AES 1451 Non-Existence Answers

Pukul 1:21 dini hari. Saya baru saja selesai membersihkan diri sesudah melewati malam yang telah membuat saya begitu bersedih menjumpai seorang sahabat yang telah pergi menghadap yang Ilahi. Saya sulit memejamkan mata karena pikiran dipenuhi dengan sebuah pertanyaan besar yang saya tahu tidak akan pernah dapat terjawab oleh siapapun karena ini adalah sebuah rahasia semesta, sebuah misteri dari kehidupan dan sebuah ujung perjalanan kehidupan yang tidak seorangpun pernah tahu. Dan manusia selama berabad abad berusaha menemukan jawaban yang tidak pernah ada.
Ah begitulah hidup. Ada awal dan ada akhir, ada kegembiraan dan ada rintihan kepedihan. Setiap orang akan melalui saat-saat ini, tanpa kecuali. Seolah-olah bumi berpijak ini hanya sebuah persinggahan sementara dari sebuah perjalanan besar. Tapi kemana? Apa tujuan kita berada di persinggahan ini? Ataukah justru persinggahan ini adalah tujuan akhir perjalanan? Hanya sebegitu saja kah? Atau ada yang lebih? Lagi-lagi itu adalah pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.
Kehidupan dan kematian adalah inti dari sebuah misteri yang pengetahuan manusia belum mampu menjawab, sain belum memiliki pemecahan sama sekali kecuali filsafat dan kepercayaan yang menawarkan berbagai alternatif dan spekulatif jawaban. Boleh percaya atau tidak. Yang pasti, hingga kini itu semua pertanyaan-pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Setiap peristiwa seperti ini selalu berakhir dengan sebuah tanda tanya besar. Kemana kita pergi sesudah jasad kita berhenti bergerak dan meninggalkan kefanaan ini? Apakah ada jiwa yang terus hadir, apakah dalam bentuk lain? Dan yang pasti semua orang bertanya-tanya, bagaimana rasanya pindah ke alam lain? Tidak ada yang tahu, kita tidak akan pernah tahu dan hanya berakhir pada pertanyaan-pertanyaan tak terjawab.
Saya berusaha memejamkan mata. Kelelahan dan kesedihan terus meliputi diri. Jarum jam terus bergerak. Pikiran masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Manusia sangat terbatas, gumam saya dalam hati. "Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and, above all, those who live without love." Itu kata profesor Dumbledore. Ya, betul sekali! Kata saya dalam hati. Kita harus lebih menaruh perhatian pada kehidupan karena kematian dan apapun di luar kehidupan masih diluar jangkauan pengertian. Dan saatnya kini sebaiknya lebih menghargai kehidupan dan merangkul kematian sebagai sebuah fakta yang masih merupakan misteri.
Bunyi serangga di luar mengingatkan saya pada kehadiran hidup. Hidup yang pada detik ini diliputi kesedihan mendalam. Saya mangambil napas daam-dalam dan mulai terhanyut ke dalam alam yang samar-samar, antara hidup dan ketidaksadaran. Melepas kesedihan sejenak, menjauh dari pikiran, dan berjarak dengan perasaan.
Foto credit: medium.com
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31