AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
joefelus16
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sepeda motor di malam hari berdua dengan istri. Selama ini saya lebih senang berdiam diri di rumah membaca atau menikmati hiburan di televisi. Jalan raya identik dengan perasaan negatif karena ulah pengguna jalan atau kondisi lainnya. Malam ini agak lain, saya dan istri tiba-tiba ingin menikmati udara "segar" karena merasa sudah terlalu lama diam di dalam rumah, sekalian ingin memanfaatkan waktu senggang ini untuk "mengintip" jam tangan pintar yang katanya akan mulai dipasarkan beberapa hari lagi. Yang menarik bagi saya adalah karena jam tangan pintar ini konon dapat digunakan untuk membaca elektro cardiogram. Ini sangat berguna untuk istri saya yang belakangan ini merasa ada sedikit gangguan jantung walau ketika berkonsultasi dengan dokter, kekhawatiran itu katanya mungkin kurang berdasar. Jam tangan pintar yang saya miliki hanya dapat merekam tekanan darah, tidak cukup untuk digunakan untuk mendeteksi kerja jantung. Saya memang masih ragu apakah jam tangan ini memang dapat mewakili alat EKG yang ada di rumah sakit, namun dari hasil mencari tahu, katanya perusahaan yang menciptakan jam pintar ini sudah bekerja sama dengan berbagai rumah sakit di beberapa negara, jadi cukup menjanjikan.
"Dah lama banget ya rasanya kita duaan engga naek motor begini." Kata saya
"Iya, seru juga ya kaya dulu waktu jaman kuliah." Jawab istri saya.
Kami memang meluncur perlahan-lahan sambil menikmati kota yang saya rasa tidak lagi ramai. Akhir pekan sudah hampir berakhir sehingga sepertinya para pendatang sudah kembali ke kota masing-masing, ditambah mungkin karena turun hujan sehingga orang-orang lebih banyak memilih tinggal di rumah masing-masing. Biasanya saya suka kesal karena begitu banyak kendaraan di jalan yang mengakibatkan lalu lintas begitu padat dan macet.
Jaman kuliah dulu memang kami hanya menggunakan satu sepeda motor bergantian atau berduaan, hingga suatu waktu motor kami hilang dicuri orang ketika parkir di tempat kost. Ini kejadian yang kedua kalinya, yang pertama hanya CDI-nya yang dicuri, beberapa bulan kemudian tidak hanya CDI-nya tapi seluruhnya. Akhirnya terpaksa kami beli yang baru dengan mencicil hahaha.. Yang terakhir dapat bertahan lumayan lama hingga akhirnya kami menikah lalu kami jual ketika akan pergi merantau ke Amerika. Itu hampir 30 tahun yang lalu hingga pertengah tahun ini kami memutuskan untuk mencoba memiliki sepeda motor yang ramah lingkungan.
Mengendarai kendaraan roda dua ternyata seru juga. Pada saat ini kami kembali semakin menyadari bahwa dunia itu bising, kotor dan bau! Hahaha.. Berkendaraan roda empat memang nyaman, kami dapat ngobrol dengan santai, kebisingan dari luar jauh dapat diredam, udara kotor dan bau juga tidak terlalu terasa hingga ketika kami berdua naik sepeda motor.
"We are spoiled!" Kata saya setengah berteriak agar dapat didengar oleh istri.
"Yup! We are!" Jawabnya pendek
Kami terus meluncur di jalan Aceh yang seperti dulu tetap gelap, hanya saja sekarang semakin banyak kendaraan berlalu lalang. Jaman kuliah dulu jika di malam hari sangat lengang, semakin malam semakin tidak terlihat bentuk-bentuk kehidupan. Sekarang masih tetap gelap tapi banyak kendaraan hingga kami tiba di dekat Taman Pramuka.
"Dulu kita sering makan seafood di situ!" Kata saya sambil membayangkan sepiring kecil kerang rebus yang sudah menganga terbuka dan siap disantap dengan bumbu cocolan yang bercampur buah Nanas. Sekarang daerah situ tidak ada lagi pedagang kaki lima, digantikan dengan bangunan mewah di sisi jalan satunya yang menjual berbagai jenis roti-rotian bahkan toko jam yang sangat besar. Malam itu terlihat banyak karangan bunga, sepertinya mereka sedang grand opening.
Menurut saya kota Bandung tidak lagi seindah dulu. Dulu saya senang sekali melewati jalan-jalan kecil yang dekat dengan gedung Sate. Ada sebuah rumah cantik dulu yang menjadi idaman saya dengan pintu berwarna hijau dan halaman rumah yang cantik dan asri di jalan Prabu Dimuntur. Saya dan istri dulu sering sengaja melewati rumah itu sambil berangan-angan suatu waktu nanti akan memiliki rumah seperti itu dengan pintu berwarna hijau yang akan terlihat cantik sekali jika menjelang Natal dan tahun baru jika dihias dengan lingkaran Natal yang terbuat dari anyaman daun cemara beserta hiasan-hiasannya. Berkeliling daerah sana kala itu sangat menyenangkan dengan berbagai arsitektur rumah-rumah kuno berbagai ukuran dari yang mungil hingga besar. Daerah seperti Wira Angun-Angun, Maulana Yusuf, Cilamaya di belakang gedung Sate sangat indah dinikmati sambil berkendara sepeda motor perlahan-lahan. Lalu lintas saat itu tidak sepadat sekarang dan tidak banyak penjaja kaki lima maupun tepi jalan yang dipakai untuk parkir. Semuanya asri dan indah. Sekarang tidak lagi seperti itu. Bahkan ketika tinggal di daerah Sultan Agung, saya sering mengayuh sepeda hanya sekedar menikmati ketenangan daerah Trunojoyo, Bahureksa, Banda, hingga Cilaki. Itu jadi semacam hiburan sehat menikmati keasrian daerah-daerah itu. Saat ini daerah situ sudah penuh dengan cafe, toko-toko dan orang-orang yang berebut tempat parkir. Tidak lagi menyenangkan dan jauh dari indah.
Sambil mengenang masa lalu disertai hati yang berat karena sekarang hampir semuanya berubah, kami meluncur perlahan-lahan di jalan Supratman ke arah Selatan hingga mencapai jalan A. Yani. Walau sudah malam dan di kota tidak terlalu ramai, ternyata di jalan ini menjelang Cicadas tetap macet. Pemerintah sedang menyelesaikan Halte Bus yang didirikan ditengah jalan. Entah ini ide siapa karena saya perkirakan kemacetan ini akan semakin parah mengingat karakter manusia di sini yang sangat tidak patuh akan aturan. Halte di tengah jalan? Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ada halte saja daerah ini sudah hampir selalu macet, sekarang sebagian ruas jalan diambil bangunan halte. Lihat saja nanti bagaimana jadinya.
Sampai di sini saya sudah tidak sabar lagi untuk segera tiba di rumah. Kami melaju semakin cepat ke arah Timur. Kegembiraan saya sudah pudar sesaat mulai dihadapkan dengan "kenyataan" lalu lintas yang padat dan para pengendara yang mulai tidak sabaran serta sembrono. Masuk akal mengapa kebanyakan orang tidak sabar. Saya juga begitu karena mulai merasakan hal-hal negatif ketika dihadapkan pada kondisi jalan seperti itu. Untungnya setelah melewati halte ajaib ini lalu lintas lebih teratur sehingga saya dapat lebih leluasa melanjutkan perjalanan pulang. Bandung terasa sangat padat dan tidak semenyenangkan dulu. Sayang sekali.
Photo credit: medcom.id
Ada di Kompilasi:
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00


