AES 1402 Secukupnya Saja

"When I wake up in the morning, I feel lucky. It's because I can still do so many things!"
Kalimat ini langsung mengena pada diri saya. Itu adalah salah satu bentuk bersyukur atas sebuah anugerah yang dapat dinikmati setiap hari berupa kesempayan untuk membuka mata dan diberikan kehidupan.
Barusan saya selesai menonton sebuah kisah yang menceritakan sebuah keluarga yang memiliki usaha membuat cemilan khas Ayutthaya di Thailand dan mereka telah dianugerahi Michelin star. Micheline adalah sebuah organisasi yang memberikan bintang pada restoran atau tempat produksi makanan yang memiliki kualitas yang istimewa. Memang seringkali terkesan sangat komersial karena walaupun sudah diberi bintang, adakalanya juga tidak se-outstanding yang digembar-gemborkan.
Eniwei, bukan tentang Michelin yang ingin saya obrolkan hari ini, tapi tentang kesederhanaan. Keluarga ini membuat Roti Sai Mai. Ini kudapan yang sangat khas yaitu cotton candy (harum manis?) yang dibungkus kulit tipis seperti kulit lumpia tapi yang rasanya manis. Nah, yang menarik, semuanya dikerjakan secara tradisional. Seperti harum manisnya yang jaman sekarang menggunakan mesin, mereka justru memasak gula hingga cair lalu dengan proses tertentu dikentalkan dan terus dilipat-lipat, ditarik-tarik hingga berbentuk serabut. Sebuah proses yang panjang, melelahkan, butuh kesabaran dan yang pasti tenaga serta waktu. Kulit yang seperti crepes juga dibuat secara tradisional, adonan dignggam ditangan lalu ditaruh sedemikian rupa di bidang datar diatas kompor sehingga membentuk sebuah lapisan tipis. Semua proses pembuatan kudapan ini sangat menarik untuk disaksikan.
Sekarang begini, ketika seseorang sudah memperoleh penghargaan dan menjadi ternama karena orang-orang kemudian berbondong-bondong mendatangi, maka saya yakin kebanyakan orang akan mulai berpikir untuk mengembangkan usahanya dan berusaha sebaik mungkin dalam upaya untuk meningkatkan bisnisnya. Misalnya dengan membuka cabang atau bahkan menjual royalty dengan membuat franchise. Tapi ini yang mengagumkan saya, mereka tidak melakukan itu. Mereka tetap menjalankan usahanya seperti biasa dan tetap sesuai dengan kemampuan. Jika tidak tertangani, mereka berhenti! Rumah mereka masih tetap sederhana, warung mereka masih terlihat kumuh dan bukannya mengembangkan usaha, mereka justru meminta para pelanggan untuk membuat reservasi.
Jangan membayangkan reservasi seperti untuk makan di restoran fine dining, melainkan reservasi untuk mendapat giliran membeli sebab mereka hanya membuat kudapan itu sesuai dengan kemampuan mereka saja.
Kalimat yang saya kutip di atas tadi adalah ucapan ibu pemilik warung itu. Bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk dapat berkarya, tapi tidak ngoyo untuk menimbun kekayaan. Mereka hanya berkarya sesuai kemampuan, bersyukur walaupun memperoleh sedikit sudah mampu membuat orang lain senang karena bisa menikmati hasil kerja mereka. Saya melihat seolah-olah yang mereka lakukan setiap hari menjadi semacam panggilan hidup. Bukan untuk memperkaya diri, bukan untuk mencapai keagungan, bukan untuk mencari nama, melainkan untuk berkarya sekuatnya dan menawarkan hasilnya untuk dinikmati orang lain. "Kalau sudah tidak kuat, saya berhenti." Katanya. Dan mereka hanya menerima reservasi secukupnya saja. Jika "quota" hari itu habis, maka pelanggan harus memilih hari lain. Ya, begitu saja!
Kesederhanaan. Itu yang saya perhatikan. Mereka sudah cukup senang masih diberi kekuatan untuk berkarya dan mereka melakukan itu sebaik mungkin sehingga para pelanggan senang. Memang banyak yang ngomel karena mereka tidak membuat lebih banyak, tapi itu diluar kemampuan mereka. Mungkin ini pelajaran untuk semua orang bahwa kata "cukup" adalah kunci dari menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Filem tadi memang tidak membicarakan soal hidup, tapi ada sesuatu yang menjadikan saya berpikir dalam. Dan itu sangat menggelitik.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31