AtomicEssay

AES 1391 Ada Di Saya

joefeluspenulis arsip2

"Get ready, take a deep breath, and go with the flow!" Kalimat ini sering saya gunakan ketika keluar rumah. Seperti halnya kita akan menembus rimba, ketika hendak mengambil langkah pertama dan bersiap dengan segala bentuk antisipasi, mengambil napas dalam-dalam dan kita mulai bergerak. Hahaha.. terdengar seram sekali walau pada kenyataanya seringkali semua hanya ada di kepala. Begitu menjalaninya, ternyata tidak seburuk yang kita duga, ternyata hanya biasa-biasa saja. Ternyata masalahnya hanya ada di diri kita.

Over-anticipated pada situasi atau bahkan underestimate pada diri sendiri seringkali merupakan masalah yang ditambahkan pada keadaan yang sudah ada. Semuanya jadi tambah rumit, semakin repot dan hanya menambah-nambah masalah. Jadi seperti tadi saya katakan, semuanya seringkali ada di kepala sendiri. Masalah banyak kita perumit.

Setiap orang memiliki masalah. Segala hal dapat kita pandang sebagai masalah. Kemarin hujan besar, saya bersyukur sebab persediaan air akan melimpah, tapi pada saat yang sama karen angin begitu besar saya mulai berpikir, wah bisa ada yang bocor nih, nanti kalau bocor kayu jadi lapuk, ada di sudut saya lihat mulai tumbuh jamur. Berarti nanti harus cari tukang untuk memperbaiki, apakah masih ada sisa dana? Bagaimana kalau tidak cukup? Bisa dikerjakan sendiri atau tidak? Sampai di sini saya berhenti. Kok hujan jadi masalah uang? Bocor saja belum tentu terjadi, wong rumah baru saja diperbaiki, kok!

Itu baru satu. Kalau direnungkan benar, masalah itu ada segunung, apalagi jika kita menggunakan kata "kalau". Kalau nanti begini, kalau nanti begitu, semuanya kalau, belum tentu akan terjadi, tapi namanya hidup, seperti kerja otak selalu memfokuskan diri pada hal yang negatif sebagai survival kits, sebagai metoda untuk survive. Nah, jika kita identikan dengan sebuah botol, semua masalah yang ada atau yang kita pikirkan semua ada di dalam botol itu, lalu semuanya berusaha pada saat yang sama untuk keluar melalui leher yang sempit! Seperti yang saya baca dari tulisan mbak @sanya yang ditulis kemarin malam, leher botol itu sama sekali tidak nyaman. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa ternyata leher botol itu adalah kita sendiri? Yang menghambat dan mempersulit semua keadaan kalau dipikir-pikir adalah kita sendiri!

Bahkan ketika kita sedang menghadapi semua permasalahan yang ada, jujur saja, ada seberkas "ide" untuk tidak menghadapinya. Hayooo.. jujur saja! Godaan untuk membiarkan masalah itu, dan tidak menghadapinya selalu besar. Kita sering tergoda untuk cari aman, daripada menegur karyawan yang malas lalu ada konflik, mendingan kita biarkan saja, mudah-mudahan dia berubah. Betul begitu? Nah, lalu masalah menjadi semakin runyam karena karyawan lain melihat dia dibiarkan saja. "Kalau dia malas dibiarin, ngapain kita ngoyo kerja, gajinya sama, kok!" Masalah semakin bertambah!

Kita menjadi bottleneck karena seringkali tidak mau move on. Kita malas bergerak, kita takut untuk memulai, procrastinating atau menunda-nunda dengan dalih masih banyak waktu. Dan pada saatnya kita gelagapan sendiri tidak dapat bernapas karena semua harus selesai, masalah sudah terlalu banyak dan waktu terbatas. Nah itu yang terjadi.

Lalu salah satu solusinya apa? Fokus. Itu kata para ahli. Kontrol diri kita dan fokus. Sebab kalau pikiran kita berantakan, karena mayoritas masalah itu sendiri ada di pikiran, kita jadi panik dan sulit menyelesaikannya. Sama seperti kita ingin mengosongkan botol. Pernah melihat eksperimen sederhana ketika masih SD? Cairan didalam botol kita buat seperti tornado, sehingga mengeliminasi udara yang bercampur dengan cairan yang biasa menghambat flow ketika keluar melalui leher botol. Tidak ada lagi bunyi glek glek glek tersendat karena udara, melainkan mengalir dengan lancar. Kita menciptakan semacam vortex, yaitu aliran yang berputar pada sebuah sumbu yang memiliki kekuatan dasyat serta menarik semua yang ada di sekitarnya. Nah kita harus fokus dan menghilangkan semua distraksi, seperti udara yang menghalangi flow cairan dari botol, kita mengurangi semua keinginan untuk menunda, keengganan untuk bergerak, jika semua terpusat dan kita benar-benar hadapi, pada saatnya semua akan selesai. Sama seperti filsafat China, a journey of a thousand miles always starts with the first step. Kalau tidak bergerak dan mulai melangkah ya tidak akan kemana-mana. Kita harus mencegah diri kita menjadi leher botol karena masalahnya lebih banyak ada di saya!

Foto credit: nature.com

Komentar (1)

Andy Sutioso
Wah nyambung. Saya lagi banyak sekali belajar ttg kerja pikiran manusia. Makasih.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31