AES 706 Refleksi 1: Kekayaan Dalam Hidup

Seorang kaya mengajak anaknya yang masih kecil tinggal di kampung sederhana untuk beberapa waktu. Dia ingin menunjukkan pada anaknya tentang kemiskinan. Mereka tinggal bersama keluarga petani yang sangat miskin. Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya:
"Bagaimana perjalanan tadi?"
"Sangat baik, ayah!"
"Kamu lihat bagaimana mereka hidup?"
"Iya."
"Nah sekarang kamu ceritakan apa yang yang kamu pelajari dari perjalanan barusan." Kata ayahnya lagi
"Kita memiliki satu anjing, mereka punya empat. Kita punya kolam renang mereka mempunyai sungai-sungai, Kita memiliki lampu-lampu di rumah untuk penerangan, mereka mempunyai bintang di langit. Kita membeli makanan, mereka menanam makanan mereka sendiri, Kita dikelilingi tembok untuk menjaga keamanan, mereka dikelilingi teman-teman. Kita memiliki televisi, mereka menghabiskan waktu dengan keluarga dan kerabat." Cerita anaknya
Sang ayah tidak mampu berkata apa-apa. Lalu anaknya melanjutkan," Terima kasih ayah sudah menunjukkan betapa miskinnya kita."
Cerita di atas berusaha menggambarkan bahwa materi dan uang bukan merupakan kunci yang menjadikan hidup kita kaya. Kesederhanaan, kasih sayang, persahabatan, keluarga dan nilai-nilai kehidupanlah yang membuat kita kaya.
Renungan pertama yang akan saya lakukan kali ini adalah memikirkan tentang kekayaan dalam hidup. Seringkali kita membandingkan diri dengan orang lain. Saya yakin hal ini dilakukan oleh banyak kalangan. Lihat saja di Instagram atau FB kita banyak menyaksikan unggahan-unggahan yang luar biasa tentang liburan, tentang gaya hidup, tentang materi yang dimiliki dari gawai hingga rumah dan kendaraan. Siapa yang tidak ingin memiliki semua itu? Lalu kita tanpa sadar membandingan diri sendiri dengan mereka. Kita ingin seperti mereka bahkan tidak jarang kita iri. Pertanyaan saya, apakah semua itu menjadi tolak ukur dari keberhasilan dalam hidup? Apakah hanya materi yang menjadikan diri kita kaya?
Apa yang sebenarnya memberikan dampak yang paling besar dalam hidup? Salah satu cara untuk mengetahui apa yang paling berarti dalam hidup adalah dengan menyingkirkannya, dengan mencabutnya dari kehidupan kita. Saya ambil satu contoh: Keluarga. Apakah kita akan merasa begitu bahagia dengan memiliki segala sesuatu di dalam hidup tapi tanpa didampingi oleh keluarga? Saya punya kendaraan termewah, rumah yang besar dan indah serta uang yang tidak terbatas tapi tanpa kehadiran keluarga. Apakah saya akan bahagia?
Kesehatan. Saya dikelilingi oleh semua orang yang saya cintai, memiliki harta berlimpah tapi kesehatan saya terganggu dan tidak mampu melakukan kegiatan fisik yang wajar, tergantung pada obat-obatan dan sebagainya. Apakah saya dapat mengatakan hidup ini bahagia?
Waktu. Saya memiliki segala sesuatu yang menjadi angan-angan semua orang. Saya juga hidup dengan kasih sayang berlimpah dari keluarga, tapi saya hanya punya 1 hari lagi untuk hidup. Apakah saya bahagia?
Saya lalu merenungkan semua itu sepanjang pagi. Kebetulan hari ini ada berita seorang sahabat membutuhkan donor darah. Teman-teman yang lain mulai sibuk untuk membantu. Teman, sahabat adalah salah satu kekayaan dalam hidup, tanpa mereka dan keluarga maka kita akan sendirian. Saya hidup di rantau selama belasan tahun, jika ditambah dengan masa-masa sekolah dan jauh dari keluarga, maka bisa saya katakan hampir 3/4 hidup saya dikelilingi teman-teman. Tanpa mereka maka belum tentu saya bisa seperti sekarang ini. Tanpa mengecilkan peran keluarga, teman dan sahabat tidak kalah pentingnya dalam hidup bahkan pada saat-saat tertentu teman justru lebih sering menyertai kita dibandingkan dengan keluarga.
Akhir-akhir ini saya mengalami banyak kekecewaan, di pekerjaan, kondisi kesehatan dan masalah lainnya. Selama beberapa saat saya begitu terganggu dan stabilitas emosi saya juga terpengaruhi. Pagi ini ketika merenungkan semua kejadian akhir-akhir ini, saya bisa menarik sedikit pelajaran. Semuanya itu penting, tapi bukan hal terutama dalam hidup. Saya memiliki banyak kekayaan: keluarga, waktu, sahabat dan kesehatan. Sangat disayangkan jika kekayaan itu saya sia-siakan hanya semata-mata karena perhatian saya terfokus pada hal-hal sepele semacam itu. Pekerjaan itu penting, karena tanpa itu kita akan mengalami kesulitan dalam menjalani hidup, tapi itu bukan bagian dari kekayaan hidup yang paling penting.
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20
AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
