AES 707 Refleksi 2: Musik

Hari kedua saya dalam rangkaian refleksi yang sedang saya lakukan adalah tentang musik. Sengaja saya memilih yang agak ringan supaya berimbang. Besok saya akan merefleksikan sesuatu yang lebih serius, kemudian yang agak ringan lagi dan seterusnya.
Pernahkan meneteskan air mata ketika mendengarkan musik? Saya pernah! Sering malah. Musik dalam berbagai styles dan genre seperti misalnya musik aternatif, klasik, pop, jazz dan sebagainya menurut saya adalah bahasa universal yang semua orang dapat mengerti. Tidak peduli musik dan lagu itu dari bahasa apa, musik mempunyai kekuatan untuk memunculkan emosi ke alam sadar, bahkan suatu emosi yang sudah sekian lama kita pendam. Musik mempunyai kekuatan yang luar biasa bahkan mampu menyatukan manusia bahkan mereka yang tidak bisa saling berkomunikasi karena memiliki bahasa verbal yang berbeda. Musik adalah bahasa universal.
Saya beruntung sejak masih sangat kecil, sejauh saya mulai mampu mengingat, dibesarkan berdampingan dengan musik. Bukan keluarga yang mampu memainkan alat musik atau memiliki suara yang baik, sama sekali tidak, tapi dari keluarga yang mencintai musik, terutama ayah saya. Ayah saya tidak pernah menyanyi, seumur hidup saya belum pernah mendengar ayah saya bersenandung sekalipun, sama sekali tidak. Ketika menikmati musik, beliau memejamkan mata. Entah apa yang ada di dalam benaknya ketika menikmati saat-saat itu, seandainya saja saya tahu. Setiap pagi ketika matahari belum terbit, antra pukul 4 atau 5 pagi beliau sudah memutar lagu, seluruh rumah dapat mendengarkan musik. Ini saat-saat yang bagi saya sangat menyenangkan, Seringkali saya tidak beranjak dari tempat tidur hingga saatnya untuk mandi dan pergi ke sekolah hanya sekedar agar dapat menikmati lagu-lagu yang ayah saya putar. Itu yang menjadikan hidup saya selalu berdampingan dengan musik, hingga saat ini.
Pindah dari rumah setelah lulus SMA, ketika membersihkan gudang di Biara, saya bersama frater teman sekamar menemukan reel to reel tape recorder. Saya tidak tahu namanya apa, yang jelas seperangkat player dengan 2 roll tape. Kami berdua kebetulan punya hobby elektronik, sehingga benda ajaib yang kuno itu dapat kami hidupkan kembali dan menemani saya selama 2 tahun. Saya meminjam kaset musik dari teman-teman dan saya rekam kedalam 2 roll tape itu. Entah dapat memuat berapa kaset, banyak pokoknya! Pada saat itu yang saya ingat lagu-lagu Matt Bianco, Paul Mc Cartney, musik-musik instrumental dan lagu-lagu pop tahun 80-an menemani saya ketika mengepel lorong biara, bahkan ketika membersihkan kapel, alat itu saya bawa kemana-mana.
Jazz dan lagu-lagu pop menemani saya ketika menjadi mahasiswa miskin. Sebuah tape recorder merk JVC selalu ada disamping tempat tidur menemani saat belajar, makan bahkan menjelang tidur. Radio KLCBS dan Radio Oz juga menjadi 2 stasiun Radio yang keren pada saat itu. Dari tape recorder kemudian pindah ke walkman dan CD player hingga home theater ketika sudah berkeluarga lalu tinggal di rantau selama bertahun-tahun. CD PLayer kecil berganti menjadi Minidisk Player merk Sony kemudian Ipod. Sekarang semuanya mulai ditinggalkan karena telepon genggam. Dari earphone hingga noise cancelling bluetooth earbuds. Entah apalagi yang akan menghiasi hari-hari kita dikemudian hari. Yang jelas semuanya itu karena musik.
Jadi bayangkan betapa hebatnya pengaruh musik dalam hidup. Musik menemani setiap perjalanan hidup. Ketika kita sedang bersedih, ketika sedang menikmati keberhasilan bahkan dalam melakukan perjalanan darat, laut, maupun udara dari satu tempat ke tempat lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Jadi tidak mengherankan jika saya pada saat tertentu akan meneteskan air mata ketika mendengarkan sebuah musik karena mengingatkan saya pada sebuah kenangan mengharukan di suatu masa, atau sebuah lagu mampu mengingatkan kembali pada saat-saat penting dalam hidup.
Hidup memang untuk dijalani. Setiap kejapan mata, tarikan napas dan gerakan tubuh merupakan kesempatan bagi kita semua untuk menikmati anugerah kehidupan, untuk mengingatkan dan menekankan bahwa segala sesuatu yang ada disekitar kita merupakan keajaiban alam yang tersedia bagi kita untuk dialami, untuk di"hidup"-i. Dalam menjalani hal-hal itu, selama ini, saya jalani semuanya diiringi dengan musik. Musik adalah hidup. Saya sangat setuju dengan 2 kalimat dibawah ini:
“Music is life itself.” — Louis Armstrong
“Music is the soundtrack of your life.” — Dick Clark
Photo credit: dreamstime.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31