AES 535 Surrender

Kalau menilik arti kata surrender, konotasinya begitu negatif. Pengertian yang diambil dari bahasa begitu bias sehingga orang yang sedang memperjuangkan hidupnya selalu menghindari kata surrender, menyerah. Karena sekali lagi dari segi bahasa, menyerah artinya melepaskan diri dari tantangan, berhenti berjuang, berhenti berusaha; angkat tangan, menyerah dan mengibarkan bendera putih.
Setiap hari dunia di sekeliling kita penuh dengan ketidak pastian dan berubah secara konstan. Pada suatu saat kita merasa terlempar dari kenyataan dan sulit mempertahankan kontrol kita terhadap keseharian. Kita selalu membuat daftar, menciptakan sistem, rutinitas, jadwal dan sebagainya agar menjadikan kita nyaman dalam menjalankan segala sesuatu. Kita selalu berusaha untuk tetap mengontrol segala situasi. Tapi segala hal yang kita lakukan itu seringkali tidak berhasil. Banyak kesempatan terlepas begitu saja dan kita menjadi terluka, kecewa, merasa gagal dan sebagainya.
Kemudian saya membaca sebuah artikel dan mengatakan bahwa kita harus bisa melepaskan semua usaha kita, kontrol kita sesekali. Kita berserah diri dan membiarkan semua itu. Pada saat itu kita akan dapat melihat dengan lebih jelas dan terang. Artinya bahwa kita harus bisa melepaskan sistem yang kita bentuk, insting untuk mengontrol dunia sekitar sesuai dengan yang kita inginkan dan berusaha menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Kita lepaskan itu semua dan sebagai gantinya kita rileks, menerima bahkan berserah diri terhadap semua ketidakpastian dunia. Kita let go, lepaskan, usaha kita untuk mengntrol segala sesuatu dan tersenyum pada dunia seperti apa adanya.
Dikatakan di artikel itu sebagai berikut:
It was only later that I was able to grasp the significance of that first moment of surrender. Surrender is not giving up on life but giving up fighting with life. And, when you’re not fighting with it, you’re working with life.
Dan pada saatnya, ketika kita mampu melepaskan seluruh kontrol kita terhadap dunia (yang seringkali tidak berhasil itu), akan terbentuk sebuah spektrum baru yang secara jauh lebih jelas yang akan mampu kita kontrol. Kita tidak lagi berjuang melawan dunia tapi kita bekerja sama dengan sekitar kita.
When I stopped fighting with my situation, my scope and options for positive action became clear, and at that point, I was in full control of the little space in my life that I actually could control.
Berserah diri ternyata membuat kita terbuka, hadir secara penuh dan sadar akan apa yang sedang berlangsung di sekeliling kita. Kita menjadi jauh lebih apresiatif dengan keadaan apa adanya dan semua itu membutuhkan energi yang jauh lebih sedikit daripada usaha untuk mengontol sekililing kita.
Foto Credit: wholelifechallenge.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11