AES 514 Apa Yang Perlu Saya Lakukan?

Adalah pertanyaan yang lagi sering saya dengarkan berseliweran di udara, ini dapat jadi salah satu indikator ketakutan . Takut salah, misalnya. Bahkan dengan kemampuan sebesar apapun dan keterampilan semahir apapun, akan batal oleh ketakutan berbuat salah ini. Mirisnya, salah yang terjadi pun bisa jadi bukanlah kegagalan aplikasi atau penyimpangan implementasi melainkan salah di mata orang lain saja. Yang bikin jadi lebih menakutkan adalah orang yang menilai benar salah itu berada pada kompetensi yang terdukung oleh sistem, terlepas dari kejelasan sistem dan terlepas dari tingkatan kompetensi orang tersebut.
Jadinya saya sedikit melihat-lihat kembali soal cynefin sense-making framework yang dulu sempat diintip, ketika masih berkutat di program KPB. Mengingat bahwa program ini sangat responsif terhadap realita yang dimasuki, sekaligus sangat sensitif terhadap interpretasi orang yang terlibat. Bahkan, tafsiran dan pemaknaan orang-orang yang terlibat langsung pun sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang menyaksikan tanpa bersentuhan. Sesignifikan itu memang, jarak 10 sentimeter. Makanya saya kira perlu memang kita semua yang berada dalam satu ekositem, untuk memiliki dan menggunakan satu kerangka bersama.
Tadinya saya begitu menyukai pendekatan kerangka kerja logis (logical framework approach -- logframe) sebagai instrumen yang paling familiar. Hanya, ternyata tidak semua orang mampu menggunakannya. Bukan tidak mampu menggunakan instrumen ini, melainkan tidak mampu menahan diri untuk mengkritisi cara menggunakan instrumen ini. Memang alasannya bagus, yaitu tidak menggunakan kalau belum memahaminya secara menyeluruh. Persoalannya, ada banyak yang baru bisa dipahami setelah menggunakannya. Akhirnya, kita perlu mundur lagi ke langkah sebelum logika. Yakni, kemasuk akalan (sensibilitas). Sepertinya pendekatan cynefin yang disederhanakan bisa bekerja dengan baik.
Langkahnya pada dasarnya sebagai berikut, tentu saja dengan kemungkinan yang sangat terbuka akan segala penyesuaian dan personalisasi.
Saat berhadapan dengan situasi nyata yang sedang terjadi, baik keterlibatan langsung ataupun menyaksikannya. Tanya, apakah saya memiliki gambaran besar yang jelas dan berani untuk saya tanggung konsekuensinya ketika bertindak (termasuk berkata-kata) berdasarkan pemahaman itu? Kalau tidak, berhenti terlibat dan serahkan kepada pihak lain yang mampu. Cukup jadi pendukung dengan memberikan opini terbatas, kalau ditanya oleh orang yang mampu tersebut. Kalau kita tidak melihat ada pihak lain yang mampu, bagaimana? Pergi dari situ agar tidak menghalangi orang lain yang mampu untuk masuk.
Kalau kita mampu menanggung konsekuensi dari apa yang akan kita katakan dan lakukan berdasarkan gambaran besar yang kita miliki terhadap realita yang terjadi. Tentukan secara subjektif saja apakah ini situasi crisis, clear, complex, atau complicated. Ya, tentukan saja secara subjektif tanpa ragu, karena penentuan yang kita lakukan menggambarkan kompetensi yang kita miliki saat ini. Suatu yang baik untuk disadari dan diterima demi pengembangan diri kedepannya, kan.
Crisis itu keadaan dimana penundaan tindakan akan membuat situasi dan kondisi lebih runyam. Jadi yang perlu kita lakukan adalah bertindak terlebih dahulu untuk mengurai keruwetan dan mengungkap kejernihan, barulah penjelasan datang kemudian. Clear itu keadaan yang sudah jelas dan tidak perlu banyak pengubahan, jalankan saja secara prosedural atau kebiasaan lama. Complex lah situasi yang membutuhkan penelaahan di awal, jadi tidak langsung bertindak karena memang ada waktu untuk menunda dan melakukan penelaahan terlebih dahulu.
Complicated adalah situasi yang sering dijadikan pelarian. Maksudnya, situasi ini mengungkap ketidak mampuan diri kita sehingga kita perlu bantuan pihak lain yang kompeten di bidang itu. Pelarian yang sering terjadi adalah, karena takut salah jadinya langsung melimpahkan ke pihak lain. Yaa.. kalau mau lebih terbuka lagi, karena takut salah pun kita seringkali menjadikan situasi crisis atau bahkan clear sebagai complicated . Yang lucunya lagi, kalau kita melarikan diri ke situasi complex. Entah itu memang tidak mampu atau takut salah, kita malah sibuk menelaah bukan untuk menemukan penyelesaian melainkan untuk menunda keputusan.
Lucunya adalah kita menunda keputusan yang kemudian tidak mampu memutuskan karena takut salah, akhirnya mengubah status kepada complicated dan melimpahkan kepada pihak lain yang sebenarnya kompetensinya tidak lebih tinggi daripada kita. Begitu tindakan dilakukan, kita dengan cepat membandingkannya dengan situasi clear atau crisis dan menemukan banyak kesalahan yang perlu diperbaiki oleh pihak lain itu. Niatnya baik, demi pembelajaran bersama. Pertanyaannya, apakah kita sungguh belajar? Yah.. complex memang.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

