AES 802 Belajar Dari Pengalaman

Kurang 2 minggu lagi saya akan kehilangan pekerjaan. Jika ini benar-benar terjadi, yang menurut saya kemungkinannya di atas 75%, ini adalah kali ke-dua peristiwa yang sama terjadi pada saya dalam kurun waktu hampir 7 tahun terakhir. Teman-teman saya mungkin akan bertanya, jika saya tidak belajar dari pengalaman sebelumnya ketika masalah serupa terjadi. Tentunya saya akan jawab bahwa saya sudah belajar dari pengalaman itu, dan selama 6 tahun terakhir aman-aman saja. Lalu kenapa kali ini terjadi lagi? Jawabannya agak rumit.
Saya memang terlambat dalam upaya memperbarui ijin tinggal dan ijin kerja tahun ini. Keterlambatan itu bukannya karena saya tunda-tunda tapi karena sebetulnya saya tidak merencanakan untuk tinggal lebih lama lagi. Saya juga tidak berencana akan bekerja terus. Saya rencananya akan pulang ke tanah air bulan September ini. Tapi kemudian ada beberapa peristiwa dan alasan yang akhirnya mengharuskan kami untuk tinggal lebih lama. Perpanjangan ijin tinggal baru kami urus di awal bulan Mei. Ijin bekerja baru bisa diurus sesudah ijin tinggal selesai, jadi ijin bekerja saya baru diterima kantor imigrasi pertengahan bulan Mei. Ijin kerja butuh waktu rata-rata 4 bulan. Jadi jika ini benar, maka baru bulan depan ijin kerja saya keluar. Nah sementara itu selama sebulan saya harus kehilangan pekerjaan.
Ini peristiwa yang kemungkinan besar tidak akan dapat terhindarkan. Apakah saya khawatir atau kecewa? Tidak. Dan saya juga tidak merasa aneh. Saya tahu bahwa bulan depan saya akan menghadapi masalah yang lumayan rumit. Tidak bekerja artinya tidak punya penghasilan. Nah itu akan jadi masalah besar, bukan? Lalu kenapa saya tidak merasa khawatir? Hahaha.. karena saya sudah punya pengalaman! Dulu saya bisa melewatinya dengan baik, jadi berbekal pengalaman masa lalu, saya bisa mengantisipasi apa yang akan saya alami dan yang harus saya lakukan. Oleh sebab tu saya sama sekali tidak khawatir dan tidak lagi takut seperti dulu.
Segala peritiwa terjadi karena suatu alasan. Itu saya percaya betul. Banyak peristiwa terjadi sebagai bentuk hasil dari kondisi di masa lalu. Ada juga banyak peritiwa yang terjadi karena memang semesta mempunyai alasan yang spesifik. Lalu apa lasan kali ini? Saya tidak tahu dan saya sangat bersemangat dan excited menanti apa yang akan terjadi pada diri saya nanti. Rasa takut dan khawatir tidak banyak mengubah situasi, ini juga saya pelajari dari peristiwa yang saya alami dahulu. Rasa khawatir hanya membuat mata saya tertutup, membuat saya tidak waspada dan itu sangat merugikan jika terjadi hal seperti itu. Banyak sekali kesempatan yang terbuka dan kesempatan itu seringkali tidak akan pernah terjadi lagi, jadi daripada khawatir saya justru ingin membuat diri saya lebih waspada. Ini merupakan tindakan yang lebih masuk akal daripada menghabiskan waktu dengan merasa khawatir.
Lalu apa yang akan saya lakukan nanti? Tetap waspada, membuka mata dan berusaha membaca kehendak semesta. Saya lebih condong untuk mengalir dan membiarkan semesta menuntun saya. Kemarin saya ngobrol soal takdir. Nah takdir terjadi tanpa bisa dielakkan, tanpa perlu diusahakan, tidak bisa dihindari bahkan bisa terjadi walaupun seandainya saya tidak melakukan apa-apa.
Bukannya saya pasrah loh. Pasrah seringkali diidentikkan dengan ketidak pedulian, membiarkan semuanya berlalu sambil bermalas-malasan. Tida begitu! Saya akan tetap membuka mata, melihat semua peluang, memperhatikan jika ada pintu yang terbuka yang memberikan petunjuk kemana saya bisa melangkah. Saya akan tetap berusaha. Jika memang takdir akan membawa saya ke tempat yang baru, maka ke situlah saya akan melangkah. Jika takdir akan mengarahkan saya kembali ke tempat awal, maka disanalah saya akan berlabuh. Hidup itu untuk dijalani dengan sebaik-baiknya bukan ditakuti, bukan dikhawatirkan. Rasa takut dan khawatir terjadi karena ketidaktahuan. Nah hal yang tidak ketahui bukan untuk ditakuti tapi justru sebaliknya, yang tidak diketahui itu merupakan petunjuk bahwa kita masih harus terus belajar. Nah bukankah belajar merupakan suatu usaha yang menarik dan menyenangkan? Nah itu yang saya pelajari dari peristiwa-peristiwa yang dulu saya alami.
Foto credit: churchinvestorsfund.org
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1579 10 Tahun
Entah sudah berapa kali saya menulis untuk diri sendiri sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, atau mungkin hanya sekedar bertanya-tanya saja, atau hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu.Pertanyaannya sederhana, "Seperti apa saya 10 tahun lagi." Dah, itu aja!Kalau di…
joefelus00
AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20