AES 1300 Akhirnya

"I think I am not going to write today. I am exhausted." Kata saya pada Nina.
"Okay. Take a break then." Jawab Nina.
Tapi saya masih duduk menghadapi laptop dan mulai mengetik sambil memandang ke arah pintu utama. Di luar masih hujan rintik-rintik. Sore tadi lumayan deras dan tidak ada sama sekali kebocoran. Di sebelah kiri, jendela sudah terpasang rapih dan saya tutupi dengan lembaran bekas bungkus kursi berwarna putih karena saya belum mempunyai tirai. Masih harus dipesan dan saya belum sempat karena harus menangani berbagai peristiwa akhir-akhir ini.
Tadi siang para pekerja pamit karena tugas mereka sudah selesai. Proyek perbaikan rumah sudah tuntas, hanya tinggal yang kecil-kecil yang akan saya kerjakan sendiri. Mulai besok rumah ini akan dapat kami nikmati sendirian, hanya kami berdua. Agak aneh rasanya karena selama ini kami harus berbagi dengan para pekerja, bahkan kami sering membuat kopi sama-sama.
Ada suatu rasa yang sangat kuat yang membedakan saya dengan kemarin bahkan dengan tadi pagi, yaitu ketika semuanya usai, beban terlepas dari pundak saya dan kelegaan serta rasa lelah yang amat sangat terasa. Seluruh tubuh terasa lemas seperti kehilangan semua energy tapi ada rasa lega yang sangat kuat.
Saya iseng melihat kembali foto-foto ketika Nina dan saya kembali ke rumah ini. Kamar tidur kami tidak memiliki listrik, gelap, dindingnya kotor dan penuh paku dimana-mana, selama beberapa saat saya harus tidur dengan pintu terbuka memasrahkan diri pada serangan nyamuk. Saat itu masih sangat panas, belum ada hujan, Nina dan saya masih dalam masa "pengenalan" kembali dengan lingkungan dan cuaca yang baru. Begitu keluar kamar ada selang air sepanjang 20 meter yang ditarik dari sumur pompa yang airnya hampir habis. Kamar mandi tampak kotor dengan lantai licin dan pintu yang berlubang. Kamar Kano hampir tidak berbeda karena dindingnya penuh dengan cat yang mengelupas. Di lantai garasi ada potongan-potongan plafon dari gipsum yang runtuh, di halaman belakang plafonnya sebagian sudah hilang mempertontonkan kayu kaso dan kayu reng yang sudah busuk. Talang menjulur ke tanah karena sudah tidak bisa disangga kayu yang hancur. Pagar utama hampir tidak dapat dibuka karena rodanya sudah entah kemana, sementara rangkanya sudah hancur. Saya meminta maaf pada para tetangga karena setiap kali membuka pagar ada bunyi yang sangat keras gesekan besi, saya juga harus menguras ekstra tenaga untuk membuka rolling door garasi karena macet.
Sungguh ada rasa geram dan sedih bercampur aduk karena ini adalah rumah pertama kami, yang kami bangun dari nol. Ada perasaan terhina karena yang meninggali sepertinya sama sekali tidak menghargai jerih payah kami selama bertahun-tahun berusaha mendirikan sebuah tempat tinggal dari potongan-potongan bata dan kayu hingga ke atap, lalu dengan tanpa rasa tanggung jawab meninggalkan dalam kondisi yang seperti itu.
Saya sudah berdamai dan melupakan rasa sakit itu dan selama sekian bulan saya mulai membenahi, meminta tolong beberapa team dimulai dari listrik, pengadaan air, perbaikan pagar dan pintu garasi, atap belakang hingga hampir semua pintu kamar bahkan dinding luar. Semua sudut rumah diperbaiki, kiri ke kanan, atas ke bawah, depan ke belakang serta luar dan dalam. Tidak ada satu ruangpun yang tidak tersentuh, tidak ada satu dindingpun yang terlewatkan.
"Sama aja dengan bikin baru atuh pak, kalau seperti ini mah." Kata ibu-ibu tetangga saya pada suatu waktu ketika saya berdiri di tepi jalan kompleks memperhatikan para pekerja melakukan tugasnya.
"Memang bu, ini rumah bersejarah hampir seumur keluarga yang saya bentuk." Jawab saya.
Saya ingat percakapan itu. Sekarang saya memandang sekeliling rumah. Ada sedikit rasa bangga bahwa pada akhirnya rumah ini bisa saya katakan selesai, bahkan terlihat jauh lebih baik dari disain awalnya. Banyak rasa terimakasih yang harus saya sampaikan hingga rumah ini terwujud. Mantan murid saya yang memperknalkan saya pada rekanan-rekannya, team-team pekerja, bahkan Colorado State University karena mereka yang menjadi penyandang dana! Hahaha...
Foto credit: 30seconds.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31