AES 553 Sportsmanship

Bulan Desember tahun 2000, Di Canio sebenarnya bisa saja mencetak goal ke gawang Everton dan memenangkan pertandingan, tapi dia berhenti bermain walau dia berada di dalam kotak penalti ketika melihat keeper terbaring karena cidera. Para penonton berdiri dan bertepuk tangan memuji sportmanship yang dimiliki oleh Di Canio.
Tahun 2012 Megan Vogel, seorang siswi SMA di Ohio sedang berlomba lari di final 3200 meter. Dia pelari di urutan terakhir ketika Arden McMath yang berlari di depannya terjatuh dan cidera. Megan sebenarnya bisa saja terus berlari melewati Arden dan terhindar sebagai pelari paling buncit. Masih ada sekitar 20 meter hingga garis Finish. Megan berhenti berlari memapah hingga Arden dapat mecapai garis Finish di depan dia!
Dua cerita di atas adalah ilustrasi yang ingin saya gunakan untuk menunjukkan sportsmanship. Sengaja saya tidak menggunakan kata sportif, sebab sebetulnya jika mengambil dari kata sportive, artinya sangat bergeser dari sportsmanship. Sama seperti kata evakuasi yang sering salah penggunaannya dalam bahasa Indonesia. Evakuasi adalah upaya menindahkan orang-orang dari lokasi berbahaya ke tempat yang aman agar selamat, tapi kata tersebut tidak biasa digunakan untuk "memindahkan" korban yang sudah meninggal. Eniwei (hahaha.. ini bahasa apa pula?), kembali ke topik semula.
Konsep sportsmanship diartikan sebagai konsep interpersonal dalam (misalnya) olahraga dimana setiap orang saling meninggikan keadilan dalam bermain, menjaga kontrol diri dalam berhadapan denganorang lain, dalam hal ini lawan bermain, serta saling menghormati wasit, misalnya, dan lawan bermain. Pada intinya sikap sportsmanship ini ditegakkan agar permainan dapat dinikmati, dan menyenangkan, mengetengahkan konsep persahabatan, saling hormat, etis, fair, dan hal-hal lain yang terpuji. Jadi sebetulnya konsep sportsmanship ini tidak hanya diterapkan dalam pertandingan olahraga, politik juga sebetulnya harusnya begitu sehingga misalnya dalam pesta politik, pemilu misalnya, masyarakat dapat menikmati, bukannya saling mencela, bermusuhan karena berbeda pendapat atau bahkan kerkelahi. Sportsmanship adalah konsep yang sangat mulia dan butuh kematangan mental dan kekuatan nurani!
Kenapa sih saya iseng banget nulis tentang ini? Hahaha... Sesungguhnya saya sering merasa terganggu akhir-akhir ini ketika menonton sepakbola piala dunia. Saya tidak bermaksud membandingkan dengan pertandingan jenis olahraga yang lain, tapi terus terang saya lebih sering dapat menikmati pertandingan olahraga cabang lain.
Sudah lama sekali memang saya tidak menyaksikan pertandingan sepak bola, mungkin terakhir malah 4 tahun lalu ketika juga iseng menyaksikan pertandingan piala dunia yang kemudian juaranya diraih oleh Perancis. Satu hal yang membuat saya tidak selalu suka menonton adalah karena tingkah laku para pemain yang sangat manipulatif. Permainan sepak bola memang manipulatif, berbagai teknik dilatih untuk mengecoh lawan, tapi itu memang bagian dari strategi permainan. Istilah manipulatif yang saya ungkapkan bukan mengenai teknik permainan tapi perilaku yang dijalankan demi memanipulasi keputusan otoritas pertandingan, memanipulasi wasit. Nah di sini yang sangat menganggu. Permainan yang baik dan menarik seringkali dirusak karena ulah semacam ini. Salah satu yang saya lihat di permainan ini adalah keputusan wasit seringkali begitu "absolut" dan tidak dapat diganggu gugat, sehingga ini dimanfaatkan dengan perilaku manipulatif para pemain untuk mempengaruhi keputusan. Untungnya sekarang sudah dimulai sebuah tindakan yang lebih fair, yaitu review dengan mengunakan teknologi seperti misalnya rekaman TV dan sering justru mengubah keputusan yang salah sehingga sangat jauh lebih fair.
Hal yang sangat mengganggu dan membuat saya kurang menyukai permainan ini adalah kepura-puraan pemain untuk mempengaruhi wasit. Ini suatu lagi tndakan manipulatif dalam konotasi negatif. Beberapa tulisan terakhir saya sedikit menyindir karena ketidaksukaan saya yaitu dengan istilah "pemai seolah-olah barusan ditabrak traktor" walaupun begitu melihat rekaman ulang, ternyata tersentuh saja tidak. Nah ini sangat menyebalkan.
Permainan sepakbola memang menurut saya permainan fisik yang cenderung "keras" dan mudah cidera karena perlengkapan pengaman yang minim. Karena pengamanan yang minim, para pemain sering merasa kesakitan bila bertumbukan, nah kedewasaan emosi memang sangat diuji di sini. Sekali lagi saya tidak mau membandingkan permainan ini dengan permainan yang lain karena kondisinya jauh berbeda. Olahraga ini memang yang paling populer di dunia, paling banyak penonton di seluruh dunia yang menyaksikan permainan ini. Ya mudah-mudahan saja semakin membaik sehingga lebih menyenangkan dan enak dinikmati. Dan kuncinya satu kata tadi, yaitu sportsmanship!
Foto Credit: play-lu.com
Komentar (4)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31