AES 484 Meditarranean Dish

Sudah lebih dari 30 menit saya memandangi layar monitor yang kosong. Ada sebuah garis kecil tegak lurus yang berkedip-kedip menunggu jari-jari saya memulai menekan tombol-tombol keyboard untuk menuliskan sesuatu. Di depan saya ada pertandingan football. Tadi Denver Broncos memenangkan pertadingan melawan Houston Texan dan sekarang Arizona Cardinals melawan Las Vegas Raiders yang berakhir sangat dramatis setelah melalui perpanjangan waktu.
Ada beberapa ide yang saya pertimbangkan untuk dikembangkan menjadi sebuah esai. Semuanya berhenti ketika saya mulai menulis beberapa kalimat. Saya tidak bisa konsentrasi untuk berpikir. Ruangan sangat harum makanan. Seharian saya membuat makanan Yunani. Cuma itu yang kemudian ada di pikiran saya. Gara-gara ruangan harum sepanjang waktu.

Itu ide Kano. Saya hanya menjalankan rencana. Jadi kemarin pagi saya sudah ke pasar membeli ribeye dan ayam. Mereka saya rendam semalaman dengan Greek yogurt, bawang putih, thyme, rosemary, cayenne pepper, black pepper, oregano, minyak jaitun dan jeruk lemon. Disamping daging, saya juga akan membuat nasi Mediterranean dengan paprika dan bawang bombay. Lalu diberi topping timun, alpukat, irisan selada dan tumisan bawang bombay dan cabe paprika serta yang tidak kalah pentingnya adalah pita bread dan hummus serta saos yogurt.
Saya menghabiskan hari minggu dengan masak. Karena setiap kali membuat steak, alarm berbunyi karena banyak asap. Saya akhirnya memutuskan untuk memasak di halaman belakang dengan menggunakan grill listrik. Sebelum bakar membakar saya membuat nasi dahulu yang dicampur dengar cabe paprika merah dan bawang bombay. Sambil menunggu nasi dimasak saya bekerja d halaman belakang yang memang sejak akhir musim Semi saya pasang meja besar. 3 potong daging ribeye besar yang sudah saya rendam semalaman saya bakar. Harumnya bukan main.

Memasak selalu dapat membuat saya rileks. Sambil mendengarkan musik dan ditemani sekaleng bir, saya bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain, tanpa perlu jaim hahaha.. Memasak menjadi seperti kegiatan yang mengistirahatkan pikiran dan menyegarkan kembali semangat dan kesehatan mental. Mungkin sama dengan orang yag hobby melukis. Pada saat menggambar semua konsentrasi, perasaan dan ide tercurah di sana. Pada saat itu segala beban pikiran dikesampingkan.
Puluhan tahun yang lalu saya hobby menggambar potrait. Hanya ada beberapa orang yang pernah saya gambar dengan menggunakan pensil. Hanya hitam dan putih. Entah mengapa saya berhenti, mungkin karena memasak jauh lebih menarik.
"Dad, when is the food ready?" Tiba-tiba Kano sudah ada di bawah.
"In about half an hour, rice and steak are done. I just need to prepare some sauteed onion, peppers, yogurt sauce, and I am done. Go take a shower, and the food will be ready when you're done." Kata saya pada Kano.
30 menit kemudian kano sudah siap dengan makanan di piring dan kembali menghilang ke kamarnya. Ini kedua atau ketiga kalinya saya membuat makanan mediterrania. Kali ini saya mencoba hal-hal yang baru. Kalau dulu-dulu saya menggunakan quinoa atau nasi safron, kali ini nasi dengan bawang dan cabe paprika. Hasilnya lumayan, yang penting saya merasa puas dan rileks. Kegiatan yang menyegarkan dan mengembalikan semangat untuk kembali memulai hari-hari sibuk esok hari.
Komentar (2)
Sepakat Pak, menemukan kegiatan yang membuat kita rilex itu menyenangkan
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31