AtomicEssay

AES 782 My Happy Place

joefeluspenulis arsip2

Kata-kata ini saya pungut dari salah satu film yang saya tonton karena sadar atau tidak itu yang saya rasakan sesudah sekian lama saya mulai merenungkan tentang tujuan hidup yang sedang saya usahakan. Iseng-iseng saya buka laptop dan mengetik kata-kata my happy place. Tahu ada berapa lema yang saya temukan? Ada lebih dari 1 milyar! Tepatnya 1,150,000,000! Lalu saya iseng juga mencari laman dengan kata kunci tujuan hidup saya, my life purpose. Ada 3,5 milyar laman yang saya jumpai! 2 kalimat yang saya tulis ini ternyata sangat penting! Saya harus berhenti sampai di situ sebelum mulai bicara terlalu jauh, mumpung pada saat ini saya sedang merasa sangat baik bahwa 2 kalimat yang saya pilih ini dianggap penting. Kalau saya menulis yang lain lagi, saya takut kecewa karena saya yakin jika menulis kata-kata yang jauh lebih menyenangkan seperti misalnya liburan, atau pesta. maka saya yakin jumlahnya akan jauh lebih besar hahahaha..

Eniwei, kata happy place membuat saya berpikir sepanjang hari. Tempat yang membuat saya bahagia itu sepetti apa? Apa yang benar-benar membuat saya bahagia? Sejauh ini hanya dua yang ada dalam pikiran saya. Tentu saja sebenarnya banyak karena pada dasarnya saya orang yang senang tertawa, yang berarti bahwa saya bisa banyak menyebutkan tempat apa saja yang dapat membuat saya tertawa. Nah, dari sekian banyak itu saya akan memilih dua. Yang pertama tempat kerja.

Tempat kerja memang bukan tempat yang sempurna yang bisa selalu dikatakan happy place. Banyak sekali orang yang justru menganggap sebaliknya, bahkan tidak sedikit yang membenci pekerjaannya tapi tetap harus melakukannya karena tidak banyak pilihan lain. Saya pernah mengalami itu, bahkan tidak hanya sekali. Pekerjaan seringkali mengubah tabiat orang. Tapi ada satu hal yang ingin saya bagikan. Di tempat kerja saya merasa menjadi seseorang yang dibutuhkan. Perasaan bahwa saya dibutuhkan, bahwa saya berguna, bahwa saya dapat membantu itu yang membuat saya bahagia!

Beberapa menit sebelum saya selesai bekerja, saya mulai sibuk di dapur. Memasak adalah kegiatan yang paling saya gemari, yang selalu membuat saya ceria. Berada di dapur serasa berada di awan dan sering lupa diri, lupa waktu karena hanya sebuah kebahagiaan yang saya rasakan. Saking asyiknya bekerja di dapur, satu jam kemudian saya baru sadar bahwa lupa ceklok! Hahahaha...

Kenapa happy place itu sangat penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari? Menurut saya karena tempat-tempat yang membuat kita bahagia memberikan kesempatan untuk melepaskan diri dari kepenatan, masalah dan keruwetan hidup. Pada saat itu kita bisa me-reset ulang, dan menyegarkan diri kembali. Pada saat berada di happy place, kita dapat mengembalikan perspektif yang mulai bergeser, mengalihkan perhatian kita dari hal-hal negatif atau yang membuat kita tertekan. Pada saat yang sama juga kita meningkatkan perasaan yang menyenangkan, memperbaiki mood kita. Kondisi semacam itu yang sering membuat saya lupa akan banyak hal yang membuat kita sedih, kecewa atau bahkan marah. Beruntunglah sepertinya saya mempunyai banyak happy place. Dan saya juga merasa beruntung bahwa pekerjaan menjadi salah satu dari tempat yang membuat bahagia. Tidak masalah hingga kapan, selama sekarang masih tersedia, ya dinikmati saja.

foto credit: thespruce.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31