AES 184 Miracle

Menjelang akhir tahun, TV dipenuhi dengan banyak film tentang Natal. Kalau saya perhatikan di Netflix, Amazon prime dan lain-lain ada ratusan film yang bertemakan Natal atau peristiwa yang terjadi di seputar/sekitar Natal. Temanya rata-rata sederhana, menghadapi permasalahan, lalu karena Natal diidentikkan dengan the most wonderful time of the year, maka banyak keajaiban terjadi dan masalahpun terselesaikan.
Apakah pada kenyataan hidup selalu demikian? mungkin saja itu benar-benar terjadi tapi mungkin saja itu semua hanya sebagai bentuk harapan. Pertentangan dalam keluarga, misalnya, orang tua yang sudah bertahun-tahun tidak pernah berbicara, tidak terhubung satu sama lain karena sebuah peristiwa di masa lalu, pada malam Natal semuanya selesai. Atau cerita klasik, Christmas Carol, karangan Charles Dickens yang sudah berkali-kali difilmkan atau bahkan dibuat pertunjukkan musikal, teatrikal di banyak teater, bahkan di berbagai kota, Yang saya lihat saat ini ada di kota saya, Fort Collins, Denver, Minneapolis, Houston, Atlanta, Providence, Cincinnati, Kansas City Hingga di Chicago, dan banyak lagi! Entah ada berapa puluh atau ratus pertunjukan! Kalau di scroll down di telepon genggam saya bisa beberapa halaman banyaknya. Ya, cerita ini menggambarkan bagaimana Ebenezer Scrooge, berubah menjadi seorang yang baik di masa Natal. Ya, Natal digambarkan dalam ratusan atau ribuan cerita maupun film sebagai saat yang memberikan kebaikan, mendatangkan mukjizat dan keajaiban!
Lalu apakah saya percaya bahwa miracle happens, mukjizat itu benar-benar ada? Ya! Setiap saat! Tidak hanya pada saat Natal. Miracle happens all the time, hanya saja seringkali kita memaksakan kehendak sehingga yang terjadi yang tidak sesuai dengan keinginan kita dianggap bukan lagi mukjizat! Seringkali juga kita lebih mempercayai sesuatu sebagai sebuah kebetulan walau bisa saja unsur kebetulan itu memang merupakan bagian dari mukjizat itu sendiri, just a matter of perception!
“There is no such thing as chance, and what seems to us merest accident springs from the deepest source of destiny,” Kata Friedrich von Schiller, seorang pujangga asal Jerman. Suatu hal yang sederhana, yang seringkali dianggap sebagai suatu kebetulan, ternyata bermula dari bagian terdalam dari sebuah takdir. Seperti misalnya ada seseorang yang tertinggal pesawat karena ada kecelakaan di Jalan ketika menuju airport, kemudian dia terlepas dari kecelakaan pesawat terbang. Everything happens for a reason, it is a miracle! Bahkan banyak yang berkata bahwa there is no such thing as coincidence!
Banyak orang sengaja membedakan kebetulan dan miracle semata-mata hanya ingin menekankan keikutsertaan Tuhan. Nah saya jadi serius nih, padahal tidak bermaksud hingga sampai ke sini. Ya sudah, pendek saja. Kebetulan dianggap terjadi karena Tuhan tidak ikut-ikutan, sedangkan miracle terjadi karena Tuhan berperan di dalamnya. Pertanyaan saya, apa memang begitu? Nah ini perlu jawaban serius dan butuh waktu untuk menyimpulkannya karena ini menuntut kedewasaan iman. Sudah, tentang ini saya hanya segitu saja, sisanya silahkan jawab masing-masing karena ini bisa diperdebatkan sepanjang hidup! Semua kembali ke diri masing-masing.
Berdasarkan beberapa informasi yang saya baca, para ilmuan banyak mengumpulkan bukti-bukti kekuatan doa untuk penyembuhan. Mereka melaporkan banyak peristiwa terjadi dalam frekuensi yang luar biasa. Kekuatan doa tidak hanya meningkatkan kesehatan dan kehidupan individu, namun juga katanya mendoakan orang lain yang tidak menyadari bahwa mereka sedang didoakan menunjukkan korelasi positif dengan peningkatan kondisi fisik dan emosi orang-orang yang sedang sakit!
John T. Chirban, Ph.D, ThD, seorang dosen psikologi klinis di Harvard Medical Shool bercerita bahwa selama bertahun-tahun sebagai ahli psikologi, banyak pasien yang berbagi kisah mengalami keajaiban dalam hidup. Beliau berkata bahwa Tuhan bekerja melalui kita semua as long as we let HIM. Banyak hal yang tidak dapat dijelaskan, namun kekuatan dari miracle merupakan pesan yang mendukung akan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia.
Saya kok jadi seperti Pastor ya? hahaha... Bukan begitu, sama sekali saya tidak bermaksud menjadi seorang preacher. Tidak dan bukan. Hanya saja akhir-akhir ini saya memang sedang dirundung banyak keprihatinan berkenaan dengan seorang sahabat yang sedang sakit. Jadi sungguh-sungguh saya mengharapkan sebuah miracle! It is really the most wonderful time of the year, jadi saya mau banyak mendoakan sahabat saya ini, karena saya percaya pada miracle! Saya juga mengajak rekan-rekan yang mengenal sahabat saya ini untuk bersama-sama mendoakan.***
Komentar (5)
Ciri energi yg selaras itu gimana? Rasanya ringan, tanpa dorongan untuk mengatur hasil. Kalau ada dorongan untuk mengatur hasil biasanya datang dr ego. Cukup dikenali aja dan disadari, sehingga intensinya kembali murni
terima kasih @Andy Sutioso udh mention utk ikut baca!
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11


