AtomicEssay

AES 316 Susah Berhenti

joefeluspenulis arsip2

Apa yang membedakan kebiasaan dan rutinitas? Katanya yang membedakan adalah awareness, kesadaran! Kedua hal diatas, rutinitas dan kebiasaan adalah hal-hal yang biasa dilakukan, kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, repeated actions, Tapi kebiasaan adalah kegiatan yang otomatis, autopilot, sementara rutinitas adalah kegiatan yang intensional, diniati.

Saya lihat sudah ada 7 buku kompilasi tematik tulisan-tulisan Atomic Essay Smipa yang diterbitkan. Ini suatu yang betul-betul luar biasa. Kalau saya lihat di Google sheets, hampir 60 orang rajin menulis dan sudah hampir 3000 esai yang ditayangkan. Saya tidak tahu apakah ada komunitas lain yang dapat melakukan hal serupa ini. Ini sangat fenomenal bukan? Sementara bagi saya, coba bayangkan, bulan depan saya akan merayakan ulang tahun pertama menulis setiap hari yang tidak pernah saya sangka akan mampu lakukan.

Menulis setiap hari itu diawali dengan niat, secara intensional, lalu menjadi sebuah rutinitas. Di awal saya selalu berusaha mengingatkan diri, saya harus mewanti-wanti bahwa hingga nanti malam pukul 11:59 sudah harus berhasil menghasilkan satu esai. Di awal saya secara intensional menyempatkan diri dengan serius duduk di depan komputer dan menulis. Tidak mudah, sering kali duduk di depan komputer bermenit-menit hingga berlama-lama, layar monitor masih kosong. Keinginan menulis sangat tinggi tapi tidak tahu ingin menulis apa. Kadang intensi justru menghambat, yang spontan seringkali justru lebih lancar. Memanfaatkan dorongan impulsif untuk menulis seringkali lebih produktif, sehingga kemana-mana saya membawa laptop, tablet atau kalau tidak ada ya saya gunakan HP. Begitu ada ide langsung saya tulis, bisa satu paragraf, bisa 2 paragraf bahkan kadang hingga selesai.

Rutinitas membutuhkan latihan, butuh konsistensi sebab jika tidak dijalankan akan pudar lalu mati. Kasus semacam ini sering terjadi, oleh sebab itu intensi harus selalu dipupuk. Ini butuh waktu. Diawal memang tertatih-tatih, kadang hampir terlupakan apalagi pada hari yang penuh kesibukan. Begitu akan beristirahat baru teringat, di sini kekuatan komitmen diuji, jika menyerah maka rantai rutinitas terputus. Semakin sering menyerah, rutinitas semakin pudar, lalu mati.

Rutinitas lama-kelamaan akan bisa menjadi sebuah kebiasaan. Tapi bagaimana caranya? Kata ahli psikologi membangun kebiasaan itu butuh sekitar 66 hari, dan kalau kebiasaan itu adalah melakukan sesuatu tanpa adanya kehadiran intensi dan harus secara otomatis, ini terdengar sangat susah karena banyak hal yang saya lakukan seringkali bertolak pada awareness, kesadaran, karena saya ingin lebih mindful dalam berbagai hal di keseharian saya. Hmm... Ini membuat saya berpikir dalam-dalam.

Untuk mengubah rutinitas menjadi sebua kebiasaan, kegiatan kita harus terjadi tanpa atau hanya sedikit niatan. Contohnya kebiasaan minum ketika bangun pagi. Diawal kita secara intensional melakukan itu, lama lama ketika kita terbangun tanpa sadar langsung meraih gelas dan minum. Ini baru bisa disebut sebagai kebiasaan. Saya ingin menulis menjadi sebuah kebiasaan. Ini tujuan jangka panjang saya yang baru.

Menulis esai di AES sudah menjadi rutinitas bagi saya, tapi belum menjadi kebiasaan. Sesekali mungkin, seperti misalnya sedang melakukan pekerjaan tiba-tiba ada sebuah ide muncul lalu tanpa sadar saya langsung membuka laptop dan langsung menulis, semata-mata karena saya merasa sayang untuk melupakan atau mengabaikan ide itu. Jadilah sebuah tulisan. Apakah sudah menjadi habit? Tidak tahu juga. Yang pasti sekarang sudah sampai pada tahap di mana menulis itu menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan, sudah mulai seperti candu dan susah untuk berhenti. Ini saya anggap sebagai progress yang luar biasa. 316 hari, siapa yang pernah menyangka? Dan perasaan bahwa sudah berhasil sejauh ini, menulis selama 316 hari itu sangat luar biasa. Sangat disayangkan jika terhenti, tapi saya tidak khawatir karena dorongan untuk berhenti hampir tidak ada. Seperti barusan saya katakan, sulit untuk berhenti.

Aneh juga, bayangkan betapa anehnya jika saya harus berkata, "Saya harus membangun niat, meneguhkan tekad untuk berhenti menulis!" Seperti kopi, sulit sekali orang berhenti mengkonsumsi kopi, atau kecanduan akan nikotin. Butuh niat bulat untuk bisa berhenti. Nah apa mungkin ini terjadi pada rutinitas menulis????

Foto: dreamstime.com

Komentar (1)

Andy Sutioso

Keren banget Joe... Bahkan semakin banyak kita menulis tentang menulis semakin banyak dimensi dari menulis yang terus yang bisa kita temukan... Jadi semacam proses belajar yang tanpa henti... Nuhun pisan.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 489 Terbiasa

Hari ini tiba-tiba saya membaca banyak tulisan kakak-kakak di Smipa tentang nulis biasa, biasa menulis atau klab yang isinya hanya 1 orang dan lain-lain. Karena bingung dan penasaran saya membaca semuanya baru akhirnya mengerti. Lalu saya membayangkan serunya duduk bareng dan sama-sama menulis. Kal…

joefelus52
AtomicEssay

AES 1308 AES, Melatih Kebiasaan Berpikir

Satu hal yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan sesudah bergabung dengan kelompok menulis AES, kita di "paksa" memfokuskan diri untuk memikirkan satu hal, memilih satu dari banyak hal yang mungkin hadir dalam pikiran kita. Kita menjalani proses berpikir setiap hari, sepanjang hari dan merupakan ses…

joefelus34
AtomicEssay

AES 1077 Belum Menyerah

Kurang dari dua minggu lagi saya akan sudah bergabung dengan AES selama 3 tahun. Kalau kak Andy malah minggu depan. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, walau kalau dihitung satu demi satu, butuh waktu yang sangat panjang, butuh angka yang sangat banyak untuk mencapai saat sekarang. Tantangan t…

joefelus11