AtomicEssay

AES 818 Yang Kita Inginkan

joefeluspenulis arsip2

"Saya berusaha mengalir mengikuti arus. Mengapa harus memperumit segala sesuatu? Tidak adil membebani yang lain. Lebih mudah saya melakukan dan menanggungnya sendirian"

Kat-kata di atas tentunya merupakan hal-hal yang normal yang seirngkali kita lakukan demi melindungi orang lain, terutama yang kita sayangi. Dalam sebuah keluarga, apalagi sebagai orang tua, sebagai suami atau istri, hal-hal tersebut di atas sering kali kita lakukan sebagai sebuah bentuk tanggungjawab yang membebani kita. Demi perhatian dan kasih sayang kita pada yang lain, kita rela melakukannya sendirian.

Namun jika diperhatikan baik-baik, seringkali kita melakukan itu dengan alasan yang salah! Alasan-alasan salah itu misalnya: Kita melakukanya karena merasa sebagai sebuah keharusan, atau karena kita tidak mau dicap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab, kita berusaha memikul tanggung jawab karena takut orang lain akan marah lalu tidak menyukai kita lagi, dan sebagainya. Lalu pertanyaannya, mengapa hal-hal tersebut dianggap salah? Bukan kah berkorban itu merupakan sebuah keharusan apalagi jika menyangkut orang-orang yang kita cintai? Bukankah menjadi martir yang berkorban demi kebaikan orang lain itu merupakan sesuatu yang terpuji?

Nah memang berkorban itu merupakan hal yang terpuji, tapi jika alasannya adalah karena kita berusaha menghindari perasaan bersalah, maka segala seuatu yang kita lakukan itu akan berakhir dengan buruk, terutama bagi perasaan kita sendiri. Lalu diakhirnya kita mengeluh karena merasa menjadi korban. Apalagi jika orang-orang yang kita care itu tidak selalu memperlihatkan perhatian pada hal-hal yang sudah kita lakukan. Lalu kita ngomel-ngomel misalnya: "Aku udah melakukan semuanya bukan untuk aku sendiri, tapi untuk kalian", atau "Aku khan bukan pembantu yang sudah membersihkan rumah, mencuci dan masak, kok minta tolong sedikit saja untuk bantuin aku, gak mau." Itu hal yang sering kita alami, bukan? Kita lalu merasa tidak puas dan menganggap pengorbanan kita itu sia-sia. Itu semua karena yang kita lakukan dengan alasan yang salah!

Seorang teman saya pernah bertanya, "Jo, ada beberapa teman yang istrinya mendapat bea siswa, tapi tidak mau ikut ke Amerika. Gimana menurut pendapatmu?"

Saya katakan bahwa mereka tdak dapat dipersalahkan, bahkan itu merupakan hal yang baik jika memang mereka mempunyai alasan yang baik. Jika karena terpaksa dan ikut karena alasan bahwa merupakan kewajiban sebagai suami untuk mendampingi, itu merupakan hal yang salah dan tidak akan berakhir dengan baik. Lalu kenapa saya ikut? Saya jawab begini: Karena saya senang akan tantangan, karena saya mempunyai jiwa petualangan. Saya tahu persis akan segala bentuk tantangan yang akan dihadapi, akan ketidak pastian, akan tidak adanya garansi bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan mulus. Saya ikut tanpa paksaan! Saya tahu bahwa apapun yang akan terjadi merupakan bagian dari petualangan. Saya akan menghadapi semua itu dengan jiwa petualangan dan saya bahagia mendapat kesempatan itu. Semuanya itu bagi saya adalah sesuatu yang seru! I am all in!

Sekarang kita bandingkan dengan nonton filem. Bayangkan apa serunya jika kita sudah tahu jalan ceritanya dan tahu akan akhir ceritanya? Terus terang, itu bisa saja menarik. Tapi bagi saya akan lebih menarik jika kita tidak tahu, karena semuanya itu menjadi sesuatu yang sangat mendebarkan, sangat seru dan penuh dengan petualangan.

Sekarang bandingkan dengan alasan ikut ke Amerika karena takut orang lain menganggap kita pengecut, takut dikira kita kurang sayang pada pasangan, maka begitu pindah dan dihadapkan pada berbagai tantangan, Kita tidak akan bahagia. Itu banyak saya saksikan bahkan tidak jarang berakhir dengan masalah dalam relasi mereka lalu mulai mencari-cari kesalahan karena merasa menjadi korban. Itu baru beberapa contoh. Banyak lagi contoh-contoh lain.

Pertanyaan saya, apa kira-kira yang benar-benar kita inginkan? Kita diberi kebebasan utuk membuat keputusan, dan kita memang dituntut untuk mencari tahu tentang apa yang sesungguhnya kita inginkan. Jika kita tidak tahu dengan apa yang kita inginkan lalu keputusan kita terdorong hanya karena rasa khawatir, menghindari rasa malu, atau merasa terpaksa, maka jangan heran jika akhirnya nanti tidak akan menyenangkan.

Yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah; Apakah kita lakukan itu karena hanya sekedar kewajiban sebagai bentuk dari tanggungjawab moral yang sebenarnya bukan hal yang benar-benar kita inginkan?; Apakah kita akan puas dan senang dengan apapun hasil akhir dari keputusan kita?. Masih banyak pertanyaan lain yang bisa kita munculkan demi menguji segala sesuatu keputusan yang akan kita buat. Yang terpenting adalah kita tahu dan sadar akan keputusan itu atas dasar nilai-nilai penting kehidupan yang kita junjung tinggi, atas dasar kebebasan dalam upaya mengaktualisasi diri dan bukan karena rasa khawatir, takut dan keterpaksaan. Yang pasti keputusan itu karena kita tahu akan apa yang kita inginkan, dan bersedia menerima konsekuensinya! Jika demikian, kita akan menhadapinya dengan lapang dada, penuh degan excitement dan keseruan!

Foto Credit: linkedin.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31