AES 1338 In Style With Dignity

Suara adzan menggema, waktunya shalat dzuhur. Ayah saya keluar dari kamarnya. "Listrik mati, Jo." Katanya. Tubuh renta dan kurus itu berjalan perlahan-lahan dengan sebuah alat bantu. Bekas-bekas kejayaannya sudah lenyap, tinggal kulit keriput membungkus tulang. Ada rasa haru menguasai lubuk hati yang terdalam. Tanpa sosok yang sekarang lemah ini, saya tidak akan pernah ada di dunia.
Hari ini saya menemai beliau. Sekarang harus selalu ada yang menemani sebab sering terjatuh, dan harus ada yang membantu beliau bangkit jika terjatuh. Usianya sudah 90 tahun.
"Give me 10 more years. I want to go with dignity." Kata sahabat saya beberapa hari yang lalu ketika kami bertemu dan melakukan perjalanan bersama ke rumah sakit karena ada putri seorang sahabat kami yang lain yang harus menjalani operasi.
Kami memang sedang membahas masa tua. Ngobrol tentang rumah jompo seharga 30 juta sebulan, 7,5 juta di Bali dan ada yang sekitar 5 juta di Lampung. Saya menggeleng-gelengkan kepala. Siapa yang akan mampu membiayai diri sendiri di masa tua jika sistemnya seperti ini. Berapa lama saya akan mampu bertahan menghabiskan masa tua dengan biaya tinggi seperti itu?
"Kita bekerja keras seumur hidup. Menabung untuk masa tua. Jika sebulan 5 juta, berapa lama kita akan mampu bertahan hingga dana pensiun kita ludes?" Kata saya
"Mangkanya, 10 tahun sepertinya cukup. Aku mau pergi sebelum tergantung pada pertolongan orang lain. Like I said, I want to go with dignity." Katanya.
"If I could choose, I also want to go in style." Jawab saya.
10 tahun untuk dia, artinya hanya 1 tahun tersisa untuk saya, karena saya lebih tua hampir 9 tahun. Apakah saya sudah siap? Saya lalu mulai membayangkan berjalan tertatih-tatih. Persis seperti yang barusan saya lihat ketika ayah saya berjalan perlahan-lahan kembali masuk ke kamarnya. Kalau saya diijinkan untuk memilih, persis seperti yang dikatakan sahabat saya tadi. Ingin pergi ketika belum membutuhkan pertolongan orang lain. Saya tidak ingin orang lain memandang saya dengan rasa haru karena sari-sari kehidupan, kejayaan dan kemampuan sudah meninggalkan tubuh. Pertama saya tidak suka menjadi beban orang lain. Kedua, independensi adalah keharusan bagi saya. Ketergantungan itu merupakan belenggu. Tapi hidup selalu merupakan misteri, kita tidak pernah tahu bagaimana awal kita dimulai dan tidak akan pernah tahu pula kapan akan berakhir.
Fptp credit: ac-illust.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11