AtomicEssay

AES 62 Mengapa harus sepakat?

matheusaribowopenulis arsip2

"Membutuhkan inspirasi bisa terjawab dengan membaca tulisan Kak Leo." Eiiits, tunggu dulu. Terjawab? Kami semua saling melempar senyum menyepakati hal yang bahkan tak saling kami jelaskan. Namun kami paham bahwa tulisan-tulisan Kak @leoamurist memang selalu membawa tanya dan penelusuran di belakang, kanan, kiri, atas, mungkin bawahnya juga. Karena kami mengenal atau setidaknya tahu bagaimana gaya menulis Kak Leo, dengan sepenggal kalimat di awal itu saja rasanya cukup untuk membuat kami semua sepakat. Tetapi semudah itu kah untuk bersepakat? Terutama untuk hal-hal lain di luar sana? 

Menyoal sepakat, dan menyepakati kesepakatan, kita pasti punya teman atau seseorang yang dengannya kita bisa bersepakat tentang banyak hal tanpa penjelasan verbal. Bahkan kesepakatan bisa terjadi hanya dengan lirikan atau kedipan mata. Coba pikirkan sejenak, siapa, apa topik kesepakatan, dan seberapa sering kita membuat kesepakatan dengan cara-cara yang sedemikian mudah? Apakah hal yang kita sepakati selalu dicerna dengan pertanyaan "mengapa kita menyepakati itu?" Ah, kalau diteruskan sepertinya ini malah jadi banyak pertanyaan. Pada proses di kelas, sebagai guru kita pasti pernah hanya tersenyum sambil memandang mata seorang anak yang menatap penuh harap untuk mendapat konfirmasi, kan? Tanpa disadari itu sering terjadi. Tetapi menyepakati sesuatu tak selalu semudah itu, dan lebih banyak justru memerlukan penjelasan dan contoh konkrit. Itu pula yang terjadi hari-hari ini dalam kehidupan bernegara.

Lebih dari tiga bulan ke belakang kita disibukan dengan serbuan pemberitaan pesta demokrasi. Semua media berlomba membuat judul yang menarik demi mencuri perhatian pembaca atau pendengarnya. Tak ubahnya para pemeran utama dalam pentas 5 tahunan ini, rupa-rupa program dibuat untuk mendapat perhatian sebanyak-banyaknya. Tetapi tujuannya sama, baik media maupun para aktor politik ini ialah ingin mendapatkan kesepakatan kita. Sepakat untuk memilihnya. Tak khayal visi, misi, dan berbagai gimmick dirancang seindah-indahnya. Meskipun pernah kutemukan celoteh Pak Singgih (Penggagas Pasar Papringan dan Spedagi) di instagramnya yang terang-terang mengatakan "hehe calegnya kurang kreatif.. Nggak efektif, mengganggu keindahan lingkungan, belum nanti akan nyampah juga." Saya langsung sepakat dengan pernyataan itu. Bukan tanpa dasar, lihat saja semua bentuk baliho yang monoton dan terkesan template, memenuhi semua sudut kota dan desa hari-hari ini. Tetapi dari sekian banyak baliho yang terpasang, tetap wajah Komeng yang mendulang suara terbanyak, dan kita semua tahu, Komeng tidak memasang baliho, tidak menjabarkan program, dan tidak menjanjikan apapun. Jadi, apa yang kita sepakati dengan Komeng dan apa kesepakatan kita tentang pesta demokrasi kali ini? 

Saya jadi ingat salah satu bagian yang kusepakati dari hasil diskusi saat Jumatan sore ini di sekolah, tentang pemilu dan peran kita sebagai pendidik. Bahwa kita perlu mengajarkan respek dan etika sedari dini di sekolah, terutama pada kenyataan bahwa memilih bukan hanya tentang menjadikan pilihan kita menang. Memilih atau menyepakati pilihan tidak selesai pada terpilih atau tidaknya pilihan kita. Tetapi juga pada proses legowo jika pilihan kita tidak terpilih, dan proses mengawal pilihan kita pada jalur kebaikan yang kita yakini dengan dasar kepentingan umum. Sehingga kita tidak lantas apatis jika yang terpilih bukan pilihan yang kita sepakati, karena bisa saja programnya bagus bagi kepentingan umum. Sebaliknya, bisa juga pilihan kita kurang bagus dalam tindak tanduknya nanti, dan kita harus tetap berani menyuarakan demi kepentingan umum. Dengan ini semoga kita semua sepakat bahwa apapun pilihannya minumnya tetap .............. Sepakat?

*Gambar ilustrasi diambil dari: https://digo.id/detail-news/foto-nyeleneh-komeng-sukses-nyaleg-karena-usulnya-ditolak-dpr

Komentar (2)

leoamurist

sepokat salamlimajari

maulrest

wah ternyata tulisan ini ditunggangi oleh industri minuman yang meng-endorse Kak Mamat. Udah kebaca arahnya ke mana nih, apapun pilihannya ya minumnya tetap beli di warung Ibu Susi Komplek Bhayangkara Cileunyi...

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES887 Berkata Cukup

Sejak beberapa hari lalu, kita dihadapkan dengan kejadian yang mengiris perasaan. Ratusan korban jiwa akibat banjir, ribuan rumah, kerusakan tak terhitung akibat banjir besar di Sumatera. Detailnya tidak perlu dituliskan di sini, skalanya tidak terbayangkan. Mengingat bencana tsunami yang pernah me…

Andy Sutioso10
AtomicEssay

AES861 Menyempitnya Ruang Sakral Kehidupan

Hmm, tetiba terlintas untuk menulis tentang ini. Gegara Sabtu lalu saya menghadiri pernikahan anak teman SMA saya. Upacaranya bagus banget, khidmat, khotbahnya menarik dan banyak mengajak refleksi diri terhadap proses saya berkeluarga selama ini. Khidmat, sakral, itu yang terasa, didukung oleh lagu…

Andy Sutioso20
AtomicEssay

AES 1500 The right Thing To Do

"They didn’t do it for recognition. They did it because it was the right thing to do." Lewat tengah malam pada tanggal 24 April 2018, kantor polisi di Michigan State mendapat panggilan telepon yang membuat jantung Letnan Mike Shaw hampir copot. Ada seorang pria yang berdiri di pinggir jembatan peny…

joefelus42