AES 1396 To Be Humble

Dulu sekali ketika jaman SMP dan SMA saya senang membaca komik-komik silat. Harus sembunyi-sembunyi sebab ayah saya sangat benci melihat anaknya duduk di sudut tidak melakukan apa-apa membaca buku cersil Kho Ping Hoo. Pada jaman itu, cerita-cerita semacam itu menciptakan sebuah imajinasi yang luar biasa. Saya lebih suka buku-buku yang tidak bergambar sebab bagi saya hampir tidak ada batasnya, batasnya hanya pada imajinasi. Komik bergambar justru sangat mengekang karena imajinasi saya hanya sejauh yang digambar. Kurang seru.
Eniwei renungan saya yang ketiga ini bukan tentang membaca buku silat, tapi entah mengapa saya diingatkan pada "pribahasa" yang sering digunakan oleh pengarang cerita-cerita itu. Beliau berkata:"Setinggi-tingginya gunung Taishan, masih ada langit!" Pengarang cerita silat ini walau konon seumur hidupnya belum pernah pergi ke dataran Tiongkok dan juga sejarah yang sering beliau gunakan sebagai latar belakang cerita fiksinya sering salah, tapi banyak semacam "filsafat" dan wejangan kehidupannya yang bisa dijadikan masukan. Contohnya peribahasa tadi yang pada intinya jangan jadi orang takabur, sebab sehebat-hebatnya kita, tentu masih ada orang lain yang lebih baik.
Banyak orang yang sering berbangga diri karena semata-mata mereka tidak mengenal kemampuannya sendiri. Dengan mengenal diri, mengetahui kemampuan dan kekurangannya kita akan menjadi lebih mawas diri. Self awareness terbentuk ketika salah satunya kita tahu kekuatan dan kelemahan serta pada saat yang sama sekaligus memberikan ruang untuk meningkatkan kemampuan. Dengan demikian kita juga menjadi rendah hati.
Mendengarkan orang lain dan bersedia belajar merupakan salah satu ciri orang yang rendah hati. Kebijakan selalu berjalan seiring dengan kerendahan hati. Orang yang bijak adalah orang yang berwawasan terbuka, mau melihat alternatif yang diberikan orang lain, mau diajari, mau belajar dan menerima pendapat orang lain.
Kita semua pernah berbuat salah, mungkin bahkan sesuatu yang sangat bodoh, menghadapi banyak rintangan dan melakukan sesuatu yang memalukan. Kita belajar dari pengalaman masa lalu yang telah mengajari kita untuk menjadi bijak, tapi kebijakan itu lenyap begitu kita mulai membanggakan diri.
Kerendahan hati menjadikan kita selalu ingat darimana kita berasal. Kita diingatkan pada masa lalu dan apa saja yang sudah kita lalui hingga menjadi diri kita saat ini. Rendah hati juga membuat kita ingat pada rekan-rekan kita yang setia, yang selalu mengulurkan tangan dan membuat kita mengerti dengan sungguh yang dikatakan orang; a friend in need is a friend indeed! Tapi rendah hati juga bukan berarti menyediakan diri untuk dimanfaatkan. Relasi yang sehat dan baik adalah keseimbangan.
Nah, hari ketiga ini saya ingin belajar dengan lebih tekun untuk lebih menunduk seperti padi, karena sekali lagi setinggi-tingginya gunung Taishan, masih ada langit di atasnya.
Foto credit: RRI.co.id
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11