AES 687 Bukan Cerita Musim Semi

Musim semi sudah berlangsung selama beberapa minggu. Belum terlihat perubahan yang nyata kecuali rumput semakin menghijau dan bunga mulai bermunculan walau pohon-pohon masih gundul. Yang terasa juga adalah suhu semakin hangat, hari ini pagi sudah di atas 2 derajat Celcius, sementara siang hari 24 derajat. Besok malah sudah seperti di Bandung, 29 derajat, bedanya di sini kering, tidak lembab. Yang saya rasakan juga adalah siang lebih panjang dari malam hari. Pukul 6:30 matahari sudah terlihat dan baru tenggelam pukul 7:30.
Sebentar lagi pepohonan mulai keluar daun bahkan sebagian bunga muncul terlebih dahulu. Di berbagai tempat cherry blossoms, tulips dan sakura mulai menghiasi kota. Indah sekali, tapi dada saya terasa sesak. Beberapa hari ini saya sudah mulai mencari tempat tinggal untuk Kano. Harga sewa di sini mahal sekali, dan saya berusaha mencari tempat yang dekat dengan kampus, sehingga Kano bisa ke kampus dengan naik sepeda atau menggunakan bus kota. Dada saya begitu sesak karena itu artinya perpisahan sudah semakin mendekat. Musim semi di mata saya saat ini tidak ada indahnya lagi, malah merasa susah dan sedih.
Saya yakin perasaan ini tidak hanya saya sendiri yang alami. Kano juga terlihat merasa terganggu ketika saya menyebutkan ada sebuah apartemen yang lumayan bagus dan dengan harga terjangkau. Dia tampak berusaha menutupi perasaannya dengan menunjukkan kejengkelan. Pada saat itu saya tidak mengerti, jadi saya menanggapinya dengan "diam". Untuk apa menanggapi dengan hal yang negatif juga karena tentunya tidak akan menghasilkan sesuatu yang produktif. Saya harus memberi dia ruang untuk mengolah perasaannya, disamping itu juga saya harus berpikir dan berusaha mengerti mengapa dia melakukan itu. Dia bukan menunda-nunda, tapi dia masih belajar untuk dapat mengolah perasannya dan itu tidak mudah.
Saya masih ingat dengan jelas bagaimana sulitnya menghadapi rasa sepi ketika tinggal berjauhan dengan keluarga. Bayangkan saja, dulu saya hanya tinggal beberapa jam dari keluarga, Kano tentunya berbeda lagi, dia akan berpisah ribuan kilometer dengan keluarganya. Ini suatu yang tidak sederhana. Sekarang bayangkan, saya saja yang usianya beberapa kali lipat Kano masih merasa sedih dan terganggu, apalagi dia yang masih harus belajar mengolah segala bentuk perasaan? Dia masih harus terus menghadapi hal-hal yang "pertama" dia alami. Yang harus saya pelajari dalam hal ini adalah memberi dia waktu dan kesempatan untuk mengolahnya. Tidak mudah, wong saya saja kesulitan, apalagi dia.
Tidak ada kata siap untuk hal semacam ini kecuali mengalaminya dan berusaha mengolahnya. Buat kami, saya dan Nina sebagai orang tua, juga merupakan hal yang baru. Bagi kano akan amat sangat sulit sebab dia masih muda. Saya waktu itu masih jauh lebih mudah karena yang dipikirkan hanyalah jarak sekian ratus kilometer, sementara Kano yang harus diolah adalah jarak yang ribuan kilometer.
Secara nalar memang dia mengerti mengapa keputusan ini kami (Nina, Kano, dan saya) setuju untuk diambil. Kerja otak dan perasaan tidak selalu berkesinambungan. Yang benar untuk diputuskan belum tentu mudah untuk dirasakan. Beberapa kali dia mengungkapkan bahwa kami harus sering video call, bahkan Kano mengusulkan agar saya membeli VR Oculus Quest agar bisa bermain bersama, hahahaha. Lah, wong saya tidak pernah main, kok. Tapi saya dapat menangkap maksud dia, bukan bermainnya yang penting tapi kebersamaannya. Ini akan menjadi pengalaman pertama kami tinggal berjauhan dalam waktu yang sangat lama. Saya yakin kami akan bisa melaluinya walau tidak mudah. Kami akan menjadi terbiasa dan Kano juga akan terbiasa hidup mandiri tidak terhgantung pada orang tuanya lagi. Terlalu muda kah? Mungkin saja, tapi saya yakin dia akan bisa!
Nah sekarang, tulisan ini apa hubungannya dengan judul? Hahaha.. Tidak ada! Tulisan ini memang tidak saya rencanakan. Awalnya hanya ingin ngobrol tentang musim semi, tapi ternyata melebar menjadi cerita tentang apa yang saya rasakan saat ini. Beberapa hari ini memang agak sulit bagi kami karena komunikasi agak tersendat-sendat, sekarang saya mengerti dan tampak jelas sebetulnya apa yang sedang kami alami. Mudah-mudahan ke depan saya bisa lebih mindful karena semakin mendekati akhir musim semi, akan semakin berat yang harus kami hadapi. Nah judulnya saya ganti dari "Musim Semi" menjadi "Bukan Cerita Musim Semi". Hehehehe.
Foto credit: Istock.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1579 10 Tahun
Entah sudah berapa kali saya menulis untuk diri sendiri sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, atau mungkin hanya sekedar bertanya-tanya saja, atau hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu.Pertanyaannya sederhana, "Seperti apa saya 10 tahun lagi." Dah, itu aja!Kalau di…
joefelus00
AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20