AES 15 - Kesadaran dualitas

Bumi adalah panggung dualitas. Adanya dua kutub bumi - Kutub Utara dan Selatan - yang secara energi sangat berbeda dan bertolak belakang namun saling melengkapi, adalah simbolnya.
Secara energi, hanya lewat kehadiran 2 kutub bertolak belakang dan berlawanan - positif dan negatif - lah maka energi kehidupan akan mengalir.
Energi listrik, proton elektron, magnetisme, sampai bioelektrik yang menghidupkan seluruh sel dalam tubuh kita, semuanya bekerja berdasarkan hukum semesta ini.
Hanya dengan kehadiran dualitas yang sama besar inilah kehidupan ada dan tergelar.
Bahkan secara spiritual, tidak ada jiwa yang bisa naik vibrasinya ke dimensi yang lebih tinggi jika ia belum mengalami seluruh dualitas jagat. Menjadi cahaya dan kegelapan, menjadi perawat dan perusak, menjadi maskulin dan feminim, baik dan buruk, sedih dan senang dll.
Secara esensi yang lebih tinggi, dualitas adalah bentuk pengalaman kesadaran dalam evolusinya mengalami menjadi segala sesuatu.
Karena dualitas adalah hukum alam, maka penting bagi kita sebagai orang tua memberikan pemahaman ini kepada anak anak kita. Tentu dengan bahasa dan cara pemberian pemahaman yang sesuai dengan usia dan perkembangan mereka. Teknisnya ada banyak cara.
Agar kesadarannya memahami dari perspektif yang lebih luas, bahwa dualitas adalah keniscayaan jagat. Kesadaran ini implikasinya luas sekali bagi kehidupan mereka kelak. Karena secara alami, semua jiwa dibumi akan mengalami dualitas lewat pengalaman rasanya masing masing.
Entah itu dalam bentuk gagal dan berhasil, sehat dan sakit, sedih dan senang, tertawa dan menangis, dll bentuknya.
Saya secara pribadi, suka memantik kesadaran putri saya lewat diskusi dan pertanyaan tentang tubuhnya sendiri.
Karena tubuh manusia adalah simbolisasi polaritas paling dekat dan paling terlihat. Adanya mata kanan mata kiri, telinga kanan telinga kiri, tangan kanan dan kiri dll yang saling melengkapi adalah bahan diskusi paling mudah dicerna oleh anak di usianya.
Anak anak kita itu, kesadarannya tinggi.
Gelombang otak mereka masih mayoritas bergetar di rentang tetha menuju alpha, gelombang otak yang sangat dekat dengan spiritualitas. Jadi jangan khawatir konsep dualitas ini terlalu berat bagi mereka. Anda akan terkejut jika mengetahui, bahwa dalam keseharian manusia yang otaknya bergetar direntang theta menuju alpha, spiritualitas adalah pengalaman rasa mereka sehari hari.
Lewat memahami dualitas, anak anak kita akan tumbuh menjadi manusia yang lebih luas kesadarannya. Mampu melihat segala sesuatu lewat perspektif yang lebih tinggi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 35 - Usada Sunda Part 3 / Ilmu Pengobatan Berbasis Alam
Dari lebih 900 tanaman obat yang disebut dalam Usada Sunda, hanya sekitar 40-50 jenis yang saya gunakan, dan sejauh ini sangat terasa manfaatnya bagi kesehatan saya dan keluarga. Ijinkan kiranya saya berbagi sedikit tentang beberapa bahan alam yang paling umum digunakan dalam Usada Sunda. Tulisan i…

AES 34 - Perang Dalam Kacamata Spiritual Part 2
Ketika kesadaran memecah mengalami diriNYA menjadi segala sesuatu (Big Bang), salah satu pengalaman yang dialami NYA adalah dualitas maskulin dan feminim. Kedua jenis dualitas itu, terpolarisasi (memecah lagi) menjadi segala sesuatu yang berpasangan (bukan bertentangan), diantaranya adalah kedamaia…

AES33 - Perang Dalam Kacamata Spiritual - Part1
Di banyak ajaran spiritual di dunia, 3 kekuatan alam : penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran sama sama diagungkan dan dimuliakan. Ketiganya, yang disimbolkan dengan berbagai istilah : Tri Purusa, Tri Tunggal, dll dipahami sebagai manifestasi kesadaran semesta yang dibutuhkan agar kehidupan ter…