AtomicEssay

AES 1442 Overwhelm

joefeluspenulis arsip2

Kembali ke rutinitas sehari-hari seringkali tidak mudah. Itu sering saya alami. Ada suatu keengganan yang antara sadar atau tidak menghalangi dengan berbagai alasan. Untuk menutupi rasa malas, misalnya saya sering beralasan, "Butuh istirahat beberapa hari lagi" atau "masih lelah", bahkan berdalih "masih libur, tidak perlu ngantor", dan setumpuk alasan lain.

Otak manusia katanya memiliki kecenderungan alami untuk merasa nyaman. Itu kata para ahli. Bayangkan saja, tidak harus bangun pagi, dapat berlama-lama di pembaringan rileks membaca sesuatu hingga tanpa sadar matahari sudah naik tinggi. Merasakan hari-hari tanpa adanya tuntutan utuk berbuat sesuatu itu sangat nyaman, dan otak manusia sangat mendambakan itu. Ini salah satu penyebab kita malas untuk kembali menjalani rutinitas sehari-hari yang seringkali kita nilai membosankan dan sering merasa "terpaksa" untuk melakukannya karena tuntutan kebutuhan, misalnya.

Walau hampir 1 tahun ini saya tidak banyak memiliki kegiatan berarti, tetap pada dasanya memiliki jadwal untuk melakukan banyak hal. Hari-hari tertentu saya sudah harus berada di jalan raya ketika matahari menjelang terbit. Kesibukan-kesibukan ini menciptakan semacam kebiasaan, menjadi sebuah rutinitas. Tapi bulan kemarin ada sebuah disrupsi yang menghentikan rutinitas saya, dan butuh waktu cukup lama untuk kembali ke kebiasaan semula.

Kebiasaan itu dapat menjadi sebuah hal yang baik maupun yang buruk. Ketika rutinitas mengalami semacam disrupsi, kadang akan sangat sulit untuk kembali ke kebiasaan semula. Tidak sama seperti ketika kita memindahkan persneling kendaraan dari keadaan diam untuk kembali melaju tanpa ada tantangan berarti. Hidup tidak semudah itu. Bahkan mesin sendiri harus "berusaha" menambah kecepatan dari nol kilometer per jam hingga mencapai kecepatan yang diinginkan. Otak manusia tidak bekerja sesederhana ini.

Mengembalikan rutinitas bagi saya agak-agak overwhelming. (Saya sulit menemukan padanan kata overwhelming, kewalahan????) Siapa yang tidak lebih memilih bangun pagi, membersihkan diri tanpa harus tergesa-gesa, turun ke restoran di bawah untuk sarapan tanpa perlu menyiapkan apa-apa, semua dilayani, bahkan piring kotor pun ada yang rajin mengangkat dari meja? Bisa memilih makanan sesukanya dari bubur ayam, makanan berat hingga pastry dan kopi. Bahkan di salah satu hotel saya bisa memesan espresso sesukanya, dengan pilihan makanan dan pastry berkualitas. Bandingkan dengan bangun pagi, lalu sibuk menyiapkan sarapan, sesudah itu harus mencuci piring kotor bekas sarapan. Tempat tidur harus dibereskan sendiri dan sebagainya dan sebagainya. Nah, pilihan yang mudah bukan? Mana yang lebih meyenangkan?. Lalu sesudah itu bisa ke kolam renang sudah disediakan handuk yang tebal, bersih dan harum dan bisa menghabiskan setengah hari berbaring dibawah hangatnya matahari sambil membaca buku dan memesan kopi. Ini Luxury, kemewahan! Nah kemudian disadarkan bahwa itu sudah usai, saya harus kembali ke rutinitas, ogah khan? Itu yang saya maksud overwhelming. Saya tidak bisa dengan mudah shift gear, ganti persneling dari angka nol ke 100 km per jam. Tidak semudah itu.

Beberapa hal lagi. Motivasi menjadi salah satu penghalang utama juga. Dari sebuah kenyamanan dan kemudian berusaha kembali ke rutinitas butuh motivasi tinggi. Siapa yang tidak enggan mengubah diri dari bersantai-santai kemudian harus "terpaksa" bangun subuh? Motivasi memang menjadi pengganjal.

Yang terakhir yang saya rasakan adalah "godaan untuk menunda". Kehilangan rasa nyaman menciptakan semacam emosi negatif. "Yaaah, besok harus ngantor lagi., males banget deh." Itu salah satu satu contoh ekspresi yang sering kita hadapi, bukan? Ada perasaan enggan, malas bahkan tidak suka. Nah, emosi negatif ini yang kemudian mengakibatkan kita melakukan prokrastinasi. Kita cenderung menunda-nunda sepanjang mungkin untuk kembali ke rutinitas karena pada dasarnya tidak mau kehilangan perasaan nyaman dan menyenangkan selama liburan.

Ini hanya liburan pendek, sekarang bayangkan bagaimana sulitnya saya kembali ke "rutinitas" hidup di tanah air sesudah menjalani liburan panjang selama 8 tahun. Luar biasa sulit hahaha.. Tapi itu semua sudah saya lewati, sekarang sedang berusaha kembali ke rutinitas sesudah selama 1 bulan menikmati liburan dan perjalanan bersama Kano dan teman-teman dari Colorado. Dimulai dengan rajin menulis lagi! Hehehehe..

Foto credit: bodrex.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31