AtomicEssay

AES 841 Tragedi

joefeluspenulis arsip2

Selama hidup, saya sudah menyaksikan berbagai kejadian mencekam. Bukan hal yang membanggakan menyaksikan kejadian-kejadian itu, karena semua itu hanyalah bencana, tragedi yang terjadi dalam kehidupan. 2 diantaranya membuat saya begitu emosional karena ada faktor yang mendekatkan secara personal.

Yang pertama, terjadi 22 tahun yang lalu. Twin tower World Trade Center yang di Amerika hari ini dikenang kembali. Saya pernah cerita 2 tahun lalu pengalaman saya di hari itu. Kejadian itu membuat saya mengerutkan kening dan mengelus dada karena tidak mengerti mengapa ada sekelompok manusia yang didera kebencian sehingga melakukan sesuatu yang begitu diluar peri kemanusiaan. Untuk apa? Saya tidak tahu dan tidak mau terlibat dalam diskusi yang saya tidak benar-benar mengerti. Yang jelas pada saat ini 22 tahun yang lalu hampir 3000 orang meninggal dunia. 

Sore ini saya menyaksikan film dokumenter yang diproduksi oleh National Geographic. Ada 6 episode dan setiap saat saya terus mencucurkan air mata menyaksikan cerita orang-orang yang terlepas dari tragedi yang mencekam itu. Beberapa waktu sebelumnya saya dan Nina berada di tower selatan, di lantai 107. Tower itu yang terlebih dahulu runtuh, ditabrak pesawat teroris di lantai 77 hingga 85. Itu lantai di bawah observation deck tempat saya dan Nina berada ketika mengunjungi gedung itu. Bayangkan jika pada saat itu saya berada di sana. Mereka yang berada di atas lantai 85 tidak akan selamat. Membayangkan itu saya merasa begitu tercekam. 

Bencana yang kedua terjadi di tahun 2004, 19 tahun yang lalu. Tsunami di Aceh. Lebih dari 200 ribu orang meninggal dunia. Saya tidak pernah ke Aceh. Tapi ada teman dekat saya yang hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. Bencana ini juga membuat saya begitu emosional karena begitu mencekam.

Yang ketiga adalah pandemi. Virus yang mengakibatkan lebih dari 2 juta manusia di dunia kehilangan nyawanya. Masa-masa yang bagi saya menakutkan karena banyak kekhawatiran yang saya rasakan. Kebiasaan tidak menyentuh gagang pintu tanpa menggunakan kertas tissue masih saya lakukan hingga sekarang, terutama pintu kamar mandi. Karena apa? karena saya masih takut. Saya masih rajin test covid hingga terakhir saya lakukan beberapa bulan lalu sampai akhirnya pemerintah menghentikan pelayanan untuk test Covid. Entah sudah berapa kali saya ditest. Saya bersyukur bahwa hingga saat ini saya tidak pernah terjangkit, tapi saya merasa kehilangan 2 tahun hidup saya. Kekhawatiran karena ketidakmenentuan kondisi kehidupan begitu mencekam. 

Hari ini, bertepatan dengan mengenang korban 911, saya berusaha mengenang sahabat yang hingga sekarang belum diketemukan di Aceh, dan juga teman-teman yang telah berpulang karena virus covid 19.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31