AES 1484 Les Feuilles Mortes

Restoran malam itu ramai sekali, Tidak ada meja yang kosong. Semua orang sedang menikmati makan malam sambil mengobrol dengan santai. Seluruh ruangan penuh dengan kehangatan. Dua orang pria kemudian mengeluarkan biola dan mulai memainkan Les Feuilles Mortes atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan Autumn Leaves. Orang-orang yang sedang menikmati makan malam kemudian menjadi hening dan beberapa menunjukkan wajah terkejut dan senang. Tiba-tiba seorang wanita berdiri dan mulai menyanyikan lagu itu dalam bahasa Perancis. Sangat indah, sangat menyentuh dan mengiris-iris perih lubuk hati. Mau tidak mau saya menjadi terharu dan mulai meneteskan air mata. Lagu ini bercerita tentang cinta, tentang kehilangan dan tentang waktu yang sudah berlalu.
"Sometimes life is very cruel." Kata salah seorang sahabat saya semalam yang memberitakan kabar duka.
Saya setuju. Hidup itu untuk sementara orang tampak sangat tidak beruntung. Pada saat ini dibelahan dunia yang lain seorang sahabat saya sedang membujur di pembaringan di unit gawat darurat karena minggu yang lalu terjatuh dan mengalami cidera otak sehingga harus menjalani operasi besar. Saat ini beliau masih belum benar-benar sadar. Update terakhir walau masih menggunakan ventilator, beliau tampaknya sudah mampu bernapas sendiri. Sejauh ini baru bisa sedikit, sangat sedikit menggerakkan jari tangan dan kaki, membuka mata walau belum benar-benar dapat melihat. "We have a long road ahead of us, so thank you for your love and support. Please keep him in your thought and prayers." Kata sang istri yang setia menemani setiap hari hingga hari ini, hari ke-9.
Semalam saya juga mendapat berita duka tentang kepergian salah seorang yang saya kenal sebagai pribadi yang ramah, sopan dan lucu. Terlalu dini untuk meninggalkan dunia ini walau mungkin baginya dunia ini bukan tempat yang beruntung baginya. Seperti pengalaman sahabat saya yang lain yang telah menghadapi tragedi kehidupan yang bagi saya pribadi sangat menyedihkan, melebihi drama kehidupan yang dapat kita saksikan di banyak filem.
Tragedies happen in life due to a combination of unpredictable circumstances, the inherent challenges of existence, and random chance. Itu kata AI ketika saya bertanya mengapa tragedi dalam kehidupan itu terjadi. Secara psikologis hidup itu memang tidak menentu, banyak kejadian yang tidak pernah kita duga, tidak pernah kita perhitungkan dan diluar kuasa manusia. Tetap pernyataan itu belum mampu menjawab pertanyaan saya.
Kemudian saya semakin dalam merenung. Hanya berkaitan dengan 4 atau 5 kejadian yang saya alami dalam hidup. Tragedi demi tragedi itu semua saya pikir terjadi karena manusia itu lemah, manusia itu tidak sempurna. Sahabat saya dan putrinya yang sudah tiada juga karena menjadi korban kelemahan manusia. Manusia lemah yang mudah tergoda, manusia lemah yang mudah menyerah, manusia yang menginginkan kemudahan, serba instan bahkan akibat dari keserakahan serta kedangkalan nilai kemanusiaan. Mereka memang korban kelemahan orang lain yang berakhir dengan ketidakadilan bagi mereka. Saya masih belum habis mengecam dan mengutuk karena kemurnian dan kesucian yang terengut oleh kelemahan. The world is fallen because human is weak!
Sangat ironis sebenarnya. Jika melihat musim gugur dimana semua keindahan dalam setahun berpesta di musim ini. Ketika semua warna warni keaslian semesta dimunculkan, bahkan daun-daun yang berguguranpun terlihat sangat indah. Campur tangan kelemahan manusia justru yang menghadirkan banyak kesedihan dan tragedi.
Oh, je voudrais tant que tu te souviennes
Des jours heureux où nous étions amis
En ce temps-là, la vie était plus belle
Et le soleil plus brûlant qu'aujourd'hui
Les feuilles mortes se ramassent à la pelle
Tu vois, je n'ai pas oublié
Les feuilles mortes se ramassent à la pelle
Les souvenirs et les regrets aussi
Oh, I wish you could remember The happy days when we were friends In those days, life was more beautiful And the sun was hotter than today
The dead leaves are raked up with a shovel You see, I haven't forgotten The dead leaves are raked up with a shovel Memories and regrets too
Hari ini memang terpaksa saya bersedih.
Foto credit: apps.microsoft.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31