AES 681 Being A Victim Is "Good"

Di luar turun salju sepagian. Ini "Natal" saya yang kesekian kalinya. Sudah 3 kali turun salju di musim semi. Buat saya sih seru saja, walau membersihkan kendaraan di pagi hari mulai menjadi ritual yang kurang menyenangkan hehehe.
Sambil memandang keluar jendela di kantor saya masih terus berpikir tentang "diskusi" saya dengan Deepak Chopra. Kemarin saya ngobrol soal core self, yang merupakan kekuatan diri dalam menghadapi ketidak berdayaan, agar hidup kita pada intinya dikendalikan oleh diri sendiri bukan orang lain, seperti ibaratnya cerita tentang perjalanan hidup tapi yang menulis saya sendiri, jadi jalan ceritanya, pilihan arah perjalanannya serta ending-nya saya yang mengatur. Jika core self nya bagus, kita tidak akan menjadi victim, menjadi korban, karena itu artinya kita dikendalikan oleh orang lain.
Nah diskusi yang berikutnya Chopra mengatakan agar kita berusaha menyimak bahwa ada baiknya menjadi victim. Loh kok? Iya saya juga bingung. Katanya suruh mengusahakan agar core selfnya berkembang supaya tidak, menjadi victim, tapi sekarang dikatakan bahwa menjadi victim ada baiknya juga. Hmm..
Chopra mengatakan ketika kita mulai mengupas self worth, maka kita selangkah lebih dekat untuk menjadi victim. Nah sebelum saya berdisusi soal menjadi victim, saya ingin mengupas sedikit tentang self worth yang dimaksud olehnya.
Kita seringkali berusaha menemukan identitas diri melalui relasi, pekerjaan, prestasi, kepemilikan, kepribadian maupun penampilan tubuh. Semua hal tersebut dikenal dengan istilah "object-refferal" yang maksudnya adalah kita mengidentifikasikan diri dengan objek di luar diri kita. Hanya saja, secara alami, objek diluar diri kita selalu berubah dan selama kita mengidentifikasikan diri kita dengan obejk-objek itu kita tidak akan pernah mengenal identitas sejati kita. Kita merasa bahagia ketika segala sesuai berjalan sesuai dengan keinginan kita tapi kita selalu dilanda insecurity karena kita tahu segala sesuatu yang diluar diri kita itu tidak abadi dan bisa hilang kapanpun. Berbeda halnya jika identitas diri kita dikaitkan dengan self-referral, yang maksudnya adalah jika kita mengkaitkan indentitas diri dengan inner-self. Self-referral merupakan kondisi kebahagian diri sendiri yang melekat dengan yang ada dalam diri kita, jati diri kita sehingga tidak terikat dengan apapaun yang terjadi di luar kita.
Jika self worth kita tergantung pada bagaimana pengakuan orang lain terhadap kita, makakita tidak akan bahagia ketika mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Jika harga diri kita tergantung pada penampilan, maka kita akan sangat amat terganggu ketika wajah kita tiba-tiba penuh jerawat hahahaha... Atau jika kita tergantung pada benda-beda dan kemewahan, maka begitu semua itu menghilang, kita juga akan langsung jatuh. Sepertinya kita baru sampai pada taraf ini bukan?
Nah sekarang kembali ke diskusi tentang victim. Sesudah kita mengupas self worth diri kita, itu artinya kita selangkah lebih dekat untuk menjadi victim. Menjadi "korban" ketika self worth kita hanya dikaitkan dengan self-referral, maka menjadi korban justru bisa dilihat segi positifnya. Rasa sakit yang kita alami katanya menjadi semacam selfless pain, seperti yang dialami oleh para martir. Rasa sakit dan penderitaan yang kita alami demi kebajikan, apalagi jika dikaitkan dengan aspek religi.
Orang yang menjadi korban merasa khawatir setiap saat, tapi rasa khawatir itu justru membuat kita jauh lebih rentan terhadap hal-hal buruk secara umum karena rasa khawatir menyita pikiran kita sehingga tidak bebas dan tidak memberikan peringatan terhadap ancaman yang jauh lebih nyata daripada yang ada dalam pikiran. rasa khawatir seolah-olah sebagai rambu-rambu yang melindungi namun pada kenyataannya justru sebaliknya. Nah dengan menyadari kondisi seperti ini, kita akan jauh lebih mengerti dan lebih waspada bahwa rasa khawatir seringkali justru menyesatkan daripada melindungi.
Orang yang menjadi korban menemukan banyak alasan yang baik dalam kondisi buruk. Seperti kita di Jawa sering mengatakan "untung" walau menghadapi hal yang buruk. Tertabrak kendaraan dan kaki patah masih merasa beruntung karena tidak meinggal. Toleransi dan sikap memaafkan yang kita miliki begitu tinggi. Coba jika kita menjaga jarak, kita dapat melihat bahwa orang yang menjadi korban sebetulnya menimpakan penderitaan pada dirinya sendiri, itu sekaligus menunjukkan ketidak berdayaan mereka dan mendorong mereka untuk terus tumbuh dan berkembang.
Hmmm... lelah juga ya berdiskusi tentang ini! Hahaha..
Foto credit; huffpost.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1579 10 Tahun
Entah sudah berapa kali saya menulis untuk diri sendiri sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, atau mungkin hanya sekedar bertanya-tanya saja, atau hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu.Pertanyaannya sederhana, "Seperti apa saya 10 tahun lagi." Dah, itu aja!Kalau di…
joefelus00
AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20