AES 1280 Validasi Internal dan Eksternal

"Barusan aku lihat ada postingan orang yang ganti cara berpakaian karena katanya mereka melihat perubahan pada orang yang melihatnya. Mereka jadi sangat respek." Kata Nina.
Saya baru saja selesai melakukan ritual pagi, mematikan semua lampu-lampu, mengeluarkan kendaran dari garasi agar nanti para pekerja dapat lebih leluasa melakukan tugasnya, mengeluarkan sepeda motor sehingga jika saya perlu keluar akan lebih mudah dan tidak terhalang lalulintas pekerjaan yang saat ini sangat sibuk.
"Kok bisa?" Timpal saya.
"Iya katanya dulu mereka tinggal di daerah yang kurang baik, cara orang-orang memandang membuat mereka risih, tapi begitu cara berpakaian berubah, sikap mereka dalam memandang juga berubah drastis." Jawab Nina
Saya tersenyum, lalu kami mulai berdiskusi. Belum lama ini memang kami sempat berdiskusi dengan beberapa orang kawan berkaitan dengan perkembangan anak-anak kami yang sudah mulai mandiri. Kawan kami ini putrinya sudah mulai berkarir di Jakarta, sementara anak saya juga sama. Saya berusaha belajar dari kawan saya ini sebab dia juga hanya memiliki anak tunggal. Saya berusaha belajar darinya mengenai bagaimana bersikap dan mengolah kekosongan yang ditinggalkan oleh anak semata wayang kami. Nah diskusi kami kemudian beralih mengenai internal dan external validity yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian anak-anak kami.
Jangankan anak-anak atau yang mulai menginjak dewasa, kita saja yang sudah berumur masih sangat tergantung pada jenis-jenis validasi ini. Contohnya ketika kita baru akan mulai bergabung dengan klab menulis di Smipa, saya jamin semua merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau tulisan kita kurang bagus, takut akan tanggapan orang lain, takut malu-maluin. Nah itu adalah salah satu bentuk validasi eksternal, yang secara bebas saya definisikan sebagai pengakuan orang lain, pengakuan dari luar diri kita. Tingkat kepercayaan diri kita mulai meningkat ketika mendapat validasi eksternal yang baik. Lalu bagaimana dengan validasi internal? Itu adalah validasi yang ada di dalam diri kita sendiri tanpa peduli akan apa yang direspon oleh orang-orang di luar. Seseorang yang sudah mampu membangun internal validasi yang baik tidak lagi membutuhkan pengakuan orang lain.
Obrolan kami pagi ini memang tidak terlalu nyambung dengan urusan validasi. Cara orang berpakaian selama merasa nyaman dan sesuai dengan tata krama menurut saya sah-sah saja, tapi jika tidak nyaman dengan pandangan orang lain, tidak perlu membahas masalah validasi internal atau eksternal, juga sah-sah saja untuk berubah. Berbeda halnya jika kita mengubah cara berpakaian karena "digossipi" orang lain. Nah ini baru menjadi masalah validasi, apalagi kalau validasi itu dibutuhkan untuk alasan yang narsistik hahaha.. Nah Itu baru masalah!
Validasi ini juga seringkali dikaitkan dengan motivasi. Banyak orang yang melakukan banyak hal, seringkali hingga sangat berlebihan terdorong oleh hausnya akan pengakuan. Seperti contohnya sosial media, banyak orang yang mengunggah konten demi "like". Nah ini adalah motivasi yang didorong oleh validasi eksternal.
Diskusi saya dan kawan-kawan itu akhirnya memfokuskan pada bagaimana kita mendorong anak-anak untuk membangun validasi internal, sebab kami semua yakin bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam diri sendiri bukan tergantung pada pengakuan orang lain. Segala bentuk pujian dan sanjungan itu semu sifatnya, pada saatnya akan berakhir dan lenyap, sementara keyakinan diri, rasa percaya diri dan keteguhan yang dibangun dalam diri sendiri, self love dan self care itu akan terpancar jika validasi internal kita kuat. Itu yang kami inginkan terpancar dari anak-anak kami.
Foto credit: sitepoint.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11