AtomicEssay

AES 729 Correctio Fraterna

joefeluspenulis arsip2

Ketika kegelapan mulai turun dan menyelubungi bumi, saya mulai bertanya-tanya apa hal-hal yang luar biasa yang sudah saya alami atau saya jalani hari ini. Serentak saya terdiam dan mulai merenung, membayangkan apa saja yang sudah saya lalui sepanjang hari ini. Sepertinya hari ini lewat begitu saja. Tidak banyak yang berkesan yang hinggap dalam pikiran.

Yang saya ingat, ketika sinar matahari mulai menerobos celah-celah tirai kamar, keriuhan suara burung yang pertama kali saya nikmati. Saat itu waktu belum menunjukkan pukul 6, di luar sudah terang. Samar-samar saya masih teringat mimpi tentang sesuatu, begitu nyata tapi kemudian terlupakan. Saat ini saya benar-benar sudah tidak ingat lagi.

Menjelang pukul 7 saya sudah berjalan kaki perlahan-lahan menuju kantor. jalanan begitu sepi karena kota ini kehilangan minimal 40 ribu orang. Para mahasiswa selama musim panas pulang ke daerahnya masing-masing sehingga hampir tidak ada kesibukan sama sekali. Sebetulnya saya bisa saja menyebrang jalan seenaknya karena hampir tidak ada kendaraan. Bisanya di masa-masa kampus penuh sesak, jalanan sudah sangat ramai. Kali ini tidak terlihat.

Di kantor tidak banyak pekerjaan juga. Bahkan bersama teman-teman sempat kabur sebentar untuk sekedar menikmati udara segar dan cuaca yang hangat. Pekerjaan saya hanya membutuhkan tidak sampai 1 jam untuk diselesaikan, selebihnya hanya ngobrol dengan rekan-rekan kantor sambil menunggu makan siang.

Menu hari ini tidak terlalu menarik. Setelah sekian tahun bekerja di sini, sepertinya kami sudah mulai bosan dengan menu itu-itu saja, walaupun sebetulnya jika dihitung ada ribuan resep makanan yang sudah disajikan selama bertahun-tahun. Cobakalau ada nasi padang hahaha.. tentu saya akan sangat berselera hahaha. Selesai makan siang saya langsung pulang karena hari ini memang jadwal kerja hybrid, sesudah makan siang saya akan melanjutkan pekerjaan dari rumah.

"Boss sedang ketemu direktur." Kata teman sekantor saya melalui Teams

"Oh ya? Urusan apa? Gaji mau dinaikkan?" Kata saya bergurau

"Bukan, tapi follow up dari pertemuan one on one kita dengan direktur." Kata teman saya lagi.

"Oh!" Jawab saya

Beberapa waktu yang lalu memang kami bertemu direktur untuk bicara seorang demi seorang. Kesempatan itu saya pergunakan untuk menyampaikan semua uneg-uneg yang saya miliki. Mudah-mudahan itu bisa dijadikan masukan bagi departemen demi perbaikan, sebab saya masih banyak melihat kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Memang yang saya lakukan itu agak riskan sebab seringkali pihak atasan agak alergi dengan "kejujuran". Kejujuran kadang menyakitkan, itu saya tahu benar. Tapi sebuah relasi yang baik dalam sebuah perusahaan atau instansi jika tidak dilandasi oleh saling percaya dan keterbukaan, maka menurut saya bukan merupakan instansi atau perusahaan yang sehat.

Praktik "berbohong", maksud saya yaitu tidak benar-benar mengemukakan keadaan sebenarnya, bukan merupakan hl yang baik bagi kemajuan sebuah organisasi. Evaluasi jika hanya sekedar untuk dinilai "baik" maka itu merupakan omong kosong. Seperti salah seorang dari pihak atasan mengatakan," Saya harus mencari berbagai cara mengatakan kata "baik"!" Bagi saya itu sangat menyedihkan. Buat apa diadakan evaluasi jika yang diungkapkan hanya sekedar membuat orang yang dievaluasi senang. Maka tidak akan ada perkembangan sebab seringkali rewards itu justru menjadi penghambat kemajuan. Jika saya menjadi atasan, saya akan merasa lebih baik seandainya orang-orang yang menilai saya itu secara sungguh-sungguh, apa adanya dan tidak hanya sekedar membuat saya senang. Justru kritik akan menjadi pemicu bagi saya untuk memperbaiki diri. Kalau sudah dianggap baik, maka apa yang akan diperbaiki?

Saya ingat ketika masih di biara. Saat itu para frater, termasuk magister dan pastor-pastor yang tinggal di sana mengadakan correctio fraterna, sebuah cara untuk menyampaikan kritik dalam ikatan persaudaraan dan kasih. Semuanya menjunjung anonymity, artinya yang dinilai tidak akan mengetahui siapa yang menilai, ini tujuannya agar menjadi lebih objektif. Nah salah seorang pator ngamuk karena merasa terhina. Hahahaha... Kalau kita bercermin lalu melihat ada yang tidak sempurna, kita sebetulnya diberi pilihan. Jika memang kondisinya tidak bisa diubah, misalnya bentuk hidungnya sudah begitu, maka kita harus mampu menerimanya, tapi banyak hal yang sebetulnya bisa kita usahakan untuk diperbaiki, apalagi jika itu adalah perilaku. Kejadian di biara itu memang hingga saat ini tidak pernah bisa saya lupakan, bahkan kalau tidak salah, lembaran-lembaran kertas evaluasi yang saya terima masih saya simpan di salah satu kotak di rumah. Itu saya jadikan pngingat bahwa saya sebagai manusia yang mampu berkembang dan tumbuh menjadi lebih baik. Mudah-mudahan departemen tempat saya bekerja mampu menerima ini dan melihat hal-hal positif dari segala masukan itu.

Foto kredit: versodio.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31