AtomicEssay

AES 151 Pujangga & Pemain Piano

joefeluspenulis arsip2

Akhirnya seperti rencana minggu lalu untuk hang out sepulang kerja di cafe di dalam toko buku dapat terlaksana. Bau yang sangat familiar yang saya ceritakan itu masih berhasil membius saya. Duduk dengan menikmati kopi dan sebuah maple scone hangat betul-betul nikmat terutama karena memang di dalam cafe ini sangat nyaman dibandingkan dengan di luar yang suhunya hanya 1 digit, 8 derajat Celcius, tapi real feel-nya 6 derajat karena angin yang berhembus sangat dingin menggigit.

Yang lucu duduk di dalam cafe ini adalah saya merasa dikelilingi oleh para pujangga dunia! Di atas tempat barista menunjukkan kepiawaiannya meracik segelas kopi yang sedang saya nikmati ini ada gambar raksasa para pujangga. Ada Fitzgerald, seorang novelis kondang, Parker, Faulkner, Steinbeck, Eliot, Singer, Kafka, Neruda, Hughes dan Tagore! Di gambar itu seolah-olah mereka sedang duduk di beberapa meja sambil berbincang dan menikmati kopi.

Dulu, lebih dari 20 tahun yang lalu saya gemar membaca dan menulis puisi. Hasil coretan seadanya itu pernah saya cetak menjadi sebuah buku, hanya satu-satunya dan hanya saya yang membacanya hahaha... Itu dulu, ketika saya masih tergila-gila membaca Tagore. Bahkan pernah saya kirim salah satu puisinya ke ibu saya almarhum yang membuat beliau menangis. Sejak saat itu saya berhenti mengirim puisi dan hanya menulis cerita dalam puluhan surat yang pernah saya tulis.

Duduk di antara para pujangga ini tidak menjadikan saya lebih jago menulis, bahkan pada saat ini saya bingung akan menulis apa. Banyak ide berseliweran tapi sejauh ini setelah lebih dari setengah jam duduk, saya belum mampu mengungkapkan apapun. Kadang saya merasa iri dengan mereka yang jago menulis. Saya ingin bisa menulis tentang bulan Oktober dan Nopember yang merupakan bulan favorit saya yang sangat indah. Saya ingin menulis tentang daun-daun yang berserakan di tanah. Tapi apapun yang saya tulis akhirnya menghilang karena terlumat oleh tekanan jari-jari saya di tombol backspace. Bukan apa-apa, yang saya tulis itu seperti mengecilkan makna keindahan yang saya saksikan. Saya tidak mampu menggunakan kata-kata yang cukup untuk mengutarakannya.

Ya, kadang saya berangan-angan menjadi penulis, tinggal di desa yang damai tanpa kebisingan, hanya ditemani suara serangga di luar atau kokok ayam jantan. Saya membayangkan duduk di dekat sebuah jendela besar, sinar matahari yang baru muncul menembus masuk kedalam ruangan di mana saya duduk di sebuah meja kayu tua. Saya akan membiarkan jari-jari menari di atas tombol-tombol keyboard mengungkapkan seluruh perasaan tentang keindahan, tentang hidup, tentang cinta, tentang air mata atau tentang daun-daun kuning dan merah yang jatuh di tanah.

Atau membayangkan menjadi seorang pemain piano yang duduk di sudut sebuah cafe atau pub. Hanya saya dan topi fedora tua kesayangan tanpa peduli pada mereka yang hadir. Saya hanya ingin bermain untuk diri sendiri. Jari-jari saya menari di atas tombol-tombol yang berwarna hitam dan putih, memainkan sebuah komposisi yang saya sukai, larut dalam keindahan harmoni dan alunan musik yang mempesona.

Setiap orang katanya di bawah sadar ingin menjadi orang lain, desire to have different life, to be someone else. Seperti kata William Shakepeare:" God has given you one face, and you make yourself another" Tapi itu tidak apa-apa jika hanya membayangkannya, itu sah-sah saja jika ingin jadi penulis atau pemain piano, atau jika ingin sehebat, sesukses orang lain. Itu bisa dijadikan role model selama dalam kenyataan hidup saya tetap menjadi diri saya apa adanya. Tetap menjadi si Jo bapaknya Kano! Karena jika saya memang ingin menjadi penulis, ya menulislah sebaik-baiknya atau belajarlah memainkan piano jika ingin menjadi pemain piano. Tanpa melakukan apa-apa, ya saya tetap akan menjadi si Jo seperti sekarang ini. Mungkin yang paling masuk akal adalah mengikuti apa yang Judy Garland katakan:"Always be a first-rate version of yourself, instead of a second rate version of somebody else." Kalau cuma menjadi orang lain yang ala-ala, buat apa? tidak ada gunanya! Jadi ya serius saja dan fokus menjadi diri sendiri apa adanya seperti sekarang ini dan usahakan untuk terus menjadi seorang saya yang lebih baik. Begitu bukan? Tapi saya tetap senang sih membayang-bayangkan, cuma untuk seru-seruan saja. Jadi pemain piano belum tentu saya bisa menikmati kopi, makan scone sambil menulis atomic essay Smipa seperti sekarang ini bukan? hehehe***

Komentar (1)

Andy Sutioso
Wah posting lama yang baru terbaca. Asik...

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31