AES 833 Menghindar

Belakangan ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Maklum saya punya pasien. Dia tidak rewel tapi suka keras kepala karena berusaha melakukan segala hal sendiri walau akhirnya dia kesakitan. Ada bagusnya sih karena dia terus menerus berusaha untuk bergerak agar lutut barunya dapat berfungsi dengan maksimal. Tapi saya tentu saja agak khawatir, jadi sebisa mungkin saya ada di rumah. Takut dia nekad melakukan sesuatu kemudian butuh bantuan.
Eniwei, karena kebanyakan di rumah saya banyak waktu senggang, jadi banyak nonton film. Saya lupa judulnya apa tapi film ini hanya saya tonton di beberapa menit pertama karena tiba-tiba mengingatkan saya pada lingkungan tempat tinggal di masa kecil. Di film itu banyak hal-hal yang tidak baik, banyak pemabuk, daerahnya kotor, banyak kejadian asusila karena memang dekat dengan red district. Beberapa menit menyaksikan film itu saya langsung merasa tidak nyaman dan mulai mencari judul yang jauh lebih menarik.
Mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan memang sama sekali jauh dari menarik. Jujur saja, masa kecil saya tidak jelek-jelek amat, memang daerah tempat tinggal saya bukan daerah yang baik, tapi toh saya belajar sesuatu dari lingkungan itu. Saya tahu dan mengerti mana yang harus dijauhi dan mana yang harus dimaklumi. Dari situasi seperti itu saya belajar dan terus berusaha melepaskan diri dari lingkungan semacam itu.
Saya pernah membaca sebuah artikel yang menjelaskan konsep Monkey brain oleh kelompok Budhist. Dikatakan bahwa pikiran kita secara konstan, terus menerus berusaha menyesuaikan satu ide dengan ide yang lain, menciptakan keruwetan dan kebisingan di dalam kepala. Karena menyadari itu, kita berusaha mengenali bahwa otak kita memang bekerja seperti itu lalu kita akan mampu mengerti lalu berusaha memegang satu pikiran dari sekian banyak pikiran yang menciptakan keruwetan itu. Entah apakah saya betul-betul mengerti dengan konsep monkey brain ini atau hanya dipermukaan saja, tapi saya sangat tertarik dengan bacaan itu.
Kemudian jika satu pikiran itu kemudian tidak dapat membantu dan tidak cocok dengan kondisi yang kita alami, maka kita berusaha mengambil jarak atau membuang pikiran itu sama sekali. Menjaga jarak dan menjauh atau menghindar dari kondisi itu membutuhkan latihan. Pada akhirnya strategi semacam itu membuat kita begitu kuat karena kemudian kita mengerti dan mudah mengenali segala bentuk kondisi negatif.
Apakah mungkin karena sejak kecil saya sering berkecimpung dalam kondisi yang tidak menguntungkan, tidak baik dan hal-hal negatif semacam itu lalu setiap kali ada situasi yang mempunyai konotasi semacam itu rambu-rambu dalam diri saya langsung mengingatkan, semacam alarm otomatis yang langsung berbunyi membangunkan intuisi-intuisi yang sudah sangat terlatih untuk berhati-hati lalu menyingkir? Saya tidak tahu juga, Tapi yang jelas semua itu membuat saya menjadi lebih waspada.
Foto credit: depositphotos.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1579 10 Tahun
Entah sudah berapa kali saya menulis untuk diri sendiri sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, atau mungkin hanya sekedar bertanya-tanya saja, atau hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu.Pertanyaannya sederhana, "Seperti apa saya 10 tahun lagi." Dah, itu aja!Kalau di…
joefelus00
AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20