AES 849 Any Questions?

Ini minggu yang ke-3 saya duduk di kelas ketika Nina sedang mengajar. Ada sekitar 180 mahasiswa di sebuah ruangan yang lumayan besar. Tempat duduk yang biasa saya gunakan kali ini sudah diambil oleh salah seorang mahasiswa sehingga kali ini saya mengambil tempat duduk di paling depan di ujung sebelah kanan. Ruangan ini berbentuk setengah lingkaran, melengkung dengan fokus di meja di depan dengan sebuah layar TV raksasa entah berapa inci, sebab lebih panjang dan lebih lebar daripada white board ukuran standar di sekolah.
Menyambung obrolan saya kemarin soal karakter, kali ini saya jadi lebih memperhatikan dinamika kelas. Kebetulan kali ini Nina tidak sedang memberikan topik baru tapi hanya sekedar review karena hari Kamis nanti para mahasiswa akan ada ujian.
"Any question?" Nina memulai kelasnya.
Hening.. Saya melihat ke sekeliling kelas, kebanyakan mahasiswa menunduk atau memperhatikan laptop di depan mereka, sebagian mahasiswa melihat ke sekelilingnya untuk melihat apakah ada yang akan bertanya. "Hmm...," Pikir saya. Ini kejadian yang sudah berlangsung sejak entah kapan. Hampir setiap kali saya mengajar mengalami hal semacam ini. Pertanyaannya: Mengapa? Mengapa kok para siswa begitu sulit melontarkan pertanyaan? Bukankah itu merupakan proses inti dari belajar, mencari tahu sesuatu yang tidak diketahui?
Iseng-iseng saya mencari referensi di internet. Ada sebuah artikel yang membahas masalah ini. Faktor pertama yang sering muncul sebagai alasan mengapa para mahasiswa atau murid-murid di sekolah sulit bertanya di dalam kelas adalah rasa malu. Agak repot memang membahas masalah ini sebab banyak faktor yang menjadi penyebab seseorang menjadi pemalu. Kedua rasa takut! Rasa takut, apalagi bagi kalangan remaja adalah bagian dari self-consciousness, mereka cenderung takut dan khawatir akan apa yang teman-temannya pikir tentang dirinya, mereka juga takut bahwa teman-temannya akan berpikir bahwa dia bodoh. Image itu sebagai suatu yang sangat penting menyangkut kepercayaan diri, harga diri dan sebagainya di kalangan remaja. Kebiasaan! Nah ini yang menurut saya sangat penting. Jika sejak usia dini seorang anak sudah mulai dilatih untuk berani tampil ke muka, menyuarakan pendapatnya dan berani tampil, hal semacam ini tidak akan menjadi halangan. Hingga di sini saya mulai merenung dalam-dalam. Saya pikir ini sebagian merupakan dosa para guru dan system pendidikan! Saya akan jelaskan.
"Student will raise their hands when they speak in my class!" Kata professor Dolores Umbridge di film Harry Potter and the Order of the Phoenix. Hahaha... ini praktik yang sudah berjalan sejak entah jaman kapan. Para murid tidak diperkenankan bicara tanpa ijin. Mungkin ini maksudnya untuk mengajarkan disiplin atau tata krama. Tapi pernahkah terpikir bahwa ini salah satu bentuk praktik over-controlled class management (yang sangat tidak saya sukai)?. Ini membatasi para murid untuk mengekspresikan dirinya, membuat para siswa takut bicara, menghambat mereka untuk memecahkan telur "rasa malu", "rasa takut" dan mendukung mereka untuk bersembunyi dan mengambil kesempatan dari situasi itu untuk menguatkan alasan mereka untuk tidak tampil. Nah kalau sudah begini salah siapa? Menurut saya ini dosa para guru.
Mudah mengontrol kelas jika gurunya bertindak otoriter. Semua anak harus diam, tangan terlipat di atas meja dan hanya boleh bicara ketika disuruh. Saya mengalami ini selama bertahun-tahun di tingkat pendidikan dasar, sejak TK, SD, SMP bahkan SMA. Guru menjadi pusat, menjadi sentral dari proses belajar di kelas. Semua murid dianggap sebagai pribadi yang "seragam", cara belajar dan learning style mereka semua sama. Jika demikian, jangan harap para siswa dapat mampu mengekspresikan diri mereka; jangan harap mereka akan berkembang. Jangan harap mereka mampu mengembangkan karakter yang mumpuni. Atau kalau menggunakan istilah Smipa, jangan harap para siswa mampu meraih bintangnya! Nah, bagaimana pendapat teman-teman? Setuju jika saya berkata itu dosa guru atau dosa dari system pendidikan?
Foto credit: insight.ieeeusa.org
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1579 10 Tahun
Entah sudah berapa kali saya menulis untuk diri sendiri sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, atau mungkin hanya sekedar bertanya-tanya saja, atau hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu.Pertanyaannya sederhana, "Seperti apa saya 10 tahun lagi." Dah, itu aja!Kalau di…
joefelus00
AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20