AES 158 To Let Go

Hari ke-3 saya tidak masuk kerja, ok tepatnya 2.5 hari karena Senin kemarin saya masuk 1/2 hari lalu pulang karena badan serasa kurang sehat. Pagi tadi begitu terjaga saya raih telepon dan menulis email ke Boss untuk ijin libur sehari lagi. Boss saya sangat baik, masih muda dan memiliki wajah mirip Celine Dion, bedanya dia tidak suka berhias dan suka pakai Jeans dan t-shirt, yang sebetulnya melanggar aturan pekerjaan yang seharusnya memakai baju "kantor". "Get a good rest, and if you are still not feeling well tomorrow, it's fine too" Maksudnya besok saya boleh bolos lagi hahaha.
Ya hari ini saya ingin beristirahat. Menikmati hari di dalam rumah. Di luar angin sangat besar yang kata ramalan cuaca sih lebih dari 20km/jam. Otomatis daun-daunan yang sudah mulai kering hari ini rontok semua. Alam bekerja sangat harmonis, karena katanya akan turun salju hari Minggu nanti, angin menyiapkan alam untuk menyambutnya dengan menggundulkan pepohonan. Pohon yang gundul tidak akan runtuh bila ditimbun salju, beda jika dedaunan masih rimbun, dahan-dahan pohon akan patah karena beban yang berat.
Sambil beristirahat saya membaca essay milik teman-teman di AES salah satunya milik Bang Ahkam yang bercerita tentang film yang akhirnya saya tonton baru saja. Film ini ada kemiripan dengan film jadul yang dibintangi Warren Beatty, film tahun 1978 yang berjudul Heaven Can Wait. Bedanya film itu lebih ke drama komedi, sementara Meet Joe Black memiliki konsep yang jauh berbeda, begitu detail walau saya agak ragu apakah mungkin ada seorang manusia yang bisa sehebat itu dalam menghadapi kematian. Hmm.. kalau dipikir-pikir, ada juga! Kalau ingat buku Tuesdays With Morrie. Bagaimana Morrie mengajarkan kita untuk dapat menerima kematian. Buku itu juga mengajarkan bahwa "not letting go won't change anything" sama dengan di dialog dalam film Meet joe Black yang saya kutip ini, dikatakan oleh William Parrish yang diperankan oleh Anthony Hopkins,"It's hard to let go, isn't it?", "what can I tell you, that's life!" Ya, seperti kata Bang Ahkam, ini magical realism. Film yang mengajarkan tentang cinta dan kehidupan, seperti salah satu kutipan yang juga dikatakan oleh Bill Parrish,"To make a journey and not fall deeply in love-well, you haven't lived a life at all!" film ini lumayan menyentuh persaan. It gives me chills and tears!
Ya, beberapa kali saya menulis esai di AES tentang akhir dari sesuatu yang baik. Melepaskan sesuatu yang kita sukai sangat sulit, menyakitkan dan sulit menghadapinya. Tulisan saya beberapa hari lalu saya akhiri dengan ini: "Do not cry because it is over but smile because it happened." Itu salah satu cara "to let go" karena sekali lagi seperti Morrie katakan bahwa kita harus bisa melepaskan jika ingin berubah. Ya belajar tentang hidup bisa diperoleh di mana saja, bahkan buku dan film. Lumayan untuk mengisi waktu istirahat.***
Komentar (3)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
