AtomicEssay

AES 694 Penderitaan

joefeluspenulis arsip2

1 kilometer pertama adalah penderitaan yang kadangkala sangat tidak tertahankan. Pada saat itu saya benar-benar mempertanyakan apa tujuan diri saya memaksakan diri melalui penderitaan ini. Dada saya terasa ingin pecah karena suplai oksigen berkurang, seluruh tubuh menjerit memohon siksaan ini dihentikan. Hanya satu yang saya tetap pertahankan dalam pikiran, yaitu saya menjalani penderitaan ini demi kesehatan. Pada saat yang sama, di sisi lain, pikiran saya mempertanyakan mengapa untuk tujuan yang baik selalu harus dilalui dengan penderitaan? Pertanyaan-pertanyaan itu timbul silih berganti tanpa ada jawaban yang memuaskan, sementara saya terus berlari. Tubuh ini terus memohon untuk menghentikan semua siksaan, dan pikiran saya terus berusaha bertahan.

Belakangan ini saya sungguh-sungguh mempertanyakan konsep pederitaan ini, seperti misalnya pisau menjadi tajam sesudah di asah, demikian juga dengan pensil, untuk bisa memiliki ujung yang lancip harus melalui penyerut. Semua orang pergi ke gym melalui penyiksaan sehingga otot-ototnya matang dan kuat. Atau seperti kepompong yang harus berusaha keras keluar dari cangkangnya ketika menjadi kupu-kupu. Kerja keras semacam itu memastikan bahwa sayap-sayapnya akan menjadi kuat sehingga pada saatnya akan mampu terbang.

Ketika menderita, yang ada dalam pikiran kita hanyalah penderitaan dan berharap bahwa itu akan berakhir. Pada saat menderita kita bertanya-tanya mengapa kita harus menderita? Tidak bisa kah dalam semesta ini hanya ada kebahagiaan? Kita tidak sadar bahwa penderitaan dan kebahagiaan harus sama-sama berdampingan, tanpa kehadiran penderitaan, maka kebahagiaan juga tidak pernah ada.

Filsafat Timur berbicara tentang keseimbangan. Kita harus dapat berimbang antara bekerja dan bermain, ada miskin ada kaya. Ketika mengalami ups dan downs dalam hidup, itu artinya keseimbangan sedang dalam kondisi terganggu. Di dalam Taoism ada keseimbangan antara yin dan yang, Di dalam Buddishm dan Confucianims juga mengenal konsep yang serupa. Pada intinya, dua sisi harus ada berdampingan. Tanpa ada kanan maka tidak ada kiri, tanpa ada penderitaan maka tidak ada kebahagiaan.

Thich Nhat Hanh, seorang master Buddist zen dalam bukunya No Mud No Lotus mengajarkan bagaimana meraih kebahagiaan dengan melalui penderitaan. Beliau mengatakan bahwa cara mencapai kebahagiaan adalah dengan mengenali dan mengubah penderitaan, bukan menghindarinya.

Photo credit:runningshoesguru.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31