AES 1578 Katakan Tidak!

"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.
Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab "ya" maka saya akan harus mempersiapkan semua materi hanya dalam jangka waktu yang pendek, lalu pada saatnya nanti saya akan harus bergegas kesana-kemari karena jendela waktunya sangat terbatas. Menjawab Ya pada saat ini memang sangat mudah. Sulitnya belakangan.
Lalu bagaimana jika saya menolak? Menjawab dengan kata "tidak". Ya bisa saja sih, hanya saja memang ini sisi lemah yang sudah saya ketahui selama hidup. Bagi saya, menolak adalah sesuatu yang tidak mudah. Banyak pertimbangannya. Pertama seringkali tergantung pada siapa yang bertanya. Jika ada seorang teman baik meminta pertolongan, saya akan dengan sangat mudah mengiyakan walau misalnya kondisi saya sedang tidak leluasa. Menolak akan menciptakan pertentangan batin, rasa bersalah, rasa kasihan dan lain sebagainya. Lebih mudah mengatakan iya dan saya menghadapi konsekuensinya sendiri. Tidak jarang memang saya kemudian menderita, kewalahan, kelelahan bahkan tidak jarang jatuh sakit karenanya.
Kedua, ketika menjawab "ya" saya seolah-olah memperoleh kepuasan yang tinggi. Sulit saya menjelasakannya. Coba saya analogikan dengan ketika membuat roti atau menyaksikan orang membuat roti. Hahaha.. ini memang analogi yang aneh tapi biar seru saja. Saya akan cerita ringan saja.
Dulu selama 8 tahun saya bekerja di bidang makanan. Yang paling utama yaitu berkecimpung di divisi pangang-memanggang, nama tempatnya Bakeshop. Nah, yang paling saya nikmati adalah ketika para karyawan sedang memotong-motong adonan. Ada rasa gemes yang memuaskan ketika saya menyaksikannya. "Gimanaaaa gitu ya rasanya!" Mungkin karena saya senang berimajinasi, sehingga entah bagaimana saya dapat ikut merasakan sensasi ketika memotong adonan dengan dough scraper. Itu satu hal. Yang kedua misalnya ketika para chef itu membuat roti focaccia. Ketika adonan ditaruh di baking sheet atau loyang tipis kemudian dibubuhi dengan minyak jaitun dan dengan menggunakan 10 ujung jari mereka mulai menekan-nekan sehingga timbul gelembung-gelembung di hampir seluruh permukaan adonan, itu juga memberikan perasaan sensasional yang sulit dapat saya gambarkan. Ada rasa puas tidak terkira menyaksikan itu semua. Jadi tidak heran saya sangat senang memanggang roti karena saya dapat dengan riang gembira menikmati kepuasan demi kepuasan ketika bermain-main dengan adonan.
Pengalaman saya di Bakeshop maupun di dapur sendiri memberikan kepuasan tiada tara. Nah membantu orang lain bahkan memberikan kepuasan yang jauh lebih intens. Mungkin karena merasa berguna, berbuat baik untuk orang lain dan sebagainya menjadikan saya akan lebih mudah menyetujui permintaan orang lain daripada menolaknya.
Ketiga, ada perasaan berat, sungkan dan tidak tega ketika menolak orang lain. "Lu mah kebanyakan mikir. Kalo engga bisa ya bilang ga bisa!" Begitu kata sahabat saya Aje dulu sekali. "Ga segampang itu." Kata saya. "Apa susahnya nyebut satu kata." Katanya sambil berlalu. Percakapan dengan sahabat saya yang baru beberapa waktu lalu pergi menghadap yang Ilahi masih sering muncul hingga sekarang.
Saya sering membayangkan bagaimana perasaan ditolak. Nah karena ini saya sering harus bergumul dengan perasaan bersalah ketika saya terpaksa harus menolak orang.
Iseng saya mencoba menyari tahu dari mesin pencari di internet. Lalu muncul penjelasan begini: Our brains are wired for social connection, and we fear that turning people down will lead to rejection, conflict, or guilt." Nah persis seperti yang saya pikirkan dan saya alami selama ini. Daripada menghadapi situasi semacam itu, pilihan saya jatuh ke tindakan sebaliknya denga mengatakan "ya", sebab saya merasa lebih mudah babak belur sendiri daripada dihantui rasa bersalah dan sebagainya.
Bayangkan saja, sampai seusia sekarang ini saya masih terus belajar mengatakan tidak. Kadang berhasil, lebih sering gagal. Saya sampai harus belajar strategi bahkan seni menolak. Luar biasa sekali bukan? Menolak itu memang butuh persiapan, butuh latihan dan yang saya yakini ini tidak mudah. Tapi satu hal yang saya yakini, saya punya pilihan dan itu adalah bagian dari personal freedom.
foto credit: bing.com
Ada di Kompilasi:
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00


