AES 848 Karakter

"Mas, tadinya saya kira Kano itu akan seperti anak-anak Amerika pada umumnya. Ternyata beda sekali ya." Kata sahabat saya pada suatu sore di dalam kendaraan ketika dia mengantar saya pulang.
"Maksudnya?" Tanya saya
"Maksudnya, Kano khan anak Amerika, lahir di sini. Tapi di pekerjaan dia beda sekali, dia seperti kita-kita orang Indonesia yang penuh tanggung jawab, penuh inisiatif dan senang membantu orang lain. Kalau anak-anak sini khan begitu pekerjaan selesai ya santai-santai aja, nganggur. Kalau Kano begitu lihat yang lain sibuk dan pekerjaan dia selesai, dia langsung inisiatif membantu." Jelas sahabat saya itu.
"Nina and I raised him well then. Hahahaha.." Kata saya sambil tertawa dan disambut tawa pula oleh sahabat saya itu.
Saya mengungkap topik ini karena tergugah dari diskusi pendek menanggapi esainya Mbak Gilang di sini: Sekolah Yang Bisa Bolos. Di sana saya berusaha berbagi secara singkat bahwa pendidikan karakter itu sangat berguna di masa depan. Tapi karena saya hanya menulis beberapa baris saja, akhirnya tangan saya gatal unuk menulis lebih panjang di esai ini.
Benar bahwa pendidikan karakter itu sangat penting karena pendidikan semacam itu merupakan proses belajar mengenai common attitudes. Pola tingkah laku yang terpuji, yang bertanggung jawab, kejujuran dan nilai-nilai kehidupan lain yang sangat penting di masyarakat. Saya selalu yakin bahwa karakter seseorang merupakan modal utama untuk sebuah keberhasilan. Orang yang bertanggung jawab dan mempunyai inisiatif serta keberanian untuk bertindak biasanya merupakan orang yang menjadi pionir, atau pemrakarsa. Nah ini yang sangat penting. Orang-orang yang memiliki karakter terpuji biasanya dapat dilihat dari tindakannya yang penuh tanggung jawab dan etika kerja yang mumpuni. Mereka mempunyai karakter yang baik biasanya mempunyai kesadaran untuk melakukan hal yang baik, mempunyai komitmen yang handal untuk melakukan hal yang baik juga mempunyai kompetensi yang mumpuni.
Istri saya seorang dosen, dia sering ngomel karena banyak sekali para mahasiswa yang tidak memiliki inisiatif, mereka hanya menunggu untuk diajari, bahkan ketika disuruh membaca dahulu topik yang akan dibahas, mereka seperti yang ogah-ogahan. Itu banyak sekali terjadi. Jika ditanya,"Apakah ada pertanyaan?" semua diam bahkan menunduk menghidari kontak mata. Nah di sekolah Kano dulu di Smipa saya melihat ketika kakak-kakak mengajukan pertanyaan, anak-anak berebut untuk menjawab. Ketika ditanya apakah mereka punya pertanyaan, walaupun dengan sangat lugu, lucu dan polos mereka ramai bertanya bahkan tidak jarang kakak-kakak dan orang tua terpana karena mereka mempunyai pertanyaan yang tidak disangka-sangka. Nah ini salah satu tanda bahwa pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik. Sejak kecil anak-anak berinisiatif. Jika sejak kecil sudah biasa belajar membentuk karakter yang baik maka ketika menginjak dewasa mereka mempunyai modal yang kuat.
Jangan salah, di Amerika juga tidak beda jauh. Sudah 2 minggu saya duduk di kelas ketika Nina mengajar. Tidak banyak mahasiswa yang aktif. Karena apa? Mungkin mereka takut-takut, tidak percaya diri, tidak punya inisiatif. Lalu begitu akhir semester selesai bisa dilihat bahwa tidak semua mempunyai pemahaman yang cukup. Aneh sekali bukan? Sekolah itu supaya belajar, tapi jika tidak mengerti mereka diam saja, lalu apa yang dipelajari?
Ketika saya menjadi guru, saya sering bilang di kelas. "Jika saya pergi ke pasar dan membeli sesuatu dengan uang yang saya miliki, maka saya berusaha memperoleh barang sebanyak-banyaknya. Jadi saya ingin uang saya itu bermanfaat, worth it. Nah kalian bayar mahal-mahal ke sekolah, kenapa tidak berusaha untuk memperoleh sebanyak-banyaknya?" Saya lanjutkan,"Kamu rugi jika uang yang kamu habiskan tidak mendapat barang atau jasa yang sepadan!" Aneh memang, walaupun saya sudah katakan begitu, mereka ya diam-diam saja. Kenapa begitu? Sebab sejak kecil mereka tidak mendapat kesempatan belajar karakter yang cukup. Mereka tidak belajar berinisiatif, mereka tidak belajar berani tampil di muka, berani mengungkapkan ide serta pikiran. Mereka hanya menunggu disuapi.
"I wasted so much time during my middle and high school." Kata Kano pada suatu hari ketika saya jemput dari tempat kerja.
"What do you mean?" Tanya saya.
"I learned about a lot of things and most of them are not used for my work or my daily life. I think I learned more when I was little at Smipa." Jawab dia. "Look at me, I have a good work ethic. People like me because I don't hesitate to help, I have a lot of initiative. I did not learn about those here in high school. I learned to be responsible and honest when I was little." Sambungnya.
Saya setuju! Pendidikan karakter jauh lebih penting daripada menghapal masa perang Diponegoro. Sejarah memang penting karena itu mempertebal jati diri sebagai warganegara, tapi karakter pribadi yang terpuji jauh lebih penting daripada hapal semua nama pahlawan tapi kemudian korupsi. Betul bukan?
foto credit: sandiego.edu
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1255 Guru
Kalau bicra soal pendidikan dan mendidik tidak akan pernah ada habis-habisnya. Orang tua rata-rata menyekolahkan anak agar dikemudian hari anak-anak mereka mampu bersaing sehingga memiliki karir yang baik dan hidup sukses. Sejauh ini kalau saya bertanya pada orang tua mengapa memasukkan anaknya ke…
joefelus00
AES 417 Ga Mau Lagi
Saya baru saja membaca esai nya Kak Andy tentang Salah Arah, Salah Kaprah. Saya setuju sepenuhnya bahkan jika mau jujur itu alasan saya mengapa memutuskan berhenti menjadi guru. Nanti akan saya gambarkan dengan lebih gamblang mengapa saya memutuskan untuk berhenti. Guru bukan pekerjaan yang menarik…
joefelus73
AES 386 It's Ok To Forget
Saya membaca esai Kak Andy: As I Remember. Membaca lirik lagu yang kak Andy kutip tentang sekolah membuat saya tersentuh, bukan karena mengalami hal yang sama, justru sebaliknya! Well, tidak seluruhnya, saya masih punya pengalaman indah di tahun-tahun awal masa sekolah saya sebelum masuk jenjang SM…
joefelus30