temannya berkumpul, dia asyik sendiri bergulat dengan bola! Dia baru mau gabung ketika semua mulai bermain dengan bubbles! Karena ini anak suka sekali dengan yang bulat-bulat, entah bola, hot air ballon bahkan kubah mesjid!

Nah ketika try out di sini, baru saya melihat sesuatu yang menjanjikan. Kano tidak mau pulang! Terus terang saya bengong! Ini tempat pakai sesajen apa sehingga anak yang tidak betah duduk diam dalam lingkaran kok malah tidak mau pulang? Ajaib! Try out berjalan lancar bersama kak Nia (?) dan kak Eet almarhum. Kano jatuh cinta tapi kami bertiga harus patah hati karena pada saat itu Kano cuma tahu 2 kata dalam bahasa Indonesia: Makan dan Mandi. Jadi jika kami ingin bergabung dengan Semi Palar, Kano harus belajar bahasa Indonesia dahulu.

Perjuangan mencari sekolah terus berlanjut. Kami mencoba sekolah lain. Ada satu sekolah yang begitu kami mencari informasi, langsung kami disodori dengan daftar barang yang wajib dibawa setiap hari kalau ke sekolah, salah satunya Kitab Suci! Waduh! Saya punya prinsip bahwa urusan agama adalah urusan keluarga. Sekolah boleh sedikit-sedikit membantu tapi saya tidak mau anak saya diindoktrinasi agama di sekolah. Ini masalah prinsip. Saya selalu benci dengan pihak di luar keluarga yang latah dalam urusan agama, bahkan ingin membuat kartu belaja saja ditanya agama apa, KTP harus mencantumkan agama! Hey, ini masalah pribadi dan orang lain tidak perlu tahu! Bahkan saya punya prinsip menanyakan agama orang lain itu tabu! Gagal lagi! Cari sekolah lain lagi.

Putus asa! Kami sudah keliling ke berbagai sekolah dari ujung utara kota Bandung sampai ke selatan. Mentok dan ujung-ujungnya malah kesal karena saya merasa sekolah sebagai institusi yang eksklusif membatasi. Orang tua tidak boleh ikut campur! Lah apa ini? Wong ini anak saya, kok sekolah seenaknya ngatur! Sayangnya saya tidak merasa mampu untuk home schooling sebab saya merasa tidak punya bekal yang cukup untuk bisa bertanggung jawab. Akhirnya kami menyerah, kami turunkan eskpektasi kami dan mencari sekolah yang bisa membantu Kano belajar bahasa Indonesia.

Kami menemukan sebuah sekolah internasional yang masih terjangkau dan kebetulan saya kenal salah satu gurunya.Jadio Kano masuk ke situ, kebetulan Kano lengket dengan guru kenalan saya itu. 2 setengah tahun Kano belajar di sana, semakin jago bahasa Indonesia, bahkan ngobrol bahasa Inggris yang dulu mirip bule sekarang manggil saya dengan dialek Sunda! hahahaha... Beres TK dan merasa sudah cukup bekal bahasa Indonesia, akhirnya Kano masuk ke Semi Palar selama hampir 6 tahun.

Ya, menacari sekolah itu memang bikin pusing. Saya ingat bertahun tahun yang lalu orang tua antri hanya sekedar mengambil formulir pendaftaran anak mereka untuk sekolah mulai dari subuh! ya subuh sekitar jam 4 pagi! Ada kejadian lain, saking kepingin anaknya masuk sekolah favorit, orang tua berusaha menghubungi saya di sekolah bahkan datang ke rumah! Orang tua rela berkorban bahkan sampai ke titik paling rendah melupakan rasa sungkan dan harga diri demi memasukkan anaknya ke sekolah favorit walau saya sempat bertanya-tanya apakah anaknya nanti cocok sekolah di situ. Sulit memang, karena banyak pertimbangan yang harus dipikirkan karena menyangkut masa depan dan juga sangat masuk akal mengapa para orang tua ingin anaknya masuk sekolah yang baik.

This image has an empty alt attribute; its file name is 20191017_1802016340635269863216440.jpg

Lalu ketika saya pindah Ke Fort Collins, susah tidak cari sekolah? Tidak! karena di sini menggunakan sistem distrik. Jadi kami cari Informasi lalu dapat rujukan masuk ke sekolah yang istilah di sini Neighborhood School. Ke neighborhood school, sekolah harus menerima, sementara school of choice sekolah baru menerima jika memang ada tempat. Kalau di Bandung kami sibuk harus persyaratan ini itu, di sini cukup surat lahir! Lulus SMP tinggal pilih mau ke SMA neighborhood School atau School of Choice. Juga tidak perlu persyaratan apa-apa karena semua data sudah terintegrasi di distrik. Yang perlu saya lengkapi juga adalah data penghasilan. Kalau persyaratan gaji beres maka oleh distrik akan ditentukan soal biaya. Kano sekolahnya gratis, dipinjami laptop, dipinjami buku, makan pagi dan siang gratis juga. Saya menghemat banyak hahahaha... Tapi bagaimana pendidikan di Fort Collins? hmm... ya begitu deh, orang tua jadi penonton! Balik ke kondisi yang kami tidak terlalu sukai. Tidak banyak pilihan dan bukan merupakan hal yang ideal buat saya. Ada sih sekolah yang mendekati Semi Palar, tapi secara finansial saya tidak mampu. Harus gigit jari sambil berusaha menerima keadaan.***

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31