AES 717 Pulang

Mungkin saya bisa menyebut diri sebagai orang yang beruntung karena mempunyai banyak tempat untuk pulang. Home itu merupakan kata yang sangat ampuh karena mempunyai banyak makna yang dalam, pengertiannya tidak hanya sebagai tempat tapi jauh lebih dari itu. Tidak hanya sekedar tempat berlindung, tempat berteduh tapi juga merupakan tempat dimana kita menemukan kenyamanan. Saya sengaja menggunakan kata home, karena kata ini menurut saya, bukan mengecilkan bahasa Indonesia, tapi sesungguhnya home mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dan dalam jika menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya menyebutnya sebagai rumah, dan rumah seringkali terlalu kecil artinya karena seringkali hanya sekedar bangunan. Bukan itu yang saya maksudkan. Home dan bukan house adalah tempat kita menciptakan berbagai kenangan sejak dari kecil hingga tumbuh menjadi dewasa membangun masa depan, juga merupakan tempat dimnana kita benar-benar menjadi diri sendiri, tidak masalah apakah bangunanya itu kecil, buruk bahkan berantakan. Kesitu kita bisa pulang!
Minggu ini memang di sekitar kampus terlihat banyak keseibukan yang terjadi setahun sekali, yaitu para mahasiswa yang tinggal di seputaran kampus pulang. Di jalanan mulai terlihat kendaraan terpakir dengan lampu hazard kelap-kelip menyala. Tandanya bahwa mereka parkir bukan di tempatnya dan sengaja berhenti di situ agar dekat ke gedung untuk memuat parang-barang pribadi untuk dibawa pulang. Di halaman-halaman asrama banyak kontainer sampah raksaksa karena biasanya para mahasiswa banyak membuang barang-barang mereka bahkan biasanya ada kontainer untuk donasi yang menerima barang lungsuran seperti kulkas, microwave TV hingga sepeda. Tidak jarang melihat sofa ditinggal di sekitar tempat sampah, lampu belajar, kipas angin dan banyak perlengkapan lainnya. Ya begitu suasananya.
Saya sepanjang siang ini memang dirundung perasaan "pulang". Saya punya banyak home karena setiap kali tinggal di rantau, saya tinggal dalam waktu lama sehingga tanpa terasa saya mengadopsi tempat itu menjadi rumah saya yang baru. Jadi seperti beberapa waktu lalu saya pergi ke Hawaii, saya merasa seperti pulang karena ketika tiba di sana saya merasakan kembali banyak hal yang pernah saya lakukan selama bertahun-tahun di sana, saya ingat hampir semua tempat bahkan seringkali saya tidak membutuhkan peta atau GPS lagi karena sudah hapal di luar kepala. Fort Collins juga sama. Ini tahun ke 7 saya tinggal di sini, jadi tempat ini juga sudah saya adopsi sebagai rumah dimana saya juga mengadopsi keluarga baru. Ya bagi saya yang membedakan home dengan rumah biasa, dengan bangunan rumah, adalah dengan ada tidaknya keluarga! Tanpa ada keluarga maka saya sering merasa sebagai tamu. Sama seperti Smipa, saya selalu menyebutnya sebagai rumah, sebagai home, karena di sana saya juga mengadopsi keluarga. walau jauh, tapi setiap hari saya mengunjunginya, salah satunya dengan bentuk tulisan essai.
Tahun ini sebetulnya saya merencanakan untuk pulang. Benar-benar pulang ke tanah kelahiran, pulang ke rumah dimana keluarga yang betul-betul keluarga berada, bukan yang saya adopsi. Bertemu dengan orang tua, dengan saudara kandung dan sahabat-sahabat jaman kecil, jaman sekolah, dan sebagainya. Rencana itu kemungkinan besar harus ditunda karena ada beberapa perkembangan. Nah hari ini karena melihat ribuan mahasiswa yang mulai berkemas-kemas untuk pulang, saya tertular juga akan perasaan ingin pulang itu. Sejak pagi di stadion di seberang gedung kantor saya sudah berbaris puluhan mahasiswa yang akan mengambil toga. Akhir pekan ini adalah hari wisuda, jadi memang kampus akan ramai dengan para mahasiswa yang lulus beserta keluarga mereka. Saya jadi ingat masa-masa kelulusan di jaman sekolah, masa-masa kelulusan Nina ketika menyelesaikan studi paska sarjana dia di Hawaii dahulu. Dan masa-masa saya pulang dari rantau.
Perasaan ketika pulang itu memang sangat istimewa. Ada perasaan sedih karena harus meninggalkan rumah yang diadopsi tanpa pernah tahu apakah akan pernah kembali mengunjungi tempat itu lagi atau tidak, tapi pada saat yang sama juga saya merasa begitu bersemangat karena akan berjumpa kembali dengan keluarga, orang tua dan sanak saudara. Perasaan-perasaan itu biasanya bercampur aduk ditambah kesibukan berkemas, mengurus pengiriman barang dengan perusahaan pengiriman karena banyak barang yang harus diangkut dan banyak lagi lainnya.
"Pulang" yang akan datang bagi saya akan sangat unik dan jauh lebih istimewa daripada biasanya. Saat itu, nanti, saya akan meninggalkan sebagian "hati" saya. Akan sangat menyedihkan bagi saya. Kano tidak akan ikut kami karena dia akan menetap. Nah ini akan menjadi peristiwa yang sangat berat. Mungkin untuk pertama kalinya saya ingin memilih untuk tidak pulang , tapi terpaksa harus. Saya tidak tahu bagaimana nanti saya akan bisa beradaptasi ketika hanya tinggal berdua saja. Pulang kali itu akan menjadi pulang yang sangat luar biasa mencekam dan penuh dengan perasaan yang sulit untuk dihadapi. Untungnya itu belum akan terjadi dalam waktu dekat ini. Saya masih punya banyak waktu untuk menikmati kebersamaan sebelum nanti harus pulang!
Photo credit: colorado.edu
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31