AtomicEssay

AES 843 Embrace

joefeluspenulis arsip2

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang situasi problematik yang sedang saya hadapi, yaitu saya harus menunggu sementara saya juga "tidak bisa" menunggu terlalu lama. Masalah lain adalah saya tidak mempunyai kontrol sama sekali untuk memperbaiki situasi itu. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menunggu. Dalam tulisan itu saya akhiri dengan rencana saya untuk berhenti menunggu, karena sama sekali tidak produktif dan juga tidak akan dapat memecahkan masalah.

Merangkul, embracing, sesuatu yang tidak menyenangkan itu ternyata sama sekali tidak mudah. Kecenderungan untuk menjadi bias, terutama mengarah pada hal yang negatif itu sangat tinggi. Pertanyaannya hampir selalu sama, "Bagaimana jika?", "Lalu nanti?". Ketika hal yang sangat penting mulai terusik maka sangat wajar jika keseimbangan akan banyak hal mulai terganggu.

Saya sempat membaca beberapa artikel tentang self care terutama dalam kaitan dengan kondisi yang sangat tidak menentu. Dalam beberapa artikel itu hampir semua menganjurkan untuk pemperlakukan dan merawat diri dengan sebaik-baiknya. Aset yang paling penting dalam kehidupan adalah "diri sendiri"! Ketika tubuh, semangat, pikiran dan faktor psikologis diri kita rusak, maka pada akhirnya akan menghancurkan segala sesuatu yang mengarahkan kita pada kehidupan yang baik. Dan ternyata manusia itu paling sulit, paling lemah dalam urusan merawat diri! Kita harus selalu sadar karena pada kenyataannya kita selalu dituntut untuk menjaga keterhubungan diri kita dengan hidup dan arti kehidupan. Jika kita tidak menjaga diri kita dan koneksi dengan kehidupan rusak maka di situ akan timbul masalah yang sangat besar. Ketika manusia tidak terhubung lagi, tidak ada koneksi lagi dengan kehidupan, maka hidup itu sendiri sudah tidak berarti lagi, dan hanya fisik yang tersisa, hanya jasad dan bukan lagi manusia. Itu ekstrim nya.

Yang saya terus menerus lakukan adalah merangkul dan menerima situasi sebagai sebuah bagian dari pengalaman hidup. Lagi-lagi saya harus mengutip ungkapan atau judul novel (hahaha): Badai pasti berlalu! Tidak dapat disangkal bahwa dalam kehidupan, kita seringkali dihadapkan pada berbagai bentuk tantangan. Menentang dan menolak segala bentuk tantangan hidup tidak akan pernah membantu, kita juga tidak akan pernah dapat belajar dari pengalaman hidup, juga kita tidak akan pernah dapat tumbuh. Menolak situasi hanya memperpanjang penderitaan.

Saya tidak pernah melupakan sebuah pengalaman masa kecil. Saya pernah menulis tentang ini juga, yaitu ketika saya menghilangkan uang yang diberikan oleh ayah saya untuk membeli pakan ternak. Rasa takut dan rasa bersalah saya sangat tak tertahankan. Apalagi bagi anak seusia saya pada saat itu. Tidak ada jalan keluar, karena tentu saja saya tidak dapat mencari gantinya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menghadapi konsekuensi dengan memberitahu ayah saya. Cepat atau lambat toh akan harus dihadapi. Semakin menunda, rasa takut dan rasa bersalah akan semakin hebat. Saya tidak menunggu lama-lama langsung menghadap ayah saya. Ini pengalaman yang sangat berharga. Man up, face the consequences, embracing the situation, dan stop resisting itu yang tanpa sadar saya pelajari. Pelajaran yang sangat berharga.

Daripada menolak, menyangkal dan tidak mengakui kondisi yang sedang dialami, saya belajar bahwa menerima dan merangkul merupakan suatu alternatif yang sangat baik. Ketika sudah dewasa pelajaran yang dulu saya hadapi ternyata juga dikuatkan oleh Kristin Neff, Ph.D., seorang profesor pendidikan psikologi di University of Texas, Austin. Beliau menulis Self Compassion: The Proven Power if Being Kind to yoiurself dan juga The Mindful Self-Compassion Workbook. Beliau mengatakan bahwa self-acceptance merupakan kunci rahasia dari kebahagiaan. Penerimaan semata-mata adalah soal bagaimana menerima kondisi kehidupan dan bergerak maju ke depan dari situasi itu. Karena pada dasarnya penerimaan mempermudah kita dalam melihat kenyataan di saat sekarang dan melepaskan diri dari keterikatan, keterjebakan kita pada situasi yang sedang dihadapi untuk dapat bergerak maju daripada hanya sekedar diam di tempat dan lumpuh atau bengong terus menerus menerawangi rasa takut dan khawatir akan ketidakmenentuan.

"Ok, great! I am holding the job for you! You'll be happy about the salary increase! ..." Boss saya kemarin memberi tahu apa yang menanti saya ketika proses penantian saya berakhir. Ya, mudah-mudahan saja segera, karena saya sudah bosan menganggur hahaha.. Yang jelas, terbukti sudah bahwa memegang erat-erat kekhawatiran tidak ada gunanya. Terima saja, rangkul situasi yang tidak menenangkan ini sebagai sebuah pengalaman hidup. Karena apalah artinya kesuksesan tanpa kegagalan, kebahagiaan tanpa kesedihan. Bukan begitu?

Foto credit: youthincmag.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1576 Time Lapse

Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…

joefelus11
AtomicEssay

AES 1575 Tisu Gulung

Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…

joefelus00
AtomicEssay

AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta

Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…

joefelus31